Sunday , September 22 2019
Breaking News
Unsur-unsur Kemukjizatan Alquran

Unsur-unsur Kemukjizatan Alquran

Pembahasan sebelumnya Alquran Sebagai Mukjizat Nabi Muhammad Saw Abadi Hingga Akhir Masa

Setelah secara global kita mengetahui bahwa Alquran merupakan firman dan mukjizat Ilahi, kami akan menjelaskan lebih luas lagi unsur-unsur kemukjizatan kitab ini.

1. Kefasihan dan keindahan Alquran

Unsur pertama kemukjizatan Alquran adalah kefasihan dan balaghah-nya. Artinya, untuk menyampaikan maksud dan tujuan dalam setiap masalah, Allah Swt menggunakan kata dan kalimat yang paling lembut, indah, ringan, serasi dan kokoh. Melalui cara tersebut, Dia menyampaikan makna-makna yang dimaksudkan kepada para mukhatab (audiens), yaitu melalui sastra yang paling baik dan mudah dipahami.

Tentunya, tidak mudah memilih kata dan kalimat yang akurat dan sesuai dengan makna-makna yang tinggi dan mendalam kecuali bagi orang yang telah menguasai sepenuhnya ciri-ciri kata, makna yang dalam dan hubungan imbal-balik antara kata dan maknanya agar dapat memilih kata dan ungkapan yang paling baik dengan memerhatikan seluruh dimensi, kondisi dan kedudukan makna yang dimaksud pengetahuan lengkap tentang hal itu tidak mungkin dapat dicapai oleh siapa pun kecuali dengan bantuan wahyu dan ilham Ilahi.

Sesungguhnya, setiap manusia dapat mengetahui sejauh mana kandungan Alquran yang mencakup nada malakuti dan irama yang syahdu. Setiap orang yang mengetahui bahasa Arab, ilmu kefasihan dan keindahannya (balaghah), pasti dapat menyentuh keunggulan sastra Alquran.

Baca 20 Mukjizat Angka dalam Alquran

Adapun untuk mengetahui kemukjizatan Alquran dari unsur balaghah, kefasihan dan keindahan bahasanya, tidaklah mudah kecuali bagi orang-orang yang memiliki pengalaman dan spesialisasi di dalam pelbagai ilmu sastra Arab dan melakukan perbandingan antara keistimewaan-keistimewaan Alquran dan berbagai macam bahasa yang fasih dan baligh, serta menguji kemampuan mereka dengan melakukan analogi dalam hal itu. Pekerjaan semacam ini tidak sulit dilakukan kecuali oleh para penyair dan sastrawan Arab, karena keistimewaan orang-orang Arab yang paling menonjol pada masa diturunkannya Alquran adalah ilmu balaghah dan sastra. Puncak kemahiran mereka pada masa itu tampak ketika mereka mengadakan pemilihan bait-bait kasidah dan syair, setelah diadakan penelitian dan penilaian yang merupakan kegiatan seni dan sastra yang paling besar.

2. Keummian Nabi Saw

Kendati ukurannya tidaklah besar, Alquran adalah kitab suci yang mencakup berbagai pengetahuan, hukum-hukum dan syariat, baik yang bersifat personal maupun sosial. Untuk mengkaji secara mendalam setiap cabang ilmu tersebut memerlukan kelompok-kelompok yang terdiri dari para ahli di bidangnya masing-masing, keseriusan yang tinggi dan masa yang lama agar dapat diungkap secara bertahap sebagian rahasianya, dan agar hakikat kebenarannya bisa digali lebih banyak, meski hal itu tidak mudah, kecuali bagi orang-orang yang betul-betul memiliki ilmu pengetahuan, bantuan dan inayah khusus dari Allah Swt.

Alquran mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang aling tinggi, paling luhur dan berharga nilai-nilai akhlaknya, paling adil dan kokoh Undang-Undang Pidana dan Perdatanya, paling bijak tatanan ibadah, hukum-hukum pribadi dan sosialnya, Paling berpengaruh dan bermanfaat nasihat-nasihat dan wejangannya, paling menarik kisah-kisah sejarahnya dan paling baik metode pendidikan dan pengajarannya. Singkat kata, Alquran mengandung seluruh dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia untuk merealisasikan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Semuanya itu dirangkai dengan susunan yang indah dan menarik yang tidak ada bandingannya, sehingga semua lapisan masyarakat dapat mengambil manfaat darinya sesuai dengan potensi mereka masing-masing.

Terangkumnya semua ilmu pengetahuan dan hakikat di dalam sebuah kitab seperti ini mengungguli kemampuan manusia biasa. Namun, yang lebih mengagumkan dan menakjubkan adalah bahwa kitab agung ini diturunkan kepada seorang manusia yang tidak pernah belajar dan mengenyam pendidikan sama sekali sepanjang hidupnya, serta tidak pernah -walaupun hanya sejenak- memegang pena dan kertas. Dia hidup dan tumbuh besar di sebuah lingkungan yang jauh dari kemajuan dan peradaban.

