Wednesday , December 11 2019
Breaking News
Syiah & Sunnah: Sumber Syariat Islam dalam Dua Mazhab [4/4]

Syiah & Sunnah: Sumber Syariat Islam dalam Dua Mazhab [4/4]

Ijtihad

a. Ijtihad Secara Linguistik

Pembahasan sebelumnya Syiah & Sunnah: Sumber Syariat Islam dalam Dua Mazhab [1/4]

Ibn Al-Atsîr berkata: “Ijtihad adalah mengerahkan segala upaya untuk mendapatkan sesuatu. Kata ini adalah bentuk wazan ifti‘âl dari kosa kata juhd yang berarti daya.” [1]

Kata ini digunakan dalam arti tersebut pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat hingga penghujung abad pertama (Hijriah).

Berkenaan dengan hal ini ada beberapa hadis yang telah diriwayatkan dari Rasulullah SAW berikut ini:

  • Adapun pada saat sujud, maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa, karena doamu pada saat itu akan dikabulkan. [2]
  • Kirimkanlah salawat kepadaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. [3]
  • Keutamaan orang alim atas orang yang selalu bersungguh-sungguh (untuk beribadah) adalah seratus derajat. [4]

Diriwayatkan dari Muhammad Al-Qurazhî: “Di kalangan Bani Israil terdapat seorang faqih yang alim dan seorang abid yang selalu bersungguh-sungguh (untuk beribadah).” [5]

Diriwayatkan dari ‘Aisyah: “Rasulullah saw. senantiasa bersungguh-sungguh (dalam beribadah) pada sepuluh malam terakhir di mana beliau tidak bersungguh-sungguh seperti itu pada malam-malam selainnya.” [6]

Dalam hadis Thalhah tentang dua orang yang hidup pada masa Rasulullah SAW disebutkan: “Salah seorang dari mereka lebih bersungguhsungguh daripada yang lain. Kemudian ia mengikuti perang dan syahid.”[7]

Diriwayatkan dari Abu Sa‘îd: “Jika Rasulullah saw. bersumpah dan bersungguh-sungguh dalam sumpahnya, beliau berkat ….” [8]

Pada peristiwa perang Bani Mushthaliq, diriwayatkan dari Abdullah bin Ubay: “Beliau bersungguh-sungguh melaksanakan sumpahnya.” [9]

Ketika seorang sahabat wanita yang bernama Ummu Hâritsah bertanya tentang anaknya kepada Rasulullah saw., ia berkata: “Jika ia berada di dalam surga, maka aku akan bersabar dan jika selain itu, aku akan bersungguhsungguh menangisinya.” [10]

Dari contoh-contoh tersebut dan hadis-hadis serupa lainnya yang serupa dengannya, kita dapat mengetahui bahwa arti yang dapat dipahami dari ijtihad pada abad pertama adalah mengerahkan segala daya dan upaya (untuk mendapatkan sesuatu). Setelah itu, arti kata ijtihad ini berkembang di kalangan muslimin dan menurut istilah mereka, kata itu mengindikasikan usaha untuk menyimpulkan hukum-hukum syariat dari dalil-dalilnya yang terperinci.

b. Ijtihad Menurut Terminologi Muslimin

Dalam mendefinisikan ijtihad, Al-Ghazâlî berkata: “Ijtihad adalah mengerahkan segala daya dan upaya dalam sebuah aktivitas. Kata ini tidak digunakan kecuali dalam aktivitas yang memerlukan usaha keras dan upaya (yang harus dikerahkan) … Akan tetapi, lambat laun kata ini— di dalam tradisi (‘urf) para ulama— digunakan secara khusus dalam usaha seorang mujtahid untuk mengerahkan segala daya dan upayanya demi mengetahui hukum-hukum syariat ….” [11]

Ad-Dihlawî berkata: “Hakikat ijtihad adalah mengerahkan segala daya dan upaya untuk mendapatkan hukum-hukum syariat dari dalil-dalilnya yang terperinci—yang secara global adalah kitab, sunah, ijmâ‘, dan qiyâs.” [12]

Muhammad Amin juga mendefinisikan dalil-dalil hukum-hukum syariat demikian dalam bukunya, Taisîr At-Tahrîr. [13]

Inilah arti ijtihad yang terdapat di kalangan para pengikut mazhab Khulafâ’, dan istilah ini juga tersebar di kalangan para ulama pengikut mazhab Ahlulbait as. setelah abad kelima Hijriah. Hal ini disebutkan dalam buku Mabâdi’ Al-Wushûl, karya ‘Allâmah Al-Hillî (wafat 726 H.), pasal kedua belas, pembahasan pertama tentang ijtihad —yang ringkasan-nya— adalah sebagai berikut: “Ijtihad adalah mengerahkan segala daya dan upaya dalam rangka mencari hukum-hukum syariat yang bersifat zhannî (tidak pasti) dengan cara yang tidak berlebihan.

Ijtihad ini tidak dibenarkan bagi Nabi saw. lantaran beberapa hal:

a. Allah swt. berfirman, ‘Dan ia tidak berbicara atas dasar [dorongan] hawa nafsu.’ (QS. An-Najm [53]:4)
b. Ijtihad hanya menghasilkan prasangka (zhann), sedangkan beliau mampu menerima hukum syariat dari wahyu (secara langsung).
c. Dalam menentukan banyak hukum, beliau selalu menahan diri (untuk mengutarakan pendapat) sampai wahyu datang. Seandainya ijtihad diperkenankan bagi beliau, niscaya beliau akan melakukannya.
d. Seandainya ijtihad diperbolehkan bagi beliau, niscaya hal itu juga diperbolehkan atas malaikat Jibril as., dan hal ini akan menutup pintu keyakinan bahwa seluruh ajaran yang telah dibawa oleh Muhammad SAW berasal dari Allah Swt.
e. Ijtihad bisa betul dan juga bisa salah. Dengan demikian, tidak boleh kita menerima seluruh sabda beliau secara ta‘abbudî, karena ijtihad dapat menghilangkan kepercayaan terdapat sabda beliau.

Begitu juga, tidak diperbolehkan—menurut pendapat kami—setiap imam ma‘shûm as. berijtihad, karena mereka adalah ma‘shûm (terjaga dari dosa dan kesalahan) dan mereka hanya mengambil hukum-hukum syariat dari pengajaran Rasulullah SAW.

Adapun para ulama, diperbolehkan bagi mereka untuk berijtihad dengan cara menyimpulkan hukum-hukum syariat dari dalil-dalil umum yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan sunah dan dengan cara menguatkan (tarjîh) satu dalil di antara dalil-dalil yang saling bertentangan. Adapun dengan cara menyimpulkan hukum dengan jalan qiyâs dan istihsân, maka hal ini tidak diperbolehkan.”[14]

Kita juga melihat ketika para ulama mazhab Ahlulbait as menggunakan istilah ‘ijtihad’ dan ‘mujtahid’, mereka tidak meninggalkan istilah ‘fiqih’ dan ‘faqih’. Tetapi, mereka menggabungkan kedua istilah tersebut, sebagaimana hal itu dilakukan oleh Jamâluddîn, penulis buku Al-Ma‘âlim. Ia berkata di permulaan bukunya—seperti telah kita ketahui bersama: “Dalam bahasa, fiqih adalah pemahaman, dan dalam istilah, adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat furû‘uddîn dari dalil-dalilnya yang terperinci.”

Setelah itu, ia membuka sebuah pasal khusus untuk mendefinisikan ijtihad. Pada pasal yang lain ia menulis: “Di dalam bahasa, ijtihad adalah mengerahkan seluruh daya dan upaya …, dan di dalam istilah, ijtihad adalah mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk mendapatkan sangkaan tentang hukum syariat ….” [15]

Dengan memperhatikan pembahasan-pembahasan sebelumnya, kedua mazhab berbeda pendapat tentang sebagian dalil-dalil hukum syariat, sebagaimana akan kami paparkan pada pembahasan mendatang, insyâ-Allah.

Setelah kita mempelajari kelima istilah itu, kita akan menelaah pandangan kedua mazhab berkenaan dengan masing-masing istilah-istilah tersebut pada pembahasan berikut ini.

