Saturday , July 11 2020
Breaking News
Telaah Hadis-Hadis Mistik dan Akhlak: Hadis Jihad an-Nafs [Bag. 2]

Telaah Hadis-Hadis Mistik dan Akhlak: Hadis Jihad an-Nafs [Bag. 2]

Langkah Pertama: Permenungan (Tafakur)

Ketahuilah, syarat pertama dan terutama untuk berjuang melawan diri sendiri dan berjalan menuju Allah Swt adalah tafakur. Ini dapat dimaknai sebagai meluangkan waktu. Betapapun sedikitnya. Semua itu untuk merenungkan tugas-tugas kita terhadap Pencipta dan Penguasa kita yang telah menghadirkan kita ke bumi yang telah menganugerahkan kepada kita seluruh sarana kenikmatan dan kesenangan hidup. Juga telah melengkapi kita dengan tubuh yang baik serta berbagai daya dan panca indra sempurna untuk beragam tujuan.

Pembahasan sebelumnya Telaah atas Hadis-hadis Mistik dan Akhlak: Hadits tentang Jihad Al-Nafs [bag 1]

Semua itu telah membuat akal manusia terkagum-kagum. Di samping seluruh karunia dan nikmat tersebut, Dia juga telah mengutus begitu banyak nabi dan menurunkan kitab sucinya demi membimbing dan mengajari kita agar dapat mengecap rahmat-Nya. Maka, apa kira-kira kewajiban kita terhadap Allah Swt, raja dari segala raja ini?

Apakah semua ini dianugerahkan kepada kita sekadar untuk melayani kehidupan hewani kita dan memuaskan nafsu serta insting kita yang juga dimiliki seluruh binatang lain? Ataukah ada tujuan yang lebih tinggi?

Apakah seluruh nabi Allah, orang-orang arif, para pemikir dan orang-orang berilmu dari setiap bangsa yang telah mengajak manusia untuk memenuhi prinsip-prinsip rasional dan hukum-hukum Allah serta meminta manusia untuk meninggalkan seluruh kecenderungan hewaninya dan melepaskan diri dari lingkungan yang fana dan musnah ini adalah para musuh manusia?

Ataukah mereka sama dengan kita yang tidak mengetahui jalan penyelamatan kita, manusia-manusia yang tenggelam dalam aneka nafsu syahwat ini?

Jika kita merenung dengan akal kita, untuk sesaat kita akan memahami bahwa tujuan dari seluruh rahmat dan anugerah yang ditanamkan dalam diri kita adalah sesuatu yang lain, yang jauh lebih unggul dan lebih tinggi daripada yang tampak oleh mata.

Dunia ini adalah tahap perbuatan, dan tujuannya adalah wilayah eksistensi yang lebih tinggi dan lebih agung. Eksistensi hewan yang rendah ini bukanlah tujuan penciptaan itu sendiri.

Seorang manusia berakal harus menilai dirinya sendiri dan merasa sedih atas ketidakberdayaan dirinya. Dengan rasa kasihan ia seharusnya berkata kepada dirinya sendiri, “Wahai diri yang lalai, kau telah menyia-nyiakan saat-saat yang berharga dalam hidup singkatmu untuk mengejar keinginan duniawi dan nafsumu, dan yang bakal diperoleh hanyalah penyesalan dan rasa kehilangan.”

Kau harus menyesali perbuatan-perbuatanmu di masa lalu, di hadapan Allah Swt dan memulai perjalanan baru menuju tujuan yang telah digariskan oleh-Nya. Perjalanan yang akan membawamu pada kehidupan kekal dan bahagia abadi. Kau tidak boleh menukar kenikmatan-kenikmatan singkat ini, yang bahkan seringkali sulit diperoleh dengan kebahagiaan abadi.

Berpikirlah untuk sesaat, wahai diri yang lalai, kau harus memikirkan keadaan manusia sejak fajar peradaban hingga masa kini. Lihat dan bandingkan penderitaan dan siksaan yang mereka terima dengan kenikmatan dan kesenangan yang mereka peroleh dan kau akan melihat bahwa penderitaan dan kesakitan mereka selalu melebihi dan menghilangkan kenikmatan dan kesenangan mereka.

Kenikmatan dan kesenangan bukanlah untuk setiap orang dalam kehidupan ini. Orang yang mengajak dan mendorongmu mengejar kenikmatan duniawi dan perolehan material jelas, salah satu dari kelompok utusan iblis dalam rupa manusia. Ia selalu mengajak manusia bergabung dengannya dalam menyukai kenikmatan-kenikmatan dan menyatakan keyakinannya terhadap kehidupan material ini.

Di persimpangan jalan ini, wahai diri, kau harus berhenti untuk sesaat dan berpikir, apakah utusan iblis itu telah merasa puas dan bahagia dengan keadaannya sendiri? Ataukah ini semua hanya menunjukkan bahwa seseorang yang telah terjangkiti sifat buruk itu ingin menularkan kepada orang lain.

Wahai diri, engkau harus memohon keridhaan Allah Swt bagi seluruh perbuatanmu dan terus mengejar keridhaan-Nya. Berdoalah agar seluruh perbuatanmu diridhai oleh-Nya. Di antara Dia dan engkau selalu ada sepercik harapan yang akan menjadi nyata dalam niat teguh demi bertempur melawan iblis dan jiwa rendahmu.

Berjuang melawan diri ini akan mengantarmu ke tingkat yang lebih tinggi. Upayakan semua itu dengan seluruh kemampuanmu demi mencapainya, melalui perjuangan yang sungguh-sungguh.

Imam Khomeini, “40 Hadis, Hadis-hadis Mistik dan Akhlak: Hadis Jihad an-Nafs”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top