Tuesday , September 17 2019
Breaking News
Sinergi Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan

Sinergi Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan

Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebentar lagi akan mengadakan Muktamar. Jika NU mengusung tema ‘Islam Nusantara’, maka Muhammadiyah mengangkat tema ‘Islam Berkemajuan’ dalam muktamarnya.

Mendiskusikan dua semangat besar NU dan Muhammadiyah ini, Ciputat School menggelar diskusi yang mempertemukan dua cendekiawan muda Nu dan Muhammadiyah, Rumadi Ahmad dan Dr. Ahmad Najib Burhani di Aula Futsal Camp, Ciputat, Tangerang Selatan Jumat (26/6) lalu.

Menurut Najib, baik ‘Islam Nusantara’ maupun ‘Islam Berkemajuan’ keduanya merupakan respon terhadap fenomena yang sama; globalisasi.

“Keduanya adalah respon yang berbeda terhadap fenomena yang sama, yaitu globalisasi. Terutama globalisasi kebudayaan, baik dalam bentuk Arabisasi maupun dalam bentuk Westernisasi,” terang Najib. “Muhammadiyah lebih fokus melawan Westernisasi, seperti jihad konstitusi, misalnya.”

Rumadi Ahmad, dalam paparannya menjelaskan bahwa ada kesadaran baru orientasi keislaman yang bukan hanya inward looking, tapi juga outward looking di tubuh NU.

“NU ingin mengubah orientasi Islam Nusantara, dari ‘importir’ menjadi ‘eksportir,’ dari ‘konsumen’ menjadi ‘produsen,'” ujar Rumadi.

“Di tengah perubahan kontes geopolitik internasional yang Islam sekarang dalam kondisi tak menguntungkan, Islam Nusantara merupakan salah satu momentum untuk mengalihkan perhatian dunia internasional bahwa ada jenis keberislaman yang khas di Nusantara ini, yang bukan Islam pinggiran, bukan Islam palsu, tapi ini The Real Islam.”

“Islam yang tidak mengajarkan kekerasan, tak bergantung pada kekuatan politik, bertumpu pada kekuatan masyarakat, dan tidak menolak ide-ide modern seperti nasionalisme dan demokrasi. Inilah Islam yang jadi penyangga keberislaman Nusantara selama ini,” ujar Rumadi.

Menanggapi adanya pihak yang mempertentangkan antara “Islam Nusantara” dan “Islam Berkemajuan,” Rumadi menyebutnya sebagai hal yang tidak produktif.

“Tidak perlu dipertentangkan, keduanya kan hasil refleksi dari masing-masing organisasi, baik NU maupun Muhammadiyah. Nanti pada ujungnya kita semua akan menikmati baik apa yang dihasilkan Muhammadiyah maupun apa yang dihasilkan NU, kan?”

Alih-alih dipertentangkan, Najib justru menyatakan Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan bisa dan harus disinergikan. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top