Saturday , July 11 2020
Breaking News
Tafsir Surat Al-Ikhlas [bag 1]

Tafsir Surat Al-Ikhlas [bag 1]

Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Katakanlah, ”Dialah, Allah, Tuhan Yang Maha Esa. (1) Allah, Yang Mahaabadi (tidal: bergantung). (2) la tidak beranak, tidal: pula diperanakkan. (3) Dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”. (4)

TAFSIR

Ayat pertama surah ini merupakan satu jawaban atas pertanyaan yang diajukan berulang-ulang oleh banyak orang dari pelbagai kelompok atau suku-suku yang menanyakan perihal sifat-sifat dan identitas Allah. Jawaban itu ialah: Katakanlah, ”Dialah, Allah, Tuhan Yang Maha Esa.”

Ayat itu dimulai dengan istilah Arab huwa, Dia, yakni kata ganti orang ketiga tunggal dan merujuk pada sesuatu yang diketahui seluruhnya, tetapi bersifat ambigu dan tidak diidentifikasi dengan apapun, sebagai lawan dari istilah kata ganti orang pertama tunggal, yakni ’aku’ dalam referensi yang umum digunakan. Sesungguhnya hal ini merupakan sebuah kode perujukan pada fakta, bahwa Wujud-Nya Yang Suci tersembunyi dan tak satu pun pemikiran atau imajinasi manusia yang sanggup menyentuh-Nya, sekalipun tanda-tanda Eksistensi-Nya telah memenuhi dunia secara total, lebih jelas dan bening daripada apapun. Fakta ini terkandung dalam Surah Fushshilat:53, Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di ufuk (dunia), dan pada diri mereka sendiri hingga menjadi jelas bagi mereka bahwa Dia adalah Yang Mahabenar…

Dengan demikian, ayat ini menjelaskan fakta yang tidak diketahui itu dengan mengatakan bahwa ”Allah itu Maha Esa. ” 

Sementara, kata qul di sini berarti ”ungkapkanlah kebenaran ini dan katakan kepada yang lainnya.”

Sebuah hadis dari Imam Muhammad bin Ali al-Baqir as menyatakan, setelah menyampaikan pernyataan tauhid ini ia berkata, ”Kaum musyrik dan penyembah berhala menunjuk berhala-berhala mereka dengan menggunakan kata ganti demonstratif dan berkata, ’Wahai Muhammad, inilah tuhan-tuhan kami yang bisa dilihat. Engkau juga harus menjelaskan Tuhanmu sehingga kami bisa melihat dan memahami.’ Kemudian Allah menurunkan ayat-ayat ini: Katakanlah, ”Dialah, Allah, Tuhan Yang Maha Esa.” Huruf h dalam kata huwa menunjukkan pembenaran akan hal ini dan menjadikannya sebagai hal penting. Dan huruf w adalah kata ganti orang ketiga yang menunjukkan pengertian bahwa ia tersembunyi dari pandangan mata dan ia di luar batas sentuhan indrawi.” 1

Dalam hadis lain, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, ”Pada malam menjelang Perang Badar aku melihat Nabi Khidhir dalam mimpiku. Aku meminta kepadanya sesuatu yang dengannya aku akan menaklukkan musuh-musuh. Ia berkata kepadaku, ’Katakanlah ya hu ya man Ia huwa illa hu (wahai Dia, Wahai Zat yang tiada dia selain Dia). Esok paginya, aku menyampaikan apa yang aku alami semalam kepada Rasulullah saw dan beliau berkata, ’Wahai Ali, engkau telah diajari nama teragung Allah.’ Itu sebabnya, aku mengulang-ulang membaca kalimat ini dalam Perang Badar.” 2

Ammar bin Yasir mendengar bahwa Ali bin Abi Thalib as membaca lafaz tadi sebagai kebiasaan. Ketika Ammar turut berjihad dalam Perang Shiffin, ia bertanya kepadanya gerangan apakah itu. Ali as menjawab, ”Itulah nama teragung (Allah) (ah ism al-a’zham) dan tiang tauhid.” 3

Allah adalah kata ganti milik bagi Tuhan, dan makna dalam ucapan Imam Ali as adalah bahwa dalam kata tersebut terkumpul semua sifat karunia dan keagungan-Nya. Itulah sebabnya ungkapan tersebut dinamakan ”nama-nama teragung”.

Kata atau nama yang pantas ini tidak digunakan kepada sesuatu selain Tuhan, sementara nama-nama Allah lainnya biasanya merujuk pada salah satu sifat keindahan dan keagungan-Nya yang acap kali juga digunakan untuk selain DiriNya.

Akar dari kata ’Allah’ ini disebutkan secara berbeda-beda yakni: ilahat, alahah, alilahah, ilah, walih. Meskipun demikian, kata ’Allah’–dari manapun akar katanya-telah digunakan sebagai sebuah kata benda yang cocok yang diterapkan kepada ”Wujud yang mesti ada dengan Diri-Nya sendiri yang mengandungi semua sifat kesempurnaan; suatu nama yang cocok yang menyatakan tuhan hakiki, memuat seluruh keutamaan, nama-nama suci; suatu kesatuan yang memiliki semua intisari benda-benda dan segala sesuatu yang ada.”

Nama sakral ini disebutkan dalam al-Quran suci hampir seribu kali, yakni lebih banyak daripada nama lain dari Nama Suci-Nya. Nama ini memberi cahaya dalam hati kita, menjadikan kita teguh dan tenang, serta mengantarkan kita pada sebuah dunia yang penuh kesucian dan kedamaian.