Sayyid Murtadhâ Al-‘Askarî, dalam bukunya Syiah dan Ahli Sunnah

Catatan Kaki

  1. Mabâdi’ Al-WUshûl ilâ ‘Ilm Al-Ushûl, hal. 240-241.
  2. Ma‘âlim Ad-Dîn, pembahasan kesembilan tentang ijtihad dan taklid, hal. 381.
  3. Nihâyah Al-Atsar, karya Ibn Al-Atsîr, kata جهد
  4. Shahîh Muslim, kitab Ash-Shalâh, hadis ke-207; Musnad Ahmad, jil. 1, hal. 219.
  5. Sunan An-Nasa’î, bab Al-Amr bi Ash-Shalâh ‘alâ An-Nabi, jil. 1, hal. 190; Musnad Ahmad, jil. 1, hal. 199, dengan disebutkan secara ringkas.
  6. Al-Muqaddimah Sunan Ad-Dârimî, jil. 1, hal. 100.
  7. Muwaththa’ Mâlik, kitab Al-Janâ’iz, hadis ke-43.
  8. Shahîh Muslim, kitab Al-I‘tikâf, hadis ke-8; Sunan Ibn Mâjah, kitab Ash-Shiyâm, hadis ke-1767.
  9. Sunan Ibn Mâjah, kitab Ar-Ru’yâ, hadis ke-3925; Musnad Ahmad, jil. 1, hal. 163, jil. 2, hal. 323 dan 363, jil. 6, hal. 82, 123, dan 256, dan jil. 5, hal. 40.
  10. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 33 dan 148.
  11. Shahîh Al-Bukhârî, kitab At-Tafsir, tafsir surat Al-Munafiqun, jil. 3, hal. 136; Shahîh Muslim, kitab Al-Munafiqun, hadis ke-1; Musnad Ahmad, jil. 4, hal. 373.
  12. Shahîh Al-Bukhârî, kitab Al-Jihâd, jil. 2, hal. 92; Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 260 dan 283.
  13. Al-Mushtashfâ fî Ushûl Al-Fiqh, karya Abu Hâmid Muhammad Al-Ghazâlî (wafat 505 H.), cet. Mushthafâ Al-Bâbî, Mesir, tahun 1356 H., jil. 2, hal. 101. Silakan Anda rujuk biografinya dalam buku Kasyf Azh-Zhunûn, jil. 2, hal. 1673, dan rujuk juga Al-Ahkâm, karya Al-Âmidî, jil. 4, hal. 141.
  14. Pendapat ini dinukil oleh Muhammad Farîd Wajdî di dalam Dâ’irah Ma‘ârif Al-Qarn Al-‘Isyrîn, jil. 3, hal. 236 dari sebuah makalah berjudul Al-Inshâf fî Bayân Al-Ikhtilâf, karya Ahmad bin Abdurrahim Ad-Dihlawî Al-Fârûqî Al-Hanafî, seorang ahli hadis dan faqih (wafat 1176 atau 1179 H.). Biografinya terdapat dalam buku, karya Az-Zarkulî, jil. 1, hal. 144.
  15. Buku aslinya berjudul At-Tahrîr fî Ushûl Al-Fiqh, karya ‘Allâmah Kamâluddîn Muhammad bin Abdul Wâhid yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hamâm Al-Hanafî (wafat 861 H.). Buku ini telah disyarahi oleh muridnya, Al-Fâdhil Muham-mad bin Muhammad bin Amirul Hâj Al-Halabî Al-Hanafî (wafat 879 H.), dan syarah ini juga disyarahi oleh Muhammad Amin yang lebih dikenal dengan nama Amir Badsyâh Al-Bukhârî, yang berdomisili di Mekkah dan memberinya judul Taisîr At-Tahrîr. Dalam, hal ini, kami telah merujuk cet. Mushthafâ Al-Bâbî. Mesir, tahun 1351 H., jil. 1, hal. 171. Silakan Anda rujuk biografi mereka dalam buku Kasyf Azh-Zhunûn, jil. 2, hal. 358.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top