Thursday , November 14 2019
Breaking News
Wawancara: Relawan ABI Pasca Gempa dan Tsunami Palu

Wawancara: Relawan ABI Pasca Gempa dan Tsunami Palu

Gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018 adalah peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,4 SR diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada Jum’at, tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA.

Peristiwa alam yang cukup menarik perhatian banyak pihak di seluruh penjuru negeri ini. Ormas Islam Ahlulbait Indonesia, termasuk yang menaruh perhatian penuh terhadap para korban terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Berkoordinasi dengan pengurus Wilayah ABI Sulteng, relawan DPP ABI melalui Tim ABI Rescue terjun ke Palu untuk turut membantu penanganan pasca gempa dan tsunami.

Berikut petikan wawancara kami kepada Abu Mufadhdhal, relawan ABI pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018 kemarin.

Kapan relawan ABI tiba di lokasi terdampak gempa?

Relawan ABI sudah berangkat menuju Palu 12 jam setelah kejadian 29 September 2018, namun sempat tertahan di Mamuju selama 8 jam untuk memastikan sebuah jembatan yang dikabarkan terputus dapat dilalui. Pada hari kedua (Minggu, 30 September 2018) sudah memasuki kawasan Donggala perbatasan Sulbar setelah terhambat oleh antrian BBM di SPBU Pasangkayu selama 3 jam. Setelah melalui kemacetan selama 4 jam relawan masuk kota Palu pada malam hari. Minggu malam jam 20.30 sudah bergabung dengan relawan dari Kementerian Agama Prov. Sulbar.

Bagaimana kondisi di lapangan saat tim relawan ABI tiba di sana?

Kota lumpuh. Gelap gulita karena listrik padam. Kota kosong dari aktivitas perdagangan yang normal. Toko-toko tutup. Banyak jalanan yang masih rusak dan beberapa jalur tidak dapat diakses. Sekolah tutup. Angkutan umum sangat sedikit itupun tidak dapat diandalkan karena kekurangan bahan bakar. Antrian BBM di SPBU sangat panjang. Bahkan Setiap orang bisa mengantri selama 10 jam.

 Bantuan apa saja yang disalurkan oleh tim relawan ABI di sana?

Tim relawan ABI pada minggu pertama menyalurkan bahan makanan instan terutama di hari kedua dan ketiga (Minggu dan Senin). Saat itu, Pengungsi tidak sempat memasak. Mereka membutuhkan roti, biskuit, susu kotak, air mineral. Pada waktu itu, relawan ABI masih belum terkoneksi dengan pengurus ABI di Sulteng. Dengan demikian relawan ABI bergabung dengan tim medis di RS Undata untuk membantu menangani pasien yang dirawat sementara di tenda darurat. Saat itu masih ada ratusan pasien yang dirawat di tenda darurat sebelum dievakuasi ke Makassar menumpang pesawat terbang hercules milik TNI AU.

Tahap selanjutnya, Relawan ABI Gorontalo mulai gabung tanggal 3 Oktober. Dua hari sebelumnya saya baru bisa mengontak dan bertemu dengan Dr. Surahman dan Pak Indar Ismail dan esok harinya bertemu Mahadin Hamran. Jumlah kami sudah lumayan cukup untuk distribusi logistik.

Relawan ABI dari Jakarta dan Sulsel datang di tanggal 5 Oktober dengan membawa bantuan logistik seperti beras, lauk pauk, makanan instant untuk bayi dan dewasa, minyak goreng, air mineral, perlengkapan dan pakaian bayi maupun orang dewasa baik pria maupun wanita, tenda, tikar, obat-obatan, dan susu. Sampai hari Sabtu ini kita sudah salurkan lebih dari 1000 paket sembako, di luar 140 KK yang kita bina.

Apakah tim relawan ABI bekerjasama dengan lembaga lainnya dalam kegiatan rescue?

Dalam kegiatan resque relawan ABI bekerjasama dengan lembaga lainnya, terutama membantu BPNP atau gabungan BPBD se-Indonesia, ormas-ormas lain.

Bagaimana pandangan anda terhadap upaya pemerintah dalam memberi bantuan dan rekonstruksi terhadap daerah-daerah terdampak gempa?

Pemerintah secara umum sudah bagus dalam penanganan daerah-daerah terdampak gempa. Pemerintah sudah membuka akses transportasi, listrik sudah pulih, BBM sudah tidak langka lagi. Hanya saja dalam penyaluran bantuan saya kira masih belum optimal, terbukti dari beberapa lokasi yang kami datangi belum mendapat bantuan logistik sama sekali. Mereka bahkan sempat beberapa kali antri di posko-posko pemerintahan selama berjam-jam tetapi tetap mereka tidak mendapatkan bantuan. Karena untuk mendapatkan bantuan mereka harus membawa dokumen KTP atau KK, padahal KTP dan KK mereka tertimbun reruntuhan gempa.

Kendala apa yang dihadapi saat melakukan kegiatan di sana?

Kendala awal adalah komunikasi yang terputus karena jaringan telkomsel dan internet tidak ada. Kedua masalah transportasi darat karena kerusakan jalanan dan kelangkaan BBM. Ketiga masalah listrik menyebabkan air bersih tidak tersedia di rumah-rumah penduduk, termasuk posko. Setelah memasuki hari kelima barulah semua merangkak maju. Namun, hambatan berikutnya adalah tiadanya peta dan data atau informasi mengenai penyebaran pengungsi. Tidak teraturnya sistem pembagian logistik. Pengungsi harus berusaha sendiri mendatangi pusat suplay logistik, misalnya di Makorem Palu, Kantor Walikota, dll. Tidak merata. Ada yang dapat banyak namun ada yang tidak mampu bersaing dengan pengungsi lainnya.

Inilah yