Saturday , July 11 2020
Breaking News
Wanita dalam Pandangan al-Quran (1/2)

Wanita dalam Pandangan al-Quran (1/2)

Alkisah, seorang orientalis Barat telah mempelajari al-Quran selama 10 tahun. Berbagai buku dibacanya, bermacam muslim ditemuinya, tapi dirinya belum juga tersentuh hidayah Islam. Hingga suatu malam, ia membuka-buka kitab hadis Rasulullah saw. Pandangannya terpaku sejenak pada salah satu hadis Rasulullah saw yang membuatnya tercengang. Ia bergegas menutup kitab itu dan segera bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Ya, setelah 10 tahun mempelajari, ia pun memeluk Islam setelah mendapat hidayah lewat satu hadis Rasulullah saw. Tahukah Anda, hadis apa yang disabdakan Rasulullah shalallahu alaihi wa alihi wasallam?

Rasulullah saw bersabda, “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah marah dengan kemarahanmu dan rela dengan kerelaanmu.”

Membaca sabda ini, lelaki itu kontan terkagum-kagum. Kemudian ia berkata, agama Islam adalah agama paling agung karena Allah menitipkan kerelaan pada seorang wanita. Sungguh, Islam memuliakan wanita.

Dewasa ini, kaum wanita berada dalam dua kondisi memprihatinkan; di satu sisi terpenjara dalam kebodohan, tak boleh tahu dunia luar, dilarang berinteraksi dengan masyarakat, menjadi budak suaminya, dan hidup dalam tekanan.

Tapi, di sisi lain, banyak wanita yang tergoda oleh kebebasan yang dijanjikan dunia Barat. Mereka merasa bebas melakukan apapun, bertemu siapapun, dan bekerja di manapun.

Dari kedua kondisi ini, sekilas kita menilai bahwa kondisi kedua jauh lebih baik dari kondisi pertama; wanita mendapatkan kebebasan mutlak, boleh melakukan apapun yang bisa dilakukan lelaki. Tapi faktanya, kondisi ini tak seindah dipandang mata. Dunia Barat mencetuskan kebebasan wanita hanya sebagai kedok untuk menggiring wanita melepaskan jati diri kewanitaannya. Sementara Islam dituduh sebagai agama keras dan merendahkan martabat wanita. Islam dianggap mengekang kebebasan kaum hawa serta menganggapnya sebagai ciptaan kedua (second creation) di alam ini

Pandangan al-Quran

Dalam beberapa prinsip, Allah Swt menyetarakan posisi wanita dengan lelaki. Allah Swt sama sekali tidak membedakan lelaki dan wanita dalam pandangan-Nya.

1. Sama Terkait Asal Ciptaan

Saat menciptakan manusia, Allah Swt sama sekali tidak membedakan asal muasal ciptaan wanita dan lelaki. Wanita tidak pernah dinomorduakan.

Allah Swt berfirman: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan (Allah) menciptakan pasangannya darinya. (QS. an-Nisa: 1)

Ayat ini cukup menjelaskan bahwa menurut Islam, tak ada perbedaan kelas antara lelaki dan wanita.

Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban; bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim kemudian mani itu menjadi sesuatu yang melekat. Lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya lalu Dia menjadikan dirinya sepasang laki-laki dan perempuan. (QS. al-Qiyamah: 36-39)

2. Sama dalam Menerima Taklif

Allah Swt mengutus rasul-Nya untuk lelaki dan wanita. Seluruh perintah dan larangan yang dibawa Rasulullah saw bersifat umum (berlaku) untuk lelaki dan wanita. Tak ada pilih kasih dalam urusan syariat terkait perintah beribadah, misalnya. Dengan jelas, Allah Swt memberi perintah pada keduanya.

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah: 21)

Dalam memerintahkan ibadah, Allah Swt menggunakan kata “manusia” alias tidak khusus bagi lelaki saja. Hanya saja, terkait tata caranya, terdapat perbedaan sesuai kondisi masing-masing.

