Thursday , November 14 2019
Breaking News
Syiah antara Fitnah dan Fakta: Apa itu Rafidhah?

Syiah antara Fitnah dan Fakta: Apa itu Rafidhah?

Salah satu hal yang sering dijadikan senjata untuk memojokkan Syiah adalah penggunaan Rafidhah. Kata ini terkadang disandingkan dengan Syiah (menjadi Syiah Rafidhah), tapi terkadang hanya digunakan sendirian (hanya Rafidhah).

Secara etimologis, Rafidhah berarti orang yang menolak atau menyempal. Tetapi, secara terminologis, makna Rafidhah sangat bias dan tidak jelas. Para sejarawan mencatat definisi yang sangat beragam terkait dengan kata Rafidhah ini. Kini kita lihat satu-persatu.

1. Ibnu Khaldun menyatakan bahwa Rafidhah adalah semua kaum Syiah di luar kelompok Zaidiyah (Syiah pengikut Imam Zaid bin Ali). Dikatakan Rafidhah, karena mereka menolak kepemimpinan Imam Zaid bin Ali.

2. Abul Hasan Al-Asy’ari berpendapat bahwa Rafidhah adalah semua orang Syiah. Dikatakan Rafidhah karena semua orang Syiah menolak khilafah Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Sikap ini didasarkan kepada keyakinan bahwa Imam Ali lebih berhak menjadi khalifah dibandingkan dengan keduanya.

3. Di dalam kitab “Maqalatul Islamiyyin” dikatakan bahwa istilah Rafidhah dikemukakan oleh Imam Zaid bin Ali yang ditujukan kepada sekelompok orang Syiah di Kufah yang mencaci-maki dan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab.

4. Ya’qubi menulis bahwa istilah Rafidhah pertama kali diperkenalkan oleh Muawiyah dalam suratnya kepada Amr bin Al-Ash dengan menyebut bahwa “Rafidhah dari Bashrah” sebagai orang-orang terpuji. Yang dimaksud Rafidhah dari Bashrah adalah sekelompok warga Bashrah yang menolak khilafah Ali bin Abi Thalib, lalu membelot kepada Muawiyah.

5. Di kitab “Al-Mahasin” diriwayatkan perkataan Imam Ja’far Ash-Shadiq bahwa julukan Raiidhah pertama kali diberikan oleh Nabi Musa kepada tujuh puluh pasukan Mesir yang membelot dari Firaun untuk kemudian bergabung dengan Nabi Musa as dan Nabi Harun as.

Kita bisa melihat, betapa sangat beragamnya pengertian Rafidhah. Karena itu, kalau kita mendengar hujatan bahwa Rafidhah (atau Syiah Rafidhah) sebagai kaum sesat, kita harus mempertanyakan terlebih dahulu: definisi mana yang mau dipakai. Jika mengikuti pendapat lbnu Khaldun, Rafidhah adalah masalah internal orang-orang Syiah; tidak ada hubungannya dengan orang-orang di luar Syiah.

Baca: Asal Muasal Tuduhan Rafidhah

Jika mengikuti definisi Al-Asy’ari yang menyatakan bahwa semua orang Syiah disebut Rafidhah karena mereka menolak atau tidak mengakui khilafah Abu Bakar dan Umar, ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah akidah. Tak ada satupun teolog Sunni yang memasukkan pengakuan khilafah kepada Abu Bakar dam Umar bin Khaththab sebagai rukun iman. Dengan demikian, sikap Rafidhah dalam pengertian seperti ini sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai alasan penyesatan kepada mereka.

Jika Rafidhah diartikan sebagai sekelompok orang yang suka mencaci-maki Abu Bakar dan Umar, memang ini jadi masalah. Akan tetapi, jika kita perhatikan riwayatnya secara seksama, akan kita dapati bahwa pertama, mereka adalah sekelompok kecil orang Syiah di Kufah. Artinya, perilaku mereka sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai representasi kaum Syiah. Kemudian, yang kedua, fakta menunjukkan bahwa yang pertama kali mengecam keberadaan kelompok Rafidhah dengan definisi seperti ini justru adalah orang Syiah sendiri, dalam hal ini adalah Imam Zaid bin Ali.

Baca: Perawi Rafidhah dalam Shahih Bukhari dan Muslim

Adapun definisi keempat dan kelima malah sama sekali tidak relevan dengan pokok pembahasan. Artinya, jika definisi keempat dan kelima ini yang dipakai, sangat aneh menyematkan gelar sesat kepada kelompok Rafidhah. Pada definisi keempat, Ratidhah justru adalah ,orang yang “keluar dari Syiah” untuk membelot kepada pihak Muawiyah. Sedangkan pada definisi kelima, Ratidhah malah memiliki konotasi yang sangat baik, yaitu para pengikut Fir’aun yang bertobat lalu menjadi pengikut Nabi Musa as. Yang pasti, dalam pengertian dua definisi terakhir ini. makna Rafidhah menjadi sangat netral, mencakup semua kelompok yang membelot dari penguasa.

Dikutip dari buku Syiah antara Fitnah dan Fakta oleh Tim Kajian IKMAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top