Kata ahad adalah turunan dari kata wahdah. Sebagian orang percaya bahwa ahad dan wahid punya arti yang sama dalam banyak kasus. Dalam hal ini, ahad bisa saling dipertukarkan dengan wahid ketika kata ini digunakan sebagai julukan yang diterapkan pada Allah. Sebab al-ahad, sebagai suatu julukan, hanya diterapkan kepada Allah saja, dan menandakan ’Yang Maha Esa’; Ruh; Dia yang senantiasa sendiri dan hanya satu; atau Tak bisa dibagi-bagi; atau Dia yang tak punya kedua (untuk berbagi) dalam ketuhanan-Nya, ataupun dalam Zat-Nya, ataupun dalam Sifat-sifat-Nya.

Siapapun bisa mengatakan huwa al-wahid dan huwa al-ahad, dalam pola sejenis, al-ahad tanpa menggunakan artikel (al) digunakan sebagai julukan, khususnya berkaitan dengan Allah. la bisa saling dipertukarkan, dalam hal ini (namun tidak dalam hal-hal lain), dengan wahid. Dalam ayat ini ahad merupakan suatu pengganti bagi Allah, persis seperti suatu kata benda tak tentu yang kadang-kadang menjadi pengganti untuk sebuah kata benda tentu.

Akan tetapi, sebagian penafsir lain berpendapat, bahwa ada perbedaan luas antara kata Arab ini, ahad dan wahid, dimana umumnya dua kata tersebut dianggap bermakna ”keesaan”. Untuk menunjukkan keesaan Allah, dikatakan dalam ayat ini, bahwa Tuhan adalah Allah, yakni Maha Esa; Maha Esa dalam arti keesaan mutlak dari Eksistensi Zat-Nya, bukan dalam arti bilangan dari kata ’satu’ yang mempunyai kedua dan ketiga. la adalah Satu yang tak punya kedua dan ketiga.

Ungkapan Satu (Maha Esa) wujud maknanya adalah ’HANYA’ dan, dalam memandang eksistensi-Nya, semua potensi akal manusia lumpuh tak berdaya. Dia Maha Esa dalam arti semacam itu yang bahkan Sifat-Nya adalah Zat-Nya dan tidak dan tak akan pernah bisa berpisah dari-Nya.

Dengan demikian, semua konsep khayali yang muncul dari doktrin-doktrin politeistik dan fenomena pluralitas merupakan tiupan mematikan yang pernah digambarkan Islam tentang Allah.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Falaq Ayat 1-5 [Bag 1]

Dia Maha Esa yang tak satupun bisa dibandingkan denganNya, yang tidak memiliki permulaan atau akhir, tidak dibatasi oleh waktu, ruang, atau lingkungan. Suatu Realitas yang di hadapannya segala sesuatu tidak memiliki keberadaan mandiri. Dialah Pencipta, Yang Maha Esa, dan segala sesuatu adalah Ciptaan-Nya.

Sebuah hadis dari Imam Muhammad Baqir as menyebutkan, “‘Ahad’ dan ’wahid’ kedua-duanya mempunyai satu konsep, yakni Maha Esa yang tak satu pun bisa dibandingkan dengannya, dan tauhid merupakan pengakuan akan keesaan-Nya.” 4

Dalam al-Quran wahid dan ahad keduanya merujuk pada Allah, Yang Maha Esa, yang hanya satu-satunya.

Dalam ayat berikutnya, julukan lain dari Zat Suci-Nya dirujukkan pada: Allah, Yang Mahaabadi…

Banyak pengertian disebutkan untuk ash-shamad dalam riwayat-riwayat, tafsir-tafsir, dan kamus-kamus Islam.

Raghib menyebutkan dalam al-Mufradat bahwa ”Ash-Shamad artinya seorang Tuan; yang menjadi tempat rujukan dalam masalah-masalah penting.” Sebagian lain berpendapat bahwa ash-shamad artinya ”sesuatu yang di dalamnya tidak kosong melainkan berisi penuh”.

’Shamad’ juga berarti ”Tuan”, ketika diterapkan kepada Allah, karena masalah-masalah tergantung kepada-Nya. Shamad berarti yang tinggi atau diangkat pada ketinggian yang paling puncak, dan majikan yang kepadanya orang lain menyerahkan dirinya, tertarik pada atau membutuhkan akan, atau Zat yang tidak ada lagi siapa atau apapun di atas-Nya, atau Zat yang terus ada setelah semua makhluk-Nya binasa.

Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib as dalam sebuah hadis menyatakan lima pengertian ash-Shamad, yaitu:

1. Tuhan yang ketuhanannya telah mencapai titik atau derajat yang paling tinggi.

2. Zat dan Wujud yang terus menerus ada alias abadi.

3. Eksistensi yang tidak mempunyai ruang kosong di dalamnya.

4. Zat yang tidak membutuhkan asupan, baik berupa makanan ataupun minuman.

5. Zat yang tidak tidur.5

Sebuah hadis lain berasal dari Imam Ali bin Husain as, berbunyi, ”Shamad adalah Zat yang tidak punya sekutu, dan itu tidak sulit bagi-Nya untuk melindungi segala sesuatu, tak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nva.”6

Catatan kaki:

  1. Bihar al-Anwar, jilid 3, hal.221, hadis ke-12. Ibid, hal.222
  2. Ibid., hal.222.
  3. Ibid.
  4. Bihar al-Anwar, jilid 3, hal.222
  5. Ibid., hal.,223.
  6. Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top