Friday , April 10 2020
Breaking News
Tafsir Surat Alfatihah Ayat 1 (Bagian ke-2)

Tafsir Surat Alfatihah Ayat 1 (Bagian ke-2)

PENJELASAN

Apakah Bacaan Bismillah Termasuk Bagian dari Setiap Sarah?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hampir seluruh ulama secara sepakat menyatakan bahwa bismillahirrahmanirrahim termasuk bagian dari al-Fatihah dan juga bagi surah-surah lainnya (kecuali surah at-Taubah). Sejatinya, pencantuman bismilmh pada awal seluruh surah al-Quran al-Karim, kecuali yang disebutkan di atas, merupakan sebuah bukti yang vital atas kenyataan ini dan keyakinan tersebut begitu kuat sehingga tidak ada perubahan yang terjadi dalam al-Quran dan tidak ada satupun yang ditambahkan padanya sejak ia diwahyukan kepada Nabiyullah saw.

Mu’awiyyah bin ’Ammar, salah seorang sahabat Imam ashShadiq as, berkata bahwa suatu saat dia bertanya kepada Imam as apakah ia harus membaca bismillahirrahmanirrahim pada awal surah al-Fatihah ketika berdiri untuk mendirikan shalat, maka beliau mengiakan petanyaan tersebut. Dia bertanya kembali mengenai keharusan membaca bismillah ketika bacaan surah al-Fatihah usai dan sebelum membaca surah berikutnya, maka Imam ash-Shadiq as mengiakan kembali.1

Daruquthni, seorang ilmuwan dan peneliti Muslim, menurut sebuah dokumen yang dapat dipercaya, meriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as bahwa seseorang bertanya kepada beliau as: ”Apakah as-Sab’al-Matsani itu (tujuh ayat) itu?” ”Surah al-Hamd”, katanya. Orang tersebut lagi berkata: ”Surah al-Hamd terdiri dari enam ayat.” Imam as menjawab: ” bismillahirrahmanirrahim juga (terhitung) satu ayat.”2

Selain itu, umat Islam selalu menjaga praktik pembacaan bismillahirrahmanirrahim pada awal surah setiap surah (kecuali surah 9) ketika membaca al-Quran, dan ini telah terbukti, pada beberapa kisah bahwa Nabi suci saw biasa membacanya juga.

Diriwayatkan bahwa Amirul Muminin Ali as ditanya mengenai kebenaran bismillahirrahmanirrahim sebagai bagian dari surah al-Fatihah. Imam as menjawab: ”Benar, Rasulullah biasa membacanya dan menganggapnya sebagai satu ayat (dari ayat-ayat) dalam surah dan beliau berkata bahwa Fatihat al-Kitab (Pembuka) sama dengan Sab’ al-Matsani (tujuh ayat).”3

Allah, Nama Rabb (Tuhan) Yang Serba-Mencakup

Istilah ism dalam frase bismillah, seperti yang dikatakan para sastrawan dalam bidang bahasa Arab, berasal dari kata summuww yang berarti ’ketinggian, peninggian’. Alasan tentang ’penamaan’ pada sebuah kata ’benda’ adalah karena setelah menentukan penamaan pada ’sebuah kata benda’ dengan ’nama’ (ism) yang khusus, maka makna ungkapan yang tersembunyi akan muncul, dan pengertian ’nama’ tersebut menanjak, karenanya menjauhkan dari kesia-siaan.

Dalam frase bismillah, kata Allah adalah nama Tuhan yang paling lengkap dan komprehensif di antara nama-nama Tuhan yang lainnya. Ini disebabkan masing-masing nama-nama Allah, yang ditorehkan dalam al-Quran al-Karim juga dalam referensi-referensi Islam lainnya, merefleksikan satu aspek khusus dari sifat-sifat Allah. Dengan kata lain, satu-satunya nama yang mengacu pada seluruh sifat-Nya yang mulia dan baik adalah Allah. Oleh karena itu, nama-nama yang lainnya sering digunakan sebagai kata sifat bagi kata Allah. Misalnya, ”Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS al-Baqarah [2]:226) mengacu pada ampunan Allah; ”Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui’ segala sesuatu”, (QS al-Baqarah [2]: 227) menunjukkan kemudah dikenalan-Nya dengan apa-apa yang dapat didengar dan apa-apa yang terjadi, secara berturut-turut; ”Dan Allah Maha Melihat semua yang kamu lakukan”, (QS al-Hujurat [49]:18) menyatakan bahwa Dia memiliki informasi atas segala hal yang dilakukan oleh siapa saja; ”Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh” (QS adz-Dzariyyat [51]:58) mengarah pada pemberian rezeki-Nya ke seluruh makhluk dan, pada saat yang sama, mengungkapkan bahwa Dia perkasa dan kukuh dalam tindakan-tindakan-Nya.

Dan, akhirnya surah al-Hasyr [59] ayat 23 dan 24 menunjukkan beberapa sifat Allah. Istilah ’Pencipta’ dan ’Yang Mengadakan’ menunjukkan daya kreatif dan kemampuan-Nya dalam menciptakan, dan ’Pemberi Bentuk’ mengarah pada pemberian bentuk yang dilakukan-Nya: ”’Dialah Allah, Tiada Tuhan Selain Dia; Maharaja, Yang Mahasuci, Maha sejahtem, Yang Maha Mengaruniakan Keamanan, Maha Memelihara (segala sesuatu), Mahaperkasa, Mahakuasa, Maha Memiliki Segala Keagungan! Mahasuci Allah dara apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Memiliki Nama-Nama yang paling indah.”

