Saturday , May 30 2020
Breaking News
Universalitas dan Ketulusan Berbuat Baik

Universalitas dan Ketulusan Berbuat Baik

Nabi Ibrahim dikenal sebagai orang yang sangat dermawan dan penggemar tamu. Setiap hari dia hanya makan bila ditemani tamu. Setiap tiba waktu makam dia selalu berdiri depan rumah mengajak pelintas jalan untuk menemaninya makan. Bila tak menemukan tamu, dia mengelilingi pasar bahkan hingga pintu keluar kota.

Saking gemarnya mengundang tamu, dua malaikat berpenampilan dua manusia yang mengunjunginya ditawari makan hidangan seekor kambing namun menolaknya. Tindakan Ibrahim AS ini adalah fenomena yang mengundang keheranan banyak karena tak sesuai standar umum kedermawanan.

Sebelum makan bersama, sebagian orang terdorong untuk menyelidiki tendensinya,

“Apa yang harus saya lakukan untuk anda sebagai imbalan?”

“Sebutlah nama kekasihku (Tuhan).”

Mereka pun menyebutnya lalu makanan dihidangkan. Suatu hari seorang tamu yang memenuhi undangan sebelum menikmati hidangan bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan anda?’

“Sebutlah nama Kekasihku (Allah) lalu kita makan bersama,” sahut Nabi Ibrahim.

“Kekasih anda bukanlah kekasih saya,” ujarnya.

Dia pun berdiri lalu meninggalkan rumah itu.

Malaikat datang menyampaikan salam dan pesan Allah.

“Mengapa kau biarkan tamu itu meninggalkan rumahmu tanpa makan,” tanyanya.

“Dia menolak menyebut nama-Mu,” jawab ayah Ishak dan Ismail itu.

“Mengapa kau menjadikan penyebutan nama-Ku sebagai syarat hanya untuk makan sehari bersamamu. Padahal aku sebagai pemilik semuanya termasuk jamuanmu memberinya makan selama 50 tahun meski Aku tahu dia tak menyembah-Ku.

Ibrahim pun sejak mendapatkan teguran itu tak berusaha menyertakan penyebutan nama Allah sebagai syarat dan imbalan.

Kisah di atas menyadarkan kita bahwa :

  1. Sekadar meminta seseorang menyebut nama Tuhan sebelum berbuat baik mengurangi kesempurnaan sebuah perbuatan baik. Bila sekadar meminta penyebutan nama Tuhan dianggap mengurangi kesempurnaan sebuah kebaikan, tentu mengajak orang untuk menganut agama dan mazhab dengan alasan berdakwah bisa dianggap sebagai marketing keyakinan. Lebih-lebih, bila dilakukan dengan cara yang agresif.
  2. Ketulusan adalah memurnikan kebaikan sebagai kebaikan bukan investasi.
  3. Ketulusan tak hanya berlaku dalam tindakan namun dalam ucapan bahkan dalam benak.
  4. Berbuat baik secara tulus kepada manusia meniscayakan universalitas yang bebas diskriminasi keyakinan dan status.
  5. Kebenaran atau pandangan yang diyakini benar harus dipilih secara sukarela bukan dijajakan apalagi dipaksakan.

Ustadz Muhsin Labib Assegaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top