3. Sama dalam Perjalanan menuju Puncak Kesempurnaan.

Allah Swt adalah pencipta segalanya. Manakala Allah Swt menciptakan sesuatu, maka itu ditujukan agar ciptaan-Nya sampai pada kesempurnaan.

Dia (Musa) berkata, “Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 50)

Begitu pula manakala menciptakan laki-laki dan wanita; keduanya diciptakan agar sama-sama mencapai tingkat kesempurnaannya. Ini bukan lagi berbicara tentang jasad. Bagian diri kita yang menyempurnakan adalah ruh; dan ruh tak lagi beridentitas lelaki ataupun wanita.

Bahkan Allah Swt berulang kali menceritakan kisah sejumlah wanita yang dapat mencapai puncak kesempurnaan insani. Nama mereka diabadikan dalam al-Quran seperti istri Firaun dan Sayyidah Maryam. Allah Swt menjadikan keduanya contoh bagi kaum lelaki maupun wanita. Sebab, kesempurnaan manusia itu kesempurnaan ruh, bukan kesempurnaan jasad.

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Firaun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya maka kami tiupkan ke dalam rahim sebagian dari roh ciptaan kami dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhan-Nya, dan kitab-kitabnya, dan dia termasuk orang-orang yang taat. (QS. at-Tahrim: 11-12)

Bayangkan, betapa Islam sangat mengagungkan wanita. Hingga Allah Swt Sendiri menjadikan wanita sebagai contoh bagi kaum lelaki maupun sesama wanita. Bahkan, seorang nabi sampai terheran-heran dengan tingginya tingkat kesempurnaan wanita seperti Maryam as.

Allah Swt menceritakan Nabi Zakaria as dalam Firman-Nya:

Setiap kali Zakariya masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah) dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali Imran: 37)

Acapkali bermaksud menampakan kesempurnaan putrinya, Rasulullah saw bersabda, “Andai kebaikan itu berwujud seseorang, maka ia adalah Fatimah.”

Di tengah bangsa Arab jahiliyah yang begitu merendahkan kaum wanita, di saat anak perempuan dianggap sebagai aib, Rasulullah saw datang untuk mendobrak tradisi gelap itu. Tatkala putri tercintanya datang, beliau saw menghormatinya dengan cara berdiri, lalu memeluk dan mencium tangan putrinya. Apakah ini yang disebut ajaran yang merendahkan wanita?

4. Sama dalam Beroleh Keadilan Allah Swt

Allah Swt menciptakan alam ini dan menegakkannya dengan keadilan. Para nabi juga diutus untuk menegakkan keadilan di bumi. Allah Swt berfirman:

Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca keadilan agar manusia dapat berlaku adil. (QS. al-Hadid: 25)

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang adil. (QS. al-Maidah: 42)

Sungguh Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan. (QS an-Nahl: 90)

Mungkinkah dengan Maha Adil-Nya, Allah Swt membedakan antara lelaki dan wanita? Bahkan dengan gamblang, Allah Swt memberi pahala kepada lelaki dan wanita tanpa membeda-bedakan. Allah Swt memberi pahala sesuai perbuatannya, bukan dikarenakan identitas biologisnya sebagai lelaki atau wanita.

Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan. (QS Ali Imran: 195)

Dengan keadilan Allah Swt ini, mustahil terdapat ajaran Islam yang merendahkan wanita di bawah pria. Namun, bukankah banyak hal lain yang seakan membedakan perempuan dan lelaki seperti perbedaan dalam warisan, di mana anak perempuan hanya mendapat separuh bagian dari anak lelaki? Bukankah banyak pula riwayat yang menyebut wanita ini kurang akal, kurang agamanya, seakan ia menjadi pangkal masalah kehidupan? Bukankah istri harus tunduk pada suaminya dalam ajaran Islam? Apakah segenap perkara di atas dapat bermakna bahwa Islam sangat merendahkan martabat wanita? Silahkan menyimak pembahasan selanjutnya.

Ustadz Muhammad bin Alwi BSA, “25 Hidangan dari al-Quran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top