Saturday , June 6 2020
Breaking News
Tantangan dan Ancaman Bonus Demografi Bagi Generasi Muda Indonesia

Tantangan dan Ancaman Bonus Demografi Bagi Generasi Muda Indonesia

Indonesia saat ini bersiap menyambut bonus demografi. Bonus Demografi adalah bonus yang dinikmati suatu negara akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun).

“Bonus demografi tinggal enam tahun lagi. Apa yang harus dikerjakan pemerintah? Kita tidak tahu, padahal ancaman di hari esok adalah krisis energi dan pangan,” kata Deputi Advokasi, Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Pusat, dr. Abidinsyah Siregar DHSM MKes saat diskusi yang digelar Kompasiana bersama BKKBN di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (30/10).

Menurut Abidin, setiap negara hanya akan mengalami satu kali bonus demografi dan saat ini Eropa telah melalui masa itu. Namun, Eropa mengalami masalah dimana pengangguran meningkat sementara para generasi mudanya melancarkan protes lantaran kesulitan mendapatkan akses pekerjaan.

Dikatakan, bonus demografi Indonesia merupakan pencapaian program keluarga berencana (KB). Sejak dibentuk pemerintah tahun 1971, program KB telah mengendalikan ledakan penduduk hingga 80 juta jiwa.

Selain menghadapi bonus demografi, tantangan yang mengancam masa depan pembangunan kependudukan Indonesia adalah pernikahan dini. Berdasarkan survei demografi kependudukan Indonesia (SDKI), ibu yang meninggal melahirkan adalah 359 per 100 ribu kelahiran atau lebih besar dari laporan rata-rata nasional yang disebutkan mencapai 210 per 100 ribu kelahiran. Sebagian ibu meninggal melahirkan adalah remaja putri yang menikah dini.

Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kota Palu Irmayanti  Pettalolo berharap Calon Walikota Palu periode 2015-2020 menjadikan  kependudukan dan KB  sebagai isu pokok kampanye dan kemudian menjadi fokus pemerintahan jika nanti terpilih.  Kepala daerah jangan hanya memprioritaskan  sektor pendidikan dan kesehatan.

Menurut Irma, dalam upaya mewujudkan generasi berencana (Genre), pihaknya telah mendirikan 28 pusat informasi dan konseling (PIK) Remaja di tingkat SMA dan perguruan tinggi. Jika mendapat dukungan anggaran, tahun depan PIK Remaja juga akan dibentuk di tingkat SMP.  PIK Remaja saat ini dimanfaatkan remaja untuk berkonsultasi mengenai kesehatan reproduksi serta pendewasaan usia pernikahan, yakni 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

Direktur Advokasi dan KIE Yunus Patriawan Noya mengapresiasi harapan tersebut. Menurutnya Walikota Palu ke depan harus memprioritaskan kependudukan dan KB karena bertepatan dengan bonus demografi yang akan berlangsung antara tahun 2020 sampai dengan 2035.

Walikota Palu Rusdy Mastura sependapat pentingnya Genre. Salah satu upaya Pemerintah Kota Palu untuk menyiapkan generasi terdidik di masa depan adalah mengembangkan pendidikan vokasi.  (Indar/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top