Tuesday , April 7 2020
Breaking News
Wajah Kusam Kebangkitan Nasional

Wajah Kusam Kebangkitan Nasional

Tiap tanggal 20 Mei Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai simbol kebangkitan bangsa. Namun benarkah kita sudah bangkit? Bagaimana dengan suara-suara korban pelanggaran HAM yang hingga saat ini masih terdengar pilu menuntut haknya di berbagai penjuru bumi Nusantara?

Mari kita dengar misalnya, suara dari Endang Darsa, salah seorang korban pelanggaran HAM yang diciduk tentara tahun 1965 dengan tuduhan sebagai anggota PKI.

“Saya tanpa salah tanpa apa-apa main tangkap aja tentara,” tutur Endang. “Kita lagi di rumah, lagi ronda jam 10 malam malah ditangkap, gak tanya ini-itu. Dituduh saya ikut PKI.”

“Pokoknya saat itu kalau dituduh PKI ya tangkap lah langsung,” lanjut Endang. “Sampai di tempat, langsung digebukin. Tidak berperikemanusiaan. Kayak nangkap kebo aja. Saya dituduhnya ikut bunuh jenderal. Orang kayak saya begini suruh bunuh jenderal udah gak mungkin.”

Saat ditanya mengenai Hari Kebangkitan Nasional, lelaki yang tujuh tahun mengenyam pahitnya penjara ini, dengan bibirnya yang keriput itu hanya tertawa kecut.

“Ya belum bangkit lah. Bangit itu kan harusnya berubah. Rakyat yang punya kuasa. Sekarang mana? Jadi cuma istilah aja itu Hari Kebangkitan Nasional. Belum nampak,” ujar Endang. Rakyat bangkit itu kalau semua di tangan rakyat. Nah itu nantinya ada di tangan demokrasi rakyat, Kalau rakyat berkuasa kaum kapitalis itu mestinya tidak berkuasa lagi.”

Masih Adakah Optimisme?

Lain Endang, lain pula Maria Katarina Sumarsih, ibunda BR Nurma Irmawan, mahasiswa Atmajaya yang mati tertembak peluru tajam aparat di halaman kampusnya sendiri ketika sedang menolong seorang korban saat tragedi Semanggi Satu, 13 November 1998.

Meski kehilangan putranya, Sumarsih masih menyimpan optimisme. Sembilan tahun ia beserta kawan-kawan korban pelanggaran HAM masa lalu melakukan aksi Kamisan di depan Istana Negara menuntut diselesaikannya kasus pelanggaran HAM masa lalu.

“Yang mendorong saya terus berjuang adalah cinta. Cinta saya kepada putra saya, Wawan dan juga cinta saya kepada korban-korban dan juga pada sesama manusia. Ketika ada cinta, saya memiliki semangat melanjutkan perjuangan Wawan dan kawan-kawannya, yaitu ingin mewujudkan agenda reformasi yang ketiga, tegakkan supremasi hukum,” ujar Sumarsih yang mengatakan bahwa ia tetap optimis pada pemerintahan Jokowi.

“Yang harus kita kritisi adalah jangan sampai negara ini melanggengkan impunitas. Jadi setiap tahun Hari Kebangkitan Nasional harus kita refresh, segarkan lagi,” tambahnya.

Aliman, warga dari Komunitas Ahmadiyah, Tambun, Bekasi, rupanya tidak seoptimis Sumarsih. Sebagai warga Ahmadiyah yang diserang kelompok takfiri dan intoleran, ia mengeluhkan abainya pemerintah.

“Seharusnya dituntaskan, ya kasus kita ini. Kita kan sama-sama mencari keadilan. Kita sebagai warga Ahmadi sangat prihatin dengan keadaan kami. Kami sering dianiaya, diintimidasi gitu. Kami warga Ahmadi sangat menyayangkan pemerintah tidak tegas. Kami sama-sama Islam serasa dikucilkan, padahal ibadah kami sama, mengakui salat sebagai rukun Islam, yakin sama Allah, kitab kami Alquran, hadis. Kami juga legal, bukan ilegal,” keluh Aliman.

Muslim Syiah Sampang: Pengungsi di Negeri Sendiri

Ratusan warga Muslim Syiah Sampang, hingga kini sudah hampir tiga tahun terlunta di pengungsian. Tak hanya diabaikan, bahkan pemerintah daerah sendiri seolah tak begitu mempedulikan hak konstitusional dan keinginan pengungsi yang hingga kini begitu merindukan pulang ke kampung halamannya sendiri. Iklil, koordinator pengungsi saat ABI Press wawancarai mengeluhkan hal ini.

“Gimana ya saya ngomongnya, karena faktanya kami sebagai warganegara masih jadi pengungsi di negeri sendiri,” ujar Iklil.

“Menurut saya Hari Kebangkitan Nasional itu patut dirayakan jika semua elemen bangsa apa pun agamanya bisa merasakan kalau hak-haknya sudah terpenuhi. Ketika pemerintah mampu memenuhi hak-hak rakyatnya, baru Hari Kebangitan itu layak dirayakan.”

“Kita ini sesama anak bangsa, yang mestinya harus saling menghormati dan saling mengasihi. Sudah seringkali soal kebhinnekaan digembar-gemborkan. Seringkali disebut bahwa Indonesia itu punya prinsip Bhinneka Tunggal Ika, tapi faktanya, kita ini beda sudut pandang sedikit aja malah dimusuhi, dikucilkan,” sambat Iklil.

“Menurut saya sebagai warganegara, Bhinneka Tunggal Ika itu jangan hanya slogan saja. Harus dibuktikan. Seperti halnya kita ini harus membuktikan bahwa Islam itu agama yang rahmatan lil ‘alamin,” tegas Iklil.

Lebih lanjut Iklil mengeluhkan bahwa terlunta-luntanya pengungsi Syiah Sampang ini karena aparat pemda, tokoh, dan masyarakat seolah tak peduli. “Yang saya alami, kayaknya mereka gak mau peduli dengan masalah ini. Ya tokoh, juga masyarakat.”

Lalu kapan yang disebut “Kebangkitan Nasional” akan benar-benar kita capai jika hak saudara-saudara kita sebangsa setanah air seringkali diabaikan, bahkan masih banyak di antara mereka yang tak jelas nasibnya dan dibiarkan terlunta-lunta oleh negara? (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top