Saturday , October 19 2019
Breaking News
Tafsir Surah al-Fatihah [2/2]

Tafsir Surah al-Fatihah [2/2]

الرحمن الرحيم

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Allah yang kita imani ialah manifestasi kasih sayang, cinta, maaf dan ampunan. Contoh-contoh rahmat dan cinta-Nya terdapat di dalam nikmat-nikmat-Nya yang amat banyak tak terhingga yang Ia ciptakan untuk kita. Bunga-bunga yang indah berbau harum, buah-buahan yang manis dan lezat rasanya, berbagai bahan makanan yang lezat dan penuh energi, bahan-bahan pakaian yang beraneka warna, semua dan semua merupakan hadiah-hadiah Allah kepada kita.

Pembahasan sebelumnya Tafsir Surah al-Fatihah [1/2]

Cinta ibu kepada anaknya Ia tanamkan di dalam hati dan jiwa ibu kita sedangkan Allah sendiri memiliki cinta yang jauh lebih besar daripada cinta para ibu terhadap anak-anak mereka. Kemurkaan dan siksaannya pun datang dari tindakan Allah yang bertujuan memperingatkan dan adanya perhatian Allah terhadap kita. Bukannya karena sifat dendam atau niat menuntut balas.

Oleh karena itu, jika kita bertaubat dan menutupi kesalahan yang kita lakukan, maka Allah pasti akan mengampuni dan menghapus kesalahan dan dosa kita. Dari Ayat ini dapat kita ambil pelajaran sebagai berikut yaitu bahwa Allah selalu mendidik dan memelihara segala yang maujud ini dengan rahmat dan kasih sayang, karena di samping sifat-Nya sebagai Rabbul ‘Âlamîn, penguasa dan pemelihara seluruh Alam. Ia juga menyebut dirinya sebagai Ar-Rahmân Ar-Rahîm, Maha pengasih dan maha penyayang.

Oleh karena itu, jika para pengajar dan pendidik ingin mendapatkan sukses, maka mereka harus bekerja berdasarkan mahabbah dan kasih sayang.

مالك يوم الدين

“Pemilik hari pembalasan.”

Kata-kata Dîn berarti mazhab atau agama, juga berarti pembalasan. Adapun yang dimaksudkan dengan Yaumiddîn ialah Hari Kiamat yang merupakan hari perhitungan pemberian pahala dan pembalasan.

Meskipun Allah SWT adalah pemilik dan penguasa dunia sekaligus pemilik Akhirat, namun kepemilikan dan kekuasaan-Nya di Hari Kiamat memiliki bentuk yang berbeda. Di hari itu tak ada siapa pun yang menguasai sesuatu. Harta kekayaan dan Anak-anak sama sekali tidak memiliki peran. Sahabat dan kerabat tak memiliki kekuasaan apapun.

Bahkan seseorang tidak memiliki kekuasaan terhadap anggota tubuhnya sendiri. Lidah tak diizinkan untuk mengucapkan permohonan ampun. Tidak pula pikiran memiliki kesempatan untuk berpikir. Hanya Allah yang memiliki kekuasaan penuh di hari itu.

Dari Ayat ini terdapat beberapa hal yang boleh kita ambil sebagai pelajaran:

a. Di samping harapan akan rahmat Allah yang tak terbatas sebagaimana yang dipaparkan dalam ayat sebelumnya, kita juga harus merasa takut akan perhitungan dan pembalasan hari Kiamat.

b. Dengan iman kepada hari Kiamat, maka kita tak perlu cemas bahwa perbuatan-perbuatan baik kita tak akan memperoleh balasan atau pahala.

c. Allah SWT maha mengetahui segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan dan ia memiliki kemampuan untuk memberikan balasan maupun pahala.

إياك نعبد و إياك نستعين

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan”.

Di dalam ayat-ayat yang lalu Allah telah kita kenal bahwa Ia itu Rahmân dan Rahîm serta Rabbul `Âlamîn, juga Mâliki Yaumiddîn. Sementara oleh karena kehebatan ciptaan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung yang Ia curahkan kepada kita, maka kita mengucapkan syukur dan pujian kepadanya dengan mengatakan Alhamdulillâhi Rabbil `Âlamîn.

Sudah sepatutnyalah jika sekiranya kita menghadapkan diri kita kepadanya dan seraya mengatakan ketidakmampuan dan kelemahan kita, maka kita juga mengatakan bahwa kita adalah hamba-hamba-Nya yang tulus dan hanya dihadapan perintah-Mu Ya Allah, bukan di hadapan perintah-perintah selain-Mu kami menundukkan kepala. Kami bukan hamba-hamba Emas dan kekayaan duniawi juga bukan budak-budaknya kekuatan dan kekuasaan imperialis.

