Tuesday , August 20 2019
Breaking News
Wawancara dengan Imam Muhammad Al Asi (Mufassir Islamic Center Washington)

Wawancara dengan Imam Muhammad Al Asi (Mufassir Islamic Center Washington)

Di sela acara Deklarasi Jakarta belum lama ini, tim media ABI Press berkesempatan melakukan wawancara esklusif dengan Imam Muhammad Al Asi, Mufassir Islamic Center Washington, Amerika, salah satu perwakilan cendikiawan Muslim yang hadir dalam acara tersebut. Kepada Al Asi kami tanyakan beberapa pandangannya di antaranya terkait kondisi riil umat Islam Amerika, tentang makna persatuan Islam, tak lupa juga fenomena merebaknya virus berbahaya takfirisme di tengah umat, dll. Berikut petikannya :

Bagaimana kondisi umat Islam di Amerika ?

Masyarakat Muslim Amerika sejak kasus 9/11 mengalami diskriminasi sosial. Semua orang tahu pasca tragedi itu di Amerika muncul berbagai undang-undang yang menyebut Muslim Amerika sebagai warga terusir dari negara asalnya. Ada juga undang-undang yang disebut Aksi Perlindungan Pertahanan Nasional atau NDAA. Muslim Amerika pun kerap menjadi korban kekerasan saat mereka bepergian. Belum lagi stigmatisasi media yang menyulut Islam Phobia di Amerika membuat perasaan umat Islam diperlakukan ibarat warga kelas 3 atau 4. Jadi, kondisi Muslim di Amerika saat ini sudah layaknya kondisi Yahudi 1930/40-an, atau seperti Jepang pada era Perang Dunia II, bahkan tak ubahnya nasib warga Afrika-Amerika beberapa ratus tahun yang lalu. Itulah pendapat umum tentang umat Islam Amerika saat ini.
 
Bagaimana hubungan antara Muslim Sunni dan Syiah di Amerika ?
 
Hubungan antara Sunni dan Syiah di Amerika tidaklah seburuk di negara lain. Muslim, baik Sunni ataupun Syiah bisa saling berkomunikasi dengan baik dan melakukan pertemuan di kota-kota metropolitan di Amerika. Sebagai representasi kedua komunitas, bermacam usaha yang baik untuk mengharmoniskan hubungan antara keduanya terus digalakkan. Meski ini bukan berarti sama sekali tak ada gerakan mengerikan ala Takfiri di Amerika. Takfiri telah ada sejak beberapa tahun lalu. Siapa pun yang berusaha untuk mengatakan saudara muslimnya bukanlah Muslim, harus disebut sebagai ekstrimis, baik itu dari pihak Sunni maupun Syiah. Tapi untunglah, berkat karunia Allah, alhamdulillah gerakan dan paham semacam itu tidak berkembang dan semoga saja segera punah.
 
Menurut Anda, apa arti persatuan umat ?

Al Quran menjelaskan bagaimana seharusnya hubungan antara sesama Muslim dan bagaimana hubungan Muslim dengan mereka yang di luar Islam. Jalan terbaik yang dapat ditempuh adalah dengan cara membuat ruang kesepahaman untuk menerima segala bentuk perbedaan. Itulah yang disebut dengan persatuan. Persatuan bukanlah upaya penghapusan keyakinan pihak yang satu atas keyakinan pihak lain. Persatuan adalah upaya saling mengakomodasi di antara dua pihak yang saling berbeda paham. Siapa saja yang belajar tentang Islam atau mengenal Islam, pasti mengetahui bahwa sejarah telah menceritakan bagaimana perbedaan pendapat dalam ijtihad antara para ulama yang telah ada sejak berabad-abad bisa berjalan tanpa ada gesekan dan ketegangan seperti yang seringkali terjadi, utamanya dalam persoalan politik dan ideologi yang ada di Dunia saat ini. 

Apalagi telah disampaikan dalam Al Quran bahwa setiap Muslim mempunyai hak yang sama dalam menjalin hubungan yang harmonis dan hidup berdampingan.
 
Menurut Anda siapa yang bermain di balik perpecahan umat Islam saat ini ?

Jenis propaganda yang dilakukan oleh sekelompok takfiri adalah bagian dari kebijakan global untuk menuduh kaum Muslimin dan mengeluarkan mereka dari perlakuan dan hak kebebasan yang sama sebagai warga masyarakat merdeka. Sangat jelas sumber dan kekuatan di belakang perpecahan umat Islam adalah kekuatan Zinois dan imperialis. Mereka yang telah melakukan semua itu. Yang menjadi masalah adalah umat Islam terperdaya oleh hal ini. Sebagian besar kaum Muslimin tidak menyadari hal itu semua. Jadi, Zionis dan imperialis selama ini selalu mendapatkan keuntungan dari ketidak tahuan umat Islam semacam itu. Jika saja setiap Muslim melengkapi diri merka dengan pengetahuan yang cukup akan siapa diri mereka, dalam arti kata yang lebih luas, maka tidak akan ada penyerangan dari luar dengan cara memecah belah kita melalui instrumen pemaksaan rezim dan pemerintahan dari mulai Samudera Pasifik hingga Atlantik. Jadi kesimpulan dari ini semua adalah soal perlunya pengetahuan yang akurat dan tepat. Hal itulah yang akan dapat mengakhiri upaya sejenis pertemuan anti Syiah di Bandung atau mungkin juga pertemuan-pertemuan lain semacam itu di seluruh bagian dunia. Dan seperti yang saya katakan beberapa saat lalu, hal ini dipengaruhi oleh ketidak pahaman kita sebagai Muslim tentang diri kita sebagai Muslim. Satu-satunya hal yang dapat menghapus kebodohan adalah dengan menambah ilmu pengetahuan dan tidak berpikir untuk bersekongkol dengan imperialis dan Zionis.

Dengan semakin menyebarnya takfirisme, menurut Anda, apa yang pemerintah harus lakukan?

Sering kali pemerintah memperhitungkan keputusan mereka dari sudut pandang ekonomi dan finansial. Pendeknya, asal mendapatkan kucuran uang dari negara kaya penghasil minyak yang mendanai setiap agenda perpecahan. Banyak politikus ingin terpilih kembali dan mereka membutuhkan uang untuk itu dan jika untuk mendapatkan uang dia harus mendukung takfiri, maka mereka akan melakukannya, walaupun hal itu sesungguhnya bertentangan dengan kehendak nurani mereka sendiri. Sebagian dari politikus mungkin telah tahu bahwa itu sebuah kesalahan tapi mereka akan mengorbankan semua itu demi masa depan politik mereka. Saya tidak berharap banyak dari politikus tapi kita masih bisa berharap lebih pada prinsip individu dari mereka yang terpilih. Jadi perhatikanlah prinsip mereka. Jika politikus tidak memiliki prinsip, maka orang-orang seperti merekalah yang akan menjadi target awal atau korban pertama para takfiri.  (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top