Monday , December 16 2019
Breaking News
Tanda Tanya seputar Hijrah dan Muharram

Tanda Tanya seputar Hijrah dan Muharram

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Selain kalender Masehi, ada kalender yang disebut kalender Hijriyah, baik qamariyah maupun syamsiah. Ia disebut sebagai kalender Islam (at-taqwim al-hijri), bukan karena ke-arabannya, namun karena ditetapkan sejak hijrahnya Nabi Muhammad saw. Ia ditetapkan sebagai tahun Islam setelah Nabi wafat atas inisiatif Khalifah kedua, Umar bin Khathab pada tahun 638 M (17 H). Hijarh Nabi ditetapkan sebagai awal kalender Islam, menyisihkan dua pendapat lainnya, yaitu hari kelahiran Nabi dan hari wafatnya. Kalender ini disahkan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad.

Sejak kedatangan Islam hingga awal abad ke-20, kalender Hijriyah berlaku di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyah (1894 Masehi).

Selain memiliki kalender Hijriyah, bangsa Indonesia juga memiliki kalender sendiri, yaitu kalender Jawa. Kalender ini adalah adaptasi dari kalender Islam (Hijriah qamariyah), karena sama-sama mengawali tahun baru pada tanggal 1 Muharram meski berbeda nama, yang sejatinya juga merupakan olahan dari nama bulan Arab. Nama Muharam diubah dengan Suro, berasal dari Asyura, (asyrah atau 10), tanggal monumental yang dikenang sebagai tragedi pembantaian al-Husain, cucu Nabi saw di Karbala, Irak.

Sistem Kalender Jawa berbeda dengan Kalender Hijriyah, meski keduanya memiliki kemiripan. Pada abad ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan Kalender Saka (berbasis matahari) yang berasal dari India. Sistem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Namun demikian, demi kesinambungan, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke 1547 Jawa.

Sebenarnya, bulan Muharram lebih tepat dianggap sebagai bulan keprihatian, empati dan perlawanan. Inilah tanggal merah sejati, yang dikenal dengan Asyura, yaitu 10 Muharam. Tanggal merah sejati ini telah menjadi bagian dari budaya dan tradisi Indonesia, seperti di Jawa, Melayu, dan Maluku. Di Jawa, pada bulan Muharam, tetangga saling berkirim bubur Sura atau jenang Suro, sebuah makanan khas Muharam dan Asyura, yang berwarna putih (kesucian) dan bertabur warna merah (kesyahidan). Sebagian orang Jawa melakukan meditasi untuk merenungi diri di tempat-tempat sakral, melakukan lek-lekan (begadang) hingga pagi hari di beberapa tempat yang dianggap sakral. Ada pula yang melaksanakan upacara Grebeg Suro. Di Maluku dan Sulawesi, warga pesisisr enggan melaut di bulan ini. Di Sumatera, terutama di Padang, Riau, dan Aceh, diadakan upacara Tabut pada 10 Muharam. Bahkan, tarian Saman khas Aceh diduga sebagai jejak upacara ratapan Asyura yang disertai dengan pemukulan dada sebagai simbol kesedihan.

Ada apa di 10 Muharam dan Asyura? Menurut Dr. Zafar Iqbal, pakar sejarah budaya Persia dan Indonesia, dalam Kafilah Budaya (Citra: 2006), tradisi-tradisi itu berakar dari peristiwa tanggal merah 10 Muharram (tanggal monumetal pembantaian Husain bin Ali bin Abi Thalib) yang terjadi di Karbala sekitar 89 tahun sejak wafatnya sang datuk, Muhammad saw. Sayang, sebagian besar umat Islam tidak lagi mengingatnya, dan memperingatinya sebagai bulan sukacita.

Bulan Muharam (Suro) menjelang. Sebagian orang menganggapnya sebagai bulan kemenangan seraya baku kirim pesan pendek berisi ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, berpuasa dan menyantuni anak-anak yatim. Namun, tidak sedikit umat Islam di Indonesia dan negara lain meyakininya sebagai bulan duka seraya menganggap hari kesepuluhnya sebagai puncak kedukaan tersebut. Itulah 10 Muharam, yang akrab disebut dengan Asyura.

Bulan Suro perlu dikenang demi merawat cinta kepada kebenaran sekaligus benci kezaliman. Tanpa cinta dan benci yang positif ini, perlawanan dan perjuangan hanyalah sederet aksara tak bermakna dan huruf-huruf yang mubazir. Inilah buhulan-buhulan iman yang harus terus terjuntai dengan erat dan indah (al-urwah al-wutsqa).

Terlepas  dari itu semua, menjadikan hijrah sebagai awal penanggalan Islam dan menjadikan hijrah sebagai peristiwa monumental menyisakan sejumlah pertanyaan. Hijrah adalah keputusan meninggalkan kampung halaman, Mekkah, dan menetapkan di Madinah adalah SK Nabi karena lemahnya posisi sosial, politik, ekonomi dan militer para pendukung beliau yang saat itu merupakan kelompok minoritas. Hijrah bisa dianggap sebagai langkah taktis menyelamatkan diri (eksodus, evakuasi dan pencarian suaka) pada dasarnya sulit diasosiasikan dengan sukacita, justru sebaliknya.

Mungkin yang lebih tepat untuk diperingati sebagai momen sukacita dan kemenangan adalah hari kembalinya Nabi dan para muhajirin dalam peristiwa kolosal epik yang dikenang sebagai hari “Fathu Makkah” atau hari pembebasan Mekkah.

*Dosen Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra, Jakarta

2 comments

  1. labaika ya hussain, salam takziyah, salam duka cita bagi para ahlul bait rasului zamanllah saww minal awalin wal akhirin khususan ila rasulullah saww wal amiral mukminin wal sayidatil nisail alamin wal sayidi sababil ahli janatil alamin wal sayidi zaman ajfs.

  2. labaika ya hussain, salam takziyah, salam duka cita bagi para ahlul bait rasulullah saww minal awalin wal akhirin khususan ila rasulullah saww wal amiral mukminin wal sayidatil nisail alamin wal sayidi sababil ahli janatil alamin wal sayidi zaman ajfs.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top