Tuesday , November 19 2019
Breaking News
Syiah antara Fitnah dan Fakta; Rukun Iman Berbeda?

Syiah antara Fitnah dan Fakta; Rukun Iman Berbeda?

Salah satu tuduhan berat yang dialamatkan kepada kaum Syiah adalah kesesatan akidah. Dikatakan bahwa Syiah memiliki lima rukun Iman: tauhid, ‘adalah (keadilan Allah), kenabian, imamah, dan ma’ad (hari kiamat). Sebaliknya, kaum Sunni meyakini rukun iman yang berjumlah enam: iman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada nabi-Nya. kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari akhir. Dengan demikian, dikatakan bahwa Syiah dan Sunni hanya memiliki kesamaan kepercayaan pada tiga hal saja, yaitu yang terkait dengan keimanan kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada hari akhir. Dan karena perbedaan itulah orang-orang Syiah dipandang “bukan Islam”

Betulkah demikian? Apakah perbedaan tersebut membuat kedua kelompok harus dibedakan secara agama dan keyakinan?

Pengertian Keimanan dan Rukun Iman

Keimanan secara sederhana diartikan sebagai kepercayaan terhadap hal-hal tertentu di dalam ajaran agama. Kepercayaan itu lalu memberikan konsekuensi logis berupa pengamalan. Segala hal yang dipercaya dalam konteks beragama disebut dengan keimanan. Iman kepada Allah berarti percaya akan adanya Allah sebagai Zat Pencipta dan Sesembahan kita.

Lalu apa itu rukun? Rukun artinya pilar. Jadi rukun iman berarti pilar keimanan. Pengertian ini menunjukkan bahwa ada banyak pilar atau tonggak yang menjaga agar kita tetap beriman kepada Islam. Akan tetapi, untuk memberikan panduan atau pegangan, para ulama merumuskan beberapa hal pokok dan paling penting yang harus diimani. Jadi, rukun iman adalah beberapa hal paling pokok yang dianggap sebagai pilar keimanan.

Poin pentingnya di sini: jika ada keimanan yang tidak dimasukkan ke dalam rukun iman, ini tidak berarti bahwa hal tersebut tidak wajib diimani. Kita tetap wajib mengimaninya, meskipun kita tidak menganggapnya sebagai keimanan yang paling pokok.

Contohnya, di dalam rukun iman Sunni tercantum iman kepada kitab-kitab suci, sedangkan di dalam rukun Syiah tidak tercantum. Apakah Syiah tidak mempercayai kitab suci? Tentu saja tidak demikian, Orang-orang Syiah jelas meyakini keberadaan kitab-kitab suci dan bahwa kltab-kitab suci tersebut diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasulnya. Hanya saja Syiah tidak mencantumkannya tersendiri, tapi membahas dan memasukkannya ke dalam bagian nubuwwah (kenabian), yaitu nubuwah para Nabi terdahulu, dan Nabi terakhir  Muhammad SAW.

Hal yang sama juga berlaku pada pilar keimanan kepada malaikat dan qadha/qadar. Syiah percaya bahwa malaikat ltu memang ada dan mereka masing-masing punya sejumlah tugas. Syiah juga percaya bahwa Allah punya ketetapan yang tidak mungkin bisa dilawan oleh siapapun. Hanya saja, Syiah memasukkan bahasan tentang hal ini pada bab pembahasan lain.

Ibaratnya, ada dua penulis yang sama-sama menulis buku tentang ‘sumber daya alam’. Penulis A sangat mungkin membagi pembahasan dalam 15 bab, sementara penulis lain menulis 10 bab. Oleh penulis A, topik ‘minyak bumi’ mungkin dijadikan pembahasan tersendiri di bab ke-5, sementara penulis B hanya memasukkan ‘minyak bumi’dalam salah satu sub-bab di bab 4.

Kelompok Sunni membatasi rukun iman hanya kepada enam perkara. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa Sunni tidak percaya kepada hal-hal lainnya. Ketika Sunni hanya memasukkan adanya ketetapan Allah sebagai rukun iman, bukan berarti mereka menolak sifat-sifat Allah yang lain seperti Mahatahu, Mahahidup. dan Mahaabadi. Sunni Juga tidak memasukkan kepercayaan terhadap alam kubur dan kefanaan dunia dalam rukun iman mereka, meskipun jelas sekali bahwa mereka meyakininya. Sekali lagi, sekadar tidak memasukkan suatu kepercayaan ke dalam rukun iman, bukan berarti tidak mempercayainya.

