Tuesday , February 18 2020
Breaking News
Tauhid dalam Sifat-sifat Allah [2/4]

Tauhid dalam Sifat-sifat Allah [2/4]

 

Pembahasan sebelumnya Tingkatan-tingkatan Tauhid: Zat Allah [1/4]

Tauhid Sifat-sifat Allah artinya adalah mengakui bahwa Zat dan Sifat-sifat Allah identik, dan bahwa berbagai Sifat-Nya tidak terpisah satu sama lain. Tauhid Zat artinya adalah menafikan adanya apa pun yang seperti Allah, dan Tauhid sifat-sifat-Nya artinya adalah menafikan adanya pluralitas di dalam Zat-Nya. Allah memiliki segala sifat yang menunjukkan kesempurnaan, keperkasaan dan keindahan, namun dalam Sifat-sifat-Nya tak ada segi yang benar-benar terpisah dari-Nya.

Keterpisahan zat dari sifat-sifat dan keterpisahan sifat-sifat dari satu sama lain merupakan ciri khas keterbatasan eksistensi, dan tak mungkin terjadi pada eksistensi yang tak terbatas. Pluralitas, perpaduan dan keterpisahan zat dan sifat-sifat tak mungkin terjadi pada Wujud Mutlak. Seperti Tauhid Zat Allah, Tauhid sifat-sifat Allah merupakan doktrin Islam dan salah satu gagasan manusiawi yang paling bernilai, yang mengkristal dalam pemahaman mazhab Ahlulbait.

Di sini kami kutipkan sebuah kalimat dalam khotbah Imam Ali as yang membenarkan sekaligus menjelaskan gagasan ini:

“Segala puji bagi Allah. Tak ada ahli pidato atau ahli bicara pun yang dapat memuji-Nya dengan memadai. Rahmat dan berkah-Nya tak dapat dihitung oleh ahli hitung sekalipun. Yang paling perhatian sekalipun tak dapat menyembah-Nya dengan semestinya. Dia tak dapat dimengerti sepenuhnya, sekalipun diupayakan. Dia tak dapat dicapai oleh kecerdasan, sekalipun luar biasa kecerdasan tersebut. Sifat-sifat-Nya tak dibatasi oleh pembatas apa pun. Tak ada kata yang dapat menggambarkan-Nya dengan utuh.”

Seperti kita tahu, dalam kalimat di atas digarisbawahi ketakterbatasan sifat-sifat Allah. Dalam khotbah itu juga, setelah beberapa kalimat, Imam Ali as berkata: “Sebenar-benar ketaatan kepada-Nya artinya adalah menafikan pengaitan sifat-sifat kepada-Nya, karena pihak yang dikaiti sifat menunjukkan bahwa pihak tersebut beda dengan sifat yang dikaitkan kepada-Nya, dan setiap sifat-Nya menunjukkan bahwa sifat tersebut beda dengan pihak yang dikaitkan sifat tersebut. Barangsiapa mengaitkan sifat kepada Allah, berarti dia menyamakan-Nya (dengan sesuatu),…” (Lihat Nahj al-Balâghah, khotbah 1)

Dalam kalimat pertama ditegaskan bahwa Allah memiliki sifat-sifat (yang sifat-sifat-Nya tak dibatasi oleh batas-batas). Dalam kalimat kedua juga ditegaskan bahwa Dia memiliki sifat-sifat, namun diperintahkan untuk tidak mengaitkan sifat-sifat kepada-Nya. Redaksi kalimat-kalimat ini menunjukkan bahwa sifat-sifat yang dimiliki-Nya tak terbatas seperti halnya ketakterbatasan diri-Nya sendiri, bahwa Sifat-sifat yang dimiliki-Nya identik dengan Zat-Nya, dan sifat-sifat yang tak dimiliki-Nya adalah sifat-sifat yang terbatas dan terpisah dari Zat-Nya dan terpisah satu sama lain.  Dengan demikian, Tauhid dalam Sifat-sifat Allah artinya adalah mengakui bahwa Zat Allah dan Sifat-sifat-Nya adalah satu.

Murthada Muthahari

Pembahasan selanjutnya Tauhid dalam Perbuatan Allah [3/4]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top