Karena salat yang merupakan manifestasi Ibadah dan penyembahan Tuhan dikerjakan secara berjamaah, maka umat Islam satu suara di dalam satu barisan secara kompak menyatakan bahwa“iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în”. Ya Allah, bukan hanya aku, tetapi semua kami adalah hamba-hamba-Mu dan kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Ya Allah, bahkan ibadah yang kami lakukan ini pun adalah berkat pertolongan-Mu. Jika Engkau tidak menolong kami, maka kami pasti akan menjadi hamba dan budak selain-Mu.

Dari ayat mulia ini hal-hal berikut dapat kita ambil sebagai pelajaran:

a. Meskipun undang-undang yang menguasai alam-alam materi dan formula-formula fisika dan kimia kita yakini, namun semua itu berada di bawah kekuasan Allah dan kehendak-Nya. Oleh karena itu, kita adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah, bukannya kepada alam dan hanya kepada Allahlah kita memohon bantuan bahkan dalam urusan materi sekalipun.

b. Jika di dalam setiap salat dengan sepenuh hati dan khusyuk kita nyatakan bahwa kita hanya menghambakan diri kepada Allah, maka kita tak akan menjadi orang-orang yang congkak dan sombong.

اهدنا الصراط المستقيم

Kini kita menjulurkan tangan kepada-Nya dan memanjatkan doa sebagai berikut:”Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Untuk kehidupan manusia terdapat bermacam-macam jalan. Jalan yang ditentukan sendiri oleh manusia berdasarkan keinginan dan tuntutan-tuntutan pribadi, jalan yang dilalui oleh masyarakat dan rakyat, jalan yang dilewati oleh orang-orang tua dan orang-orang bijak kita, jalan yang digariskan untuk masyarakat oleh para taghut dan penguasa lalim, jalan kelezatan lahiriyah duniawi, atau jalan ‘uzlah(pengasingan diri) dari segala bentuk aktifitas sosial.

Apakah manusia, di antara sekian banyak jalan dan berbagai cara hidup, tidak memerlukan petunjuk untuk dapat menemukan jalan yang benar dan lurus? Allah telah mengutus para Nabi dan menurunkan Kitab-kitab samawi. Dan hidayah kita terletak di dalam ketaatan dan kesungguhan kita dalam mentaati Rasul Allah, Ahlul Bait dan Al-Quran.

Oleh karena itu, maka di dalam setiap salat, kita memohon kepada Allah agar menunjuki kita jalannya yang terang dan lurus. Jalan yang tak berkelak-kelok dan tak bergelombang naik turun.

Jalan lurus adalah jalan tengah dan moderat. Jalan yang lurus berarti jalan kesimbangan dan kemoderatan di dalam segala urusan, dan keterjauhan dari segala bentuk ekstrimitas. Sebagian orang dalam menerima pokok-pokok akidah, mengalami penyimpangan, sementara sebagian yang lain dalam amal perbuatan dan akhlak, dan yang lain menisbahkan segala perbuatan kepada Allah, sehingga menurut mereka manusia tak lagi memiliki kehendak atau peran dalam menentukan nasib sendiri; sedangkan orang lain ada pula yang menganggap dirinyalah yang menentukan segala urusan dan setiap pekerjaan, sehingga menurut mereka Allah SWT tak lagi memiliki peran sama sekali dalam hal itu.

Sebagian orang kafir menganggap para pemimpin Ilahi sebagai manusia-manusia biasa, bahkan lebih rendah lagi, sebagai orang-orang yang gila. Sementara sebagian orang yang mengaku beriman menganggap beberapa Nabi, seperti Nabi Isa as sedemikian tinggi sehingga mencapai batas ketuhanan. Pemikiran dan perlaku-perilaku semacam ini menunjukkan penyimpangan dari jalan yang lurus, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan Ahlulbait as.

Alquran juga memerintahkan kita agar menjaga keseimbangan dan jalan tengah dalam urusan-urusan ibadah, perekonomian dan sosial. Beberapa ayat berikut ini adalah beberapa contoh yang akan kita tampilkan.

Di dalam ayat 31 surah Al-A’raf, Allah SWT berfirman, “Makanlah dan minumlah, akan tetapi janganlah kalian berlebihan”.

Di dalam ayat 110 surah Al-Isrâ`, disebutkan, “Janganlah kalian meninggikan bacaan salat kalian dan janganlah memelankannya; carilah jalan tengah diantara keduanya”.

