Monday , November 18 2019
Breaking News
Terorisme Indonesia, Antara Ada dan Tiada

Terorisme Indonesia, Antara Ada dan Tiada

Jakarta – Direktur REFORM Institute, Yudi Latief menilai maraknya aksi terorisme belakangan ini menimbulkan banyak praduga. Bahkan, Yudi yang juga pengamat politik ini menilai, sederet aksi teror adalah antara nyata dan rekayasa. “Terorisme ada di antara bayangan real-unreal, antara nyata dan rekayasa,” ujar Yudi Latief setelah menyaksikan film dokumenter berjudul Inside Indonesia’s War on Terror di Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (18/4/2011).

Dia mengatakan, setelah menyaksikan film tersebut, memang aksi terorisme perlu untuk dikutuk. Dalam perspektif apapun. “Setelah nonton film ini nampak bahwa di satu sisi kita harus mengutuk tindak kekerasan atas nama apapun,” ujar Yudi.

Namun, dari perspektif lain, Yudi melihat bahwa ada semacam dendam masa lalu. Dimana aparat keamanan juga menjadi target sasaran dari rangkaian aksi ini. Dan itu memiliki kaitan antara yang satu dengan yang lain. “Di sisi lain kita melihat terorisme itu selalu ada kaitannya dengan korban-korban kekerasan di masa lalu dan dalam sejarah Indonesia ada tali temalinya dengan skenario aparatur keamanan untuk target-target tertentu dalam tujuan-tujuan politik,” jelasnya.

Dalam analisanya setelah menyaksikan film dokumenter ini, aparat keamanan bermain-main dengan kekerasan. Tetapi, memiliki tujuan jangka pendek. “Film ini juga menunjukkan bagaimana aparat keamanan bermain-main dengan kekerasan. Ada tujuan-tujuan politik jangka pendek yang lain,” jelas Yudi.

Liputan6.com, Jakarta: “Aksi terorisme berada di antara nyata dan rekayasa. Dalam sejarah Indonesia, ada skenario aparatur keamanan dalam sejumlah aksi teror untuk target-target tertentu,” ujar Direktur Eksekutif Reform Institute Yudhi Latief usai menyaksikan film Inside Indonesia’s War on Terror di Kine Forum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (18/4).

Film dokumenter produksi SBS tersebut menyimpulkan bahwa mayoritas aksi teror dan kerusuhan antaragama di Indonesia adalah proyek negara. “Di satu sisi kita harus mengutuk tindak kekerasan atas nama apapun. Tapi di sisi lain kita melihat terorisme itu selalu ada kaitannya dengan korban-korban kekerasan di masa lalu,” kata Yudhi lagi.

Menurutnya, film ini menunjukkan bagaimana aparat memanfaatkan momentum aksi teror tujuan-tujuan politik jangka pendek. “Terorisme memang ada di sana, jaringannya ada di sana. Tapi cara-cara aparatur keamanan kapan menangkap teroris, kapan teroris itu dipancing untuk melakukan kekerasan tertentu itu sering terkait dengan situasi politik,” jelas Yudhi.

Yudhi beranggapan jika bertolak dari film ini, bukan tidak mungkin ada permainan dari aparat keamanan. “Ini (aksi-aksi teror) bukan kasus yang berdiri sendiri. Sering juga penangkapan teroris momentumnya dipaksakan dengan momentum panggung politik yang lain,” ungkap Yudhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top