Tuesday , September 17 2019
Breaking News
Urgensi Media Berita Islami

Urgensi Media Berita Islami

Islam dan Media BeritaDalam rangka peringatan hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Radio Rasil AM 720, menggelar diskusi terbuka bertema “ISLAM DAN MEDIA BERITA,” Selasa (18/2) kemarin di Auditorium Adhiyana WISMA ANTARA, Jl. Medan Merdeka Selatan 17, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai pembicara di antaranya Akhmad Kusaeni (Pemred LKMD Antara), Arifin Asydhad (detik.com), Bambang Budiono (sayangi.com), Nasihin Masha (Republika), Asro Kamal Rokan (Jurnal Nasional), Mauluddin Anwar (Senior Manager Liputan 6 SCTV), Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) dan Nurfitri Taher (RASIL AM 720), dengan Sulis sebagai moderator.

Banyak hal menarik disampaikan para pembicara dalam diskusi yang berlangsung empat jam dimulai pukul sembilan pagi hingga pukul satu siang itu.

Nurfitri Taher dari Radio Rasil memaparkan bahwa dalam menjalankan tugas Jurnalistiknya media Islam mesti bermuara pada titik kemaslahatan umat, bukan pada kepentingan satu atau dua golongan saja. Menegaskan pandangannya, Nurfitri mengutip Surah An-Nahl, ayat 125;
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

“Inti dari jurnalisme Islam adalah amar ma’ruf nahi munkar dengan mempraktikkan akhlak yang luhur, memberitakan sesuai fakta dan data, tidak melaknat, tidak menggunjing, serta menjauhi hujatan dan sikap menghakimi, karena Allah sendiri yang tahu, siapa yang sesat dan siapa yang telah diberi petunjuk,“ ujarnya menjelaskan maksud Surah An-Nahl, ayat 125 itu.

Sementara Akhmad Kusaeni selaku Pemred LKBN Antara, sebelum memaparkan lebih jauh terlebih dahulu menjelaskan peta global yang terjadi saat ini dan menghubungkannya dengan buku Thomas Friedman yang berjudul “The Lexus and Olive Tree.” Kusaeni berpandangan bahwa saat ini tengah terjadi benturan peradaban antara “Lexus” sebagai simbol modernitas dan “Olive Tree” atau “Pohon Zaitun” sebagai simbol kembali ke akar agama. Hal itulah kata Kusaeni yang mengakibatkan muculnya fenomena global kebangkitan agama. Akibatnya, masing-masing agama menuju pada konservatifisme. Karena itu pula wacana pemurnian agama berkembang dan memunculkan radikalisme dengan klaim sepihak; yang lain sesat dan hanya agama yang dianut sendirilah yang paling benar. Bahkan bukan hanya itu, bentrok antar sesama agama berbeda mazhab pun kerap terjadi atas nama pemurnian agama. Ujungnya, berita bentrok antar/intra agama cenderung menjadi komoditas favorit media.

Menjelaskan benturan Lexus vs Pohon Zaitun, Kusaeni menggambarkan bahwa saat ini banyak orang yang hidup dalam modernitas merasa hampa dan kosong, sehingga mereka ingin kembali ke Pohon Zaitun, ke kepurbaannya, ke akar agama-agama. Menurutnya inilah di antara sebab terjadinya fenomena global kebangkitan agama.

“Media telah gagal menegakkan prinsip good Journalism dalam liputan terutama jika terkait agama. Tak jarang media Justru menjadi provokator yang memanaskan dan memperburuk ketegangan ketika terjadi konflik antar agama,” sesalnya atas pergeseran peran media. Untuk itu Kusaeni menawarkan sejumlah solusi, di antaranya, menciptakan tim redaksi pluralis yang merefleksikan keberagaman di tengah masyarakat. Lalu adanya panduan liputan masalah agama; tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

“Dengan begitu diharapkan media Islam tidak menjadi media caci-maki, fitnah, penghakiman dan penyesatan. Tapi menjadi media yang berakhlak penuh santun, menampilkan fakta apa adanya dan yang paling penting adalah menjadi media yang menjunjung tinggi prinsip rahmatan lil ‘alamin.”

Merintis media pemberitaan islami memang bukan perkara mudah. Selain persaingan ketat dunia media, kaidah jurnalistik lebih ketat perlu diterapkan di dalamnya. Karena media islami mesti mengedepankan kemaslahatan umat, menyatakan kebenaran dan fakta, bukan opini sesat apalagi rekayasa. Belum lagi keniscayaan untuk berhadapan dengan dominasi media mainstream yang telah lebih dulu dan lebih kuat menancapkan pengaruhnya. Itulah tantangan umat Islam masa kini agar mulai berperan aktif, terjun langsung dalam pengelolaan media pemberitaan untuk menginformasikan kondisi Islam kepada umat dari sudut pandang Islam sendiri. (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top