Lalu, mengapa ada banyak kepercayaan yang tidak dimasukkan ke dalam rukun iman? Mengapa orang Syiah tidak memasukkan keyakinan terhadap malaikat, keyakinan terhadap kitab, serta keyakinan terhadap qadha dan qadar ke dalam rukun iman mereka? Mengapa Sunni tidak memasukkan keyakinan terhadap sifat adil Allah ke dalam rukun iman mereka? Mengapa pula kedua mazhab itu sama-sama tidak memasukkan keyakinan-keyakinan lainnya, seperti keyakinan terhadap sifat Allah yang Mahahidup dan Mahaabadi, ke dalam rukun iman; padahal mereka juga mempercayai semua itu?

Tidak dimasukkannya semua kepercayaan ke dalam rukun iman memiliki dua alasan. Pertama, terkait dengan keringkasan. Karena sangat banyaknya hal-hal yang dipercayai dalam agama Islam, memasukkan semuanya ke dalam rukun iman akan membuat rukun iman terdiri dari deretan panjang keyakinan. lni tentu saja bertolak belakang dengan makna rukun itu sendiri. Rukun adalah hal-hal yang paling pokok. Karena itu, yang dimasukkan ke dalam rukun iman adalah hal-hal yang paling pokok dari berbagai keyakinan tersebut.

Alasan kedua, adalah demi terstrukturnya sistem kepercayaan. Kepercayaan adalah sebuah sistem yang teratur. Memasukkan segala macam kepercayaan ke dalam rukun iman akan menunjukkan kekacauan dalam sistem keyakinan itu

Muhammad Abduh: Rukun Iman Hanya Dua

Di sini, kita akan kemukakan sebuah fakta bahwa di antara para ulama Sunni sendiri ada perbedaan dalam memformulasikan rukun iman. Contohnya adalah Syaikh Muhammad Abduh.‘Baginya, pokok atau pilar keimanan itu hanya dua: iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Berikut ini kita kutip pernyataan Prof Quraish Shihab yang mengutip pemikiran Muhammad Abduh.

“Syaikh Muhammad Abduh berkata bahwa rukun iman itu yang terpenting ada dua, yakni percaya kepada Allah dan Hari Kemudian. Perinciannya, bahwa uraiah tentang Hari Kemudian tak dapat diterima oleh akal kecuali melalui utusan Allah (Rasul), sehingga kita pun perlu beriman kepada Rasul. Rasul tak mungkin mengungkapkan itu melalui nalarnya sendiri, melainkan menerimanya dari malaikat. Maka iman kepada maIaikat adalah hal yang sangat penting. Jadilah rumusan Rukun iman berkembang dari situ.

Bagaimana dengan Rukun Islam Syiah?

Kasus yang sama juga berlaku pada rukun lslam-nya orang Syiah. Isu yang dihembus-hembuskan, orang Syiah punya rukun Islam yang berbeda, yaitu: salat, puasa, zakat. haji, dan wilayah. Pertanyaannyai apakah orang Syiah tidak bersyahadat? Tentu saja mereka bersyahadat. Silakan telaah buku tuntunan cara beribadah orang-orang Syiah. Anda pasti akan mendapati bahwa pembacaan Syahadatain (dua kalimat syahadat) merupakan salah satu kewajiban di dalam salat. Syahadatain juga wajib dibaca oleh khatib salat Jumat.

Penelaahan yang seksama terbadap bab-bab fikih orang Sy‘iah (bukan hanya bersandarkan kepada ‘katanya’) akan menuntun Anda kepada pemahaman bahwa apa yang dipercayai oleh orang Sunni sebagai pilar keislaman juga dipercayai oleh orang Syiah. Orang Syiah juga percaya kepada ajaran amar makruf nahi munkar, munakahat (pernikahan), waqaf, jihad, mu’amalah. hukum warisan, thaharah, mengurus jenazah, dan lain sebagainya. Semuanya sama. Seandainyapun ada perbedaan dalam tata cara, perbedaan tersebut amat sangat sedikit. Tapi, bukankah di antara mazhab fikih Sunni sendiri (Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi) sendiri ada banyak perbedaan dalam hal tata cara beribadah?

Dikutip dari buku Syiah antara Fitnah dan Fakta oleh Tim Kajian IKMAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top