Demikian pula di dalam ayat 67 surah Al-Furqân, kita membaca, “Dan orang-orang yang menafkahkan harta, tidak berlebihan dan tidak pula terlalu kikir, mereka mengambil jalan tengah di antara keduanya”.

Meskipun Islam sangat menekankan agar anak berbakti dan berlaku baik terhadap kedua orang tua, dan berkata, “Wabil wâlidaini ihsânâ” (dan berbuatlah baik kepada kedua orang tua), namun di samping itu, Al-Quran juga berfirman, “Falâ tuthi’humâ” (janganlah engkau mentaati keduanya). Yaitu ketika kedua orang tua mengajak kepada perbuatan tidak baik.

Kepada orang yang hanya mengejar ibadah seraya mengasingkan diri dari masyarakat, atau orang yang beranggapan bahwa mengabdi kepada rakyat adalah satu-satunya ibadah, Al-Quran mengajukan salat dan zakat bergandengan dan mengatakan, “Aqîmush sholâta wa âtuz zakâh” (Dirikanlah salat dan keluarkanlah zakat).

Kita tahu bahwa salat adalah hubungan antara makhluk dengan Khâliq, sedangkan zakat adalah hubungan antara sesama makhluk. Orang-orang beriman yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki dua unsur sekaligus yaitu daya tolak dan daya tarik. Di dalam ayat terakhir Surah Al-Fath, Allah SWT berfirman, “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersifat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama mereka”.

Adapun beberapa poin yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari ayat ke-6 ini ialah:

a. Jalan kebahagiaan adalah jalan yang lurus yaitu shirâtul mustaqîm, karena:

  • Pertama, jalan Allah yang lurus bersifat tetap, berbeda dengan jalan-jalan atau cara hidup, yang dibuat oleh manusia, yang setiap saat berubah-ubah.
  • Kedua, sementara itu, jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus, yang merupakan sebuah jalan, tak lebih, dan sama sekali tak memiliki kelokan dan tanjakan, sehingga dalam waktu yang paling singkat ia akan membawa manusia sampai ke tujuan.

b. Pesan lainnya ialah dalam memilih jalan juga dalam berusaha bertahan untuk tetap berada di atas jalan yang lurus, kita harus memohon pertolongan dari Allah. Karena kita selalu berada dalam ancaman kekeliruan dan ketersesatan. Dan jangan dikira bahwa jika selama ini kita tak pernah mengalami kesesatan dan penyimpangan lalu kita akan selamanya berada di atas jalan kehidupan yang lurus. Betapa banyak diantara kita, manusia, yang telah melewati sebagian umurnya dengan iman, namun ketika telah memperoleh kekayaan atau pengkat kedudukan, maka ia melupakan Allah.

Karena pengenalan jalan yang lurus adalah pekerjaan yang sulit, maka ayat selanjutnya mengajukan teladan-teladan bagi kita agar kita dapat mencontohi mereka dalam rangka menemukan jalan lurus ini. Juga orang-orang yang menyimpang dari jalan ini, agar kita jangan ikut tersesat seperti mereka.

صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

“yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat”.

Dalam memilih jalan kehidupan, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama ialah orang-orang yang memilih jalan Allah, dan meletakkan kehidupan pribadi dan masyarakat mereka di atas dasar undang-undang dan perintah-perintah yang telah Allah jelaskan di dalam Kitab-Nya. Golongan ini selalu tercakup oleh rahmat dan nikmat Ilahi yang khusus.

Golongan kedua berada di dalam keadaan yang berlawanan dengan golongan pertama. Mereka ini, meskipun mengetahui adanya kebenaran, namun tetap saja menolak Allah bahkan lari menuju kepada selain-Nya. Mereka ini lebih mengutamakan hawa nafsu mereka, keinginan-keinginan ilegal orang-orang dekat dan keluarga serta masyarakat mereka dari pada keinginan dan kehendak Allah SWT.

Kelompok ini secara perlahan memperlihhatkan akibat-akibat perbuatan dan perilaku mereka di salam keberadaan mereka. Sedikit demi sedikit mereka menjauh dari shirâthul mustaqîm; dan bukannya menuju ke arah Allah SWT dan mendapat rahmat-Nya, mereka terperosok ke jurang kesengsaraan dan kesusahan, serta menjadi sasaran kemurkaan dan kemarahan Ilahi, yang disebut oleh ayat ini sebagai orang yang “maghdhûbi alaihim”, orang-orang yang dimurkai.

