Thursday , October 18 2018
Breaking News
Sewindu Kamisan: Payung Hitam Kembali Bayangi Istana

Sewindu Kamisan: Payung Hitam Kembali Bayangi Istana

Di bawah rintik hujan sore itu, ratusan massa berdemo di depan Istana Negara. Mereka datang menyuarakan berbagai tuntutan atas banyaknya masalah penuntasan kasus HAM yang tak kunjung selesai. Seperti aksi-aksi sebelumnya, aksi yang digelar Kamis (22/1) sore itu tetap dilengkapi payung hitam sebagai simbol gelapnya penegakan keadilan. Hari itu, merupakan Kamisan ke-Sewindu perjuangan menuntut keadilan telah berjalan.

ABI Press_Demo Menuntut Penuntasan Kasus Penculikan Aktivis 1998Di sudut lain, masih di depan Istana Negara, juga tampak ratusan demonstran menggelar aksi serupa. Mereka adalah warga Desa Sukamulya, Rumpin, Bogor yang tengah memperjuangkan hak-hak mereka. Pagar kawat berduri mengelilingi Istana dan rombongan polisi pun tampak siap berjaga di sana.

Dengan pengeras suara, terdengar beberapa orator menyampaikan beberapa tuntutan. “Kita di sini menuntut dikembalikannya seribu hektar tanah Sukamulya yang diklaim TNI AU,” seru orator terdengar dari kejauhan. Sementara itu, Neneng salah satu warga Rumpin yang turut aksi demo pada hari itu berharap pemerintah dapat bersikap tegas dan segera mengembalikan tanah mereka yang dirampas. “Ada yang pernah ditembak dan banyak yang diintimidasi gara-gara konflik tanah antar warga dengan TNI AU ini,” kata Neneng kepada ABI Press. “Kita datang sudah sejak siang tadi, panas hujan kami jalani demi hak kami terpenuhi,” pungkasnya.

Neneng dan warga Desa Rumpin serta beberapa LSM yang mendampingi telah berjuang selama delapan tahun untuk mengambil tanah mereka kembali. Bertepatan dengan aksi Kamisan yang juga telah memasuki usia delapan tahun itu.

Datang lebih awal, rombongan massa dari Rumpin pun membubarkan diri lebih awal pula, setelah sebelumnya diterima pihak pemerintah dan dijanjikan untuk difasilitasi audiensi dengan kementerian-kementerian terkait untuk menyelesaikan kasus ini.

Setelah itu aksi Kamisan pun dimulai. Berbagai orasi disampaikan. Alunan lagu tentang ‘payung hitam’ yang dibawakan grup band SIMPONI menambah hangat suasana di tengah dingin cuaca.

Di antara kerumunan massa, seorang pria tua khidmat berdiri mengikuti aksi dengan menggenggam payung hitam di tangannya. Ia adalah Efendi Saleh, salah satu korban Tragedi ’65 yang hingga kini tetap semangat ikut ‘bersuara.’ Lahir tahun 1938, 76 tahun usianya kini. Rambutnya yang mulai memutih dan kulit wajahnya yang mulai keriput menandakan dirinya tak muda lagi. Namun, semangatnya menyuarakan keadilan tak kalah dengan anak-anak muda di sekelilingnya. “Saya pernah dikejar-kejar selama 5 tahun, dan dipenjara tanpa diadili selama 10 tahun,” tutur Efendi. Kenapa begitu? Efendi menjelaskan kepada ABI Press perihal kasus yang menimpa dirinya pada sekitar tahun ’65. Ia merupakan satu dari anggota Serikat Buruh Unilever (Serbuni) yang merupakan salah satu organisasi yang memperjuangkan hak-hak buruh. “Namun, kami dituduh sebagai simpatisan PKI hanya karena kebetulan PKI visinya sama terkait hak buruh,” ungkapnya.

Efendi Saleh hanya satu dari jutaan orang yang di masa itu telah menjadi korban kekejaman penguasa. Tragisnya, nasib mereka hingga kini pun ibarat cerita pilu tak kunjung usai.

Selain di Jakarta, aksi Kamisan ini telah menyebar di beberapa kota di Indonesia seperti Bandung dan Yogyakarta. Haris Azhar selaku koordinator KontraS menjadi salah satu orator aksi itu. Melihat perkembangan aksi Kamisan di berbagai daerah menurutnya merupakan wujud upaya serius rakyat melawan ketidakadilan di negeri ini. “Di Yogya misalnya, aksi Kamisan digelar untuk menyuarakan keadilan bagi para aktivis yang didiskriminasi,” tuturnya.

“Kamisan sudah menjadi alat kita untuk menyuarakan keadilan,” kata Haris.

Sementara itu, JJ Rizal yang sering muncul namanya sebagai sejarahwan juga ikut berorasi. Menurutnya, aksi Kamisan tidak hanya aksi melawan lupa. “Tapi aksi melawan tumpulnya rasa kemanusiaan,” tuturnya.

Kata Rizal, jika seseorang sudah kehilangan rasa kemanusiaan, maka dia dapat melakukan apa saja; melakukan makar, bahkan perbuatan yang sangat biadab sekalipun. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top