Tuesday , September 17 2019
Breaking News
Tradisi Pengafiran dan Bahayanya Terhadap Islam

Tradisi Pengafiran dan Bahayanya Terhadap Islam

Seperti rasisme, takfirisme yang berselubung di balik kedok Salafisme dan Wahabisme sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan superioritas ras Arab atas selainnya. Lebih tepatnya, superioritas suku bangsa Arab yang hidup di gurun sahara Arab Saudi, khususnya wilayah Nejd, atas seluruh suku bangsa lain. Namun, ironisnya, superioritas kosong dan konyol itu mereka selubungi dengan jubah Islam yang agung dan suci. Bagaimana mungkin agama yang suci bersih ini dapat diwakili oleh gerombolan fanatik dan tribalistik seperti ini? Tentu tidaklah mungkin.

Untuk sekadar menunjukkan kekonyolan takfirisme Wahabi ini, kita dapat dengan mudah meneliti berapa banyak karya yang telah mereka sumbangkan dalam khazanah pemikiran Islam. Atau lebih tepatnya, betapa sedikit sumbangan mereka terhadap kemajuan umat Islam baik dalam bidang pemikiran agama maupun pemikiran saintifik secara umum? Jawabannya cukup mengagetkan: sangat sedikit!

Karena itu, dengan mudah kita dapat menebak bahwa kekuatan imperialisme telah membesarkan fenomena takfirisme ini sebagai modus untuk menghancurkan Islam dari dalam. Takfirisme adalah lingkaran setan kerusakan yang bakal terus mengungkung Islam dan penganutnya dalam kebencian dan permusuhan internal (sesama Muslim) dan eksternal (munculnya kebencian dari kelompok yang berada di luar Islam).

Celakanya, takfirisme senantiasa memberi justifikasi pada invasi kekuatan-kekuatan asing terhadap negara-negara Muslim. Berkembangnya takfirisme di negara Muslim mana pun sebenarnya dapat dianggap sebagai aba-aba akan datangnya serangan asing. Alasannya, karena takfirisme yang mewabah dalam sebuah masyarakat Muslim niscaya mengakibatkan ketahanan dan kekuatan masyarakat itu lenyap dan tergerus dalam pertikaian internal yang tiada habis-habisnya. Nah, pada saat sudah sampai titik nadir, sebagaimana dalam kasus negara seperti Afghanistan, Somalia, Yaman, dan sebagainya, maka invasi militer asing terhadap negara itu menjadi mudah.

Selain menyebabkan pertikaian yang tak berujung, takfirisme juga mampu membuat kalangan moderat dan waras, hidup dalam ancaman dan keputusasaan. Bayangkan bagaimana mungkin kita dapat berhubungan dengan sekelompok orang yang sejak semula telah menafikan kita, bersikukuh untuk menghabisi kita, menolak apa pun yang berbeda dengannya, bahkan merasa memahami keyakinan kita lebih dari kita sendiri? Artinya, kelompok ini berkeinginan mengambil satu-satunya yang tidak mungkin diambil: apa yang ada dalam hati dan pikiran kita. Jika kita katakan bahwa kita ini bersyahadat, maka sikap yang akan kita hadapi adalah menolak syahadat kita dan menyatakan bahwa syahadat kita dengan lisan itu tidak benar-benar bersumber dari hati kita. Lantas apa lagi yang tersisa dari seseorang yang menghadapi sekelompok orang seperti ini selain mempertahankan diri atau mati sia-sia?

Sekali lagi, takfirisme bukanlah sebuah penyakit yang muncul dalam satu penganut mazhab, agama atau suku bangsa tertentu saja, melainkan dapat menular kemana-mana. Bahkan, potensi sikap takfiri yang bersumber dari ekstremitas, intoleransi, arogansi, dan superioritas yang semu itu dapat timbul dalam diri tiap-tiap kita. Sikap ini lahir dari rendahnya perikemanusiaan, hilangnya perasaan, psikosis, dan kebencian yang akut.

(Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top