Yang lebih mengagumkan lagi, selama 40 tahun sebelum diutus menjadi nabi, dia tidak pernah mendengar ucapan mukjizat semacam itu. Sedangkan ayat-ayat Alquran dan wahyu Tuhan yang beliau sampaikan pada masa-masa kenabiannya memiliki metode dan susunan kata yang khas dan berbeda sama sekali dari seluruh perkataan dan ucapan dirinya sendiri. Perbedaan yang jelas antara kitab tersebut dengan seluruh ucapan beliau dapat disentuh dan disaksikan oleh seluruh masyarakat dan umatnya. Sekaitan dengan ini, Allah Swt berfirman,

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumya (Alquran) satu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis satu kitab dengan tanganmu. Karena jika kamu pernah membaca dan menulir maka para pengingkar itu betul-betul akan merasa ragu (terhadap Alquran). (QS. al-Ankabut: 48)

Pada ayat yang lainnya Allah Swt berfirman,

Katakanlah, “Jikalah Allah menghendaki, niscaya aku tidak membawakannya kepadamu dan Allah tidak pula memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (QS. Yunus: 16)

Dan kemungkinan besar bahwa ayat 23, surah al-Baqarah, Dan jika kalian masih merasa ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah yang serupa denganmu menunjukan unsur kemukjizatan ini. Yakni, kemungkinan besar kata ganti “nya” yang terdapat pada kata “serupa dengannya” itu kembali kepada kata “hamba Kami.”

Kesimpulannya, barangkali kita berasumsi tentu mustahil bahwa ratusan kelompok yang terdiri dari para ilmuwan yang ahli di bidangnya masing-masing bekerjasama dan saling membantu itu mampu membuat kitab yang serupa dengan Alquran. Namun, tidak mungkin bagi satu orang yang ummi (tidak belajar baca tulis sama sekali) mampu melakukan hal tersebut. Dengan demikian, kedatangan Alquran dengan segenap keistimewaan dan keunggulannya dari seorang yang ummi merupakan unsur lain dari kemukjizatan kitab suci itu.

3. Konsistensi kandungan Alquran

Alquran adalah sebuah kitab suci yang Allah turunkan selama 23 tahun dari kehidupan Nabi Muhammad saw, yaitu masa-masa yang penuh dengan berbagai tantangan, ujian dan berbagai peristiwa yang pahit maupun yang manis. Akan tetapi semua itu sama sekali tidak memengaruhi konsistensi dan kepaduan kandungan Alquran serta keindahan susunan katanya. Kepaduan dan ketiadaan ketimpangan dari sisi bentuk dan kandungannya merupakan unsur lain dari kemukjizatan Alquran. Allah Swt berfirman, Apakah mereka tidak merenungkan Alquran. Seandainya Alquran itu datang dari selain Allah, pasti mereka akan menemukan banyak pertentangan (QS. al-Nisa: 82).

Penjelasannya: Minimalnya, setiap manusia menghadapi dua perubahan. Pertama, pengetahuan dan pengalamannya itu akan bertambah dan berkembang. Semakin bertambah dan berkembangnya pendidikan, pengetahuan, pengalaman dan kemampuannya, akan semakin memengaruhi ucapan dan perkataannya. Sudah sewajarnya akan terjadi perbedaan yang jelas di antara ucapan-ucapannya itu sepanjang masa 20 tahun tersebut.

Kedua, berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan berdampak pada berbagai kondisi jiwa, emosi dan sensitivitasnya seperti: putus asa, harapan, gembira, sedih, gelisah dan tenang. Perbedaan kondisi-kondisi tersebut berpengaruh besar dalam cara berpikir seseorang, baik pada ucapannya maupun pada perbuatannya. Dan, dengan banyak dan luasnya perubahan tersebut, maka ucapannya pun akan mengalami perbedaan yang besar. Pada hakikatnya, terjadinya berbagai perubahan pada ucapan seseorang itu tunduk kepada perubahan-perubahan yang terjadi pada jiwanya. Dan hal itu pada gilirannya tunduk pula kepada perubahan kondisi lingkungan dan sosialnya.

Kalau kita berasumsi bahwa Alquran itu ciptaan oleh pribadi Nabi saw sebagai manusia yang takluk kepada perubahan-perubahan tersebut, maka dengan memerhatikan berbagai perubahan kondisi yang drastis dalam kehidupan beliau akan tampak banyaknya kontradiksi dan ketimpangan di dalam bentuk dan kandungannya. Nyatanya, kita saksikan bahwa Alquran tidak mengalami kontradiksi dan ketimpangan itu.

Maka itu, kepaduan, konsistensi dan ketiadaan kontradiksi di dalam kandungan Aluran serta ihwal kemukjizatannya ini merupakan bukti lain bahwa kitab tersebut datang dari sumber ilmu yang tetap dan tidak terbatas, yakni Allah Yang Mahakuasa atas alam semesta, dan tidak tunduk pada fenomena alam dan perubahan yang beraneka ragam.

Dikutip dari buku karya Ayatullah Taqi Misbah Yazdi, Merancang Piramida Keyakinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top