Sementara itu, kelompok ketiga ialah orang-orang yang tidak memiliki jalan yang jelas dan tertentu. Mereka itu orang-orang yang bingung dan tidak mengerti. Di dalam ayat ini mereka disebut sebagai orang-orang yang “dhôllîn”, orang-orang yang sesat.

Di dalam setiap salat, kita menyerukan: Ihdinash shirôtol ………

Artinya: Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan yang dilalui oleh para Nabi, Auliya, orang-orang suci dan orang-orang yang lurus. Mereka yang selalu berada di bawah curahan rahmat dan nikmat-nikmat khusus-Mu. Dan jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang telah menyimpang dari kemanusiaan dan menjadi sasaran kemurkaan-Mu, juga dari jalan orang-orang yang kebingungan dan sesat. Sampai di sini muncul pertanyaan sebagai berikut: siapakah orang-orang yang dimurkai dan sesat itu?

Orang-orang yang Dimurkai dan Sesat

Untuk menjawab pertanyaan ini, harus kita katakan bahwa di dalam Alquran banyak orang dan kaum yang disebut dengan sebutan di atas. Di sini kita akan singgung salah satu contohnya yang jelas dan nyata.

Bani Israil, yang sejarah kehidupan mereka sejak berada di bawah kekuasaan Fir’aun hingga mereka terselamatkan oleh Nabi Musa as, telah dijelaskan di dalam Al-Quran, pada suatu masa pernah memperoleh rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga, berkat ketaatan mereka terhadap perintah-perintahn-Nya. Bahkan Allah telah melebihkan mereka dari segenap kaum di muka bumi ini. Hal itu dapat kita baca di dalam ayat 47 surah Al-Baqarah yang berfirman, “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian dan bahwa Aku telah mengutamakan kalian di atas segenap penghuni seluruh alam”.

Akan tetapi, disebabkan perbuatan dan tingkah mereka, maka Bani Israil ini juga telah tertimpa murka Ilahi. Dalam hal ini Allah berfirman, “Wa bâ`û bi ghodhobim minallôh”, (mereka pun tertimpa murka Allah). Karena mereka itu “yuharrifûnal kalim” (yaitu ulama-ulama Yahudi suka mengubah-ubah ajaran-ajaran samawi di dalam Kita Taurat), juga “wa’aklihimur ribâ”, (kesukaan mereka memakan uang hasil riba), dan perbuatan-perbuatan haram lainnya.

Masyarakat umum Yahudi pun sudah suka memburu kesenangan duniawi dan sudah terbiasa dengan kemewahan hidup; sehingga membuat mereka tidak lagi bersedia membela agama dan tanah air. Ketika Nabi Musa mengajak mereka agar berjuang mengusir penjajah dari tanah ari mereka, mereka berkata, “Fadzhab anta wa Robbuka faqôtilâ innâ hâhunâ qô’idûn” (pergilah engkau dan Tuhanmu untu berperang. Adapun kami akan menunggu di sini).

Orang-orang yang baik di antara kaum Yahudi ini juga diam tanpa berbuat suatu apa pun menghadapi kesesatan dan penyimpangan ini. Akibatnya, kaum ini terperosok ke jurang kehinaan padahal sebelumnya mereka berada di puncak kemuliaan.

Beberapa hal berikut ini dapat kita ambil sebagai pelajaran dari ayat yang telah kita pelajari ini:

a. Dalam memilih jalan yang lurus, kita memerlukan teladan yang telah disebutkan oleh Allah di dalam ayat 69 surah An-Nisâ`, yaitu para Nabi, shiddîqîn (yaitu orang-orang yang membenarkan),shuhadâ dan saleh, yang merupakan orang-orang yang selalu mendapat rahmat dan ‘inâyah serta nikmat-nikmat khusus Allah SWT.

b. Pelajaran lain yang dapat kita ambil ialah bahwa meskipun segala sesuatu yang datang dari Allah SWT merupakan nikmat-nikmat, namun kemurkaan Allah akan datang menimpa kita karena perbuatan-perbuatan maksiat kita. Oleh karena itu, berkenaan dengan nikmat Ilahi, Alquran berfirman, “an’amta”, (Engaku telah memberi nikmat). Sedangkan ketika berbicara tentang kemurkaan, Alquran tidak mengatakan, “ghodhibta”, (Engkau telah murkai). Akan tetapi, AlQuran mengatakan, “maghdhûbi alaihim”. Kata ini adalah sifat, yang menunjukkan lebih kekalnya kemurkaan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top