Satu bukti lagi yang menjadi sebuah petunjuk yang jelas bahwa nama ini, Allah, serba-mencakup menyeluruh dapat dilihat dalam pengakuan keimanan. Dalam Islam, keimanan hanya bisa diterima dengan kalimat: la ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), sedangkan masing-masing frase lainnya seperti Maha Mengetahui, Maha Pencipta atau Maha Pemberi Rezeki dan lain-lain saja tidaklah mencukupi untuk menyatakan bukti ketauhidan dalam Islam. Oleh karena itu, dalam agama selain Islam Tuhan kaum Muslim disebut Allah, karena hanya umat Islamlah yang menggunakan ’Allah’ untuk mengacu pada apa yang mereka sembah.

Rahmat Allah Yang Umum dan Khusus

Kata-kata ar-Rahman (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang) adalah kata sifat. Keduanya berasal dari ar-Rahmah (rahmat). Kata yang pertama, Maha Pengasih, seperti yang diketahui secara populer Oleh beberapa ahli tafsir mengacu pada rahmat umum Allah yang dianugrahkan kepada segenap makhluk, di antaranya adalah orang-orang yang beriman dan tidak beriman, orang-orang saleh dan para pendosa. Dan, seperti yang kita saksikan, rahmat kehidupan dari Allah disebarkan ke mana-mana dan seluruh manusia menikmati manfaatnya yang tak habis-habis. Itulah rezeki mereka. Mereka memperoleh rahmat yang melimpah ruah dari segala yang ada di dunia ini.

Kata ar-Rahim (Maha Penyayang) mengacu pada rahmat khusus Allah yang dicurahkan kepada orang-orang yang beriman, hamba-Nya yang taat saja. Orang-orang yang beriman, karena keyakinannya yang sejati, amal-amal yang baik, dan ketakwaan yang aktif, layak mendapatkan rahmat khusus ini, yang tidak akan didapatkan oleh orang-orang yang tidak beriman.

Bukti khusus yang membenarkan topik ini dapat dilihat dari kata Rahman yang selalu digunakan dalam al-Quran dalam bentuk yang tidak tertentu, yang merupakan satu tanda keumuman, sedangkan makna Rahim kadang-kadang digunakan dengan makna yang tertentu, yang merupakan tanda kekhususannya seperti: ” Dan Dia adalah Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman ”, (QS al-Ahzab [33]:43). Terkadang pula ia digunakan dalam bentuk yang tidak tentu dalam surah al-Fatihah.

Dalam sebuah riwayat Imam ash-Shadiq as bersabda: ”Allah adalah Rab (Tuhan) segala sesuatu dan Maha Pengasih pada semua makhluk-Nya, dan Dia Maha Penyayang, khususnya pada orang-orang yang beriman.” 4

Oleh karena itu, pada saat kita hendak memulai amal apa pun, kita mesti memulainya dengan nama Allah dan memohon rahmat-Nya, baik rahmat umum maupun khusus.

Yang perlu diperhatikan di sini bahwa kekuatan ini karena ia memiliki konsep yang luas dan amat mirip dengan tarikan gravitasi serta memiliki kemampuan untuk mendekatkan hati merupakan sifat rahmat itu sendiri. Selain itu, sifat rahmat adalah sarana yang memudahkan manusia mendapatkan satu hubungan yang erat dengan Penciptanya.

Sebab itu, kaum mukmin sejati, ketika membaca ayat suci bismillahirrahmanirrahim di awal setiap urusan mereka, membebaskan hati mereka dari segala sesuatu yang lain dan hanya bergantung pada Allah semata dan mereka meminta pertolongan hanya kepada-Nya, lantaran Dia sajalah yang rahmat-Nya serba-mencakup (all-inclucive). Tidak ada satupun makhluk yang lepas darinya.

Bukti lain yang juga dapat dimengerti dari bismillah adalah tindakan-tindakan Allah yang selalu berdasarkan rahmat, sementara hukuman memiliki aspek-aspek perkecualian yang tidak akan terpenuhi kecuali ada beberapa alasan yang jelas dan tepat.

Apabila kita membaca doa Jausyan al-Kabir, pasal ke-20 yaitu: ”Wahai Rab (Tuhan), yang rahmat-Nya mendahului murka -Nya” maka butir di atas kian menjadi jelas.

Umat manusia seyogianya memperhatikan rahmat dan kasih sayang serta berperilaku menurutnya dalam kehidupan sehari-hari serta menerapkan kekerasan dan ketegasan apabila jelas-jelas diperlukan.

Kita akhiri pembahasan ini dengan sebuah hadis yang sarat makna dari Nabi suci saw yang, sewaktu menjelaskan mengenai keluasan rahmat Allah, berkata: ”Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat, satu di antaranya Dia turunkan ke dunia dan menyebarkan yang satu tersebut kepada makhluk-makhlukNya. Segala rahmat dan kasih sayang yang mereka miliki berasal darinya. Dia, Yang Maha Penyayang, menahan sembilan puluh sembilan bagi-Nya sendiri untuk dipersembahkan pada hamba-hamba-Nya di hari kebangkitan kelak.”5

Artikel sebelumnya: Tafsir Surat Alfatihah Ayat 1

Catatan Kaki:

  1. Al-Kafi,jilid3, h.312
  2. Al-Itqan, jilid 1, h.136.
  3. Athyab al-Bayan, jilid 1, h.92.
  4. Al-Kafi, Tauhid karya Syaikh Shaduq, dan Ma’ani al-Akhbar, (Berdasarkan tafsir al-Mizan)
  5. Majma’ al-Bayan, jilid 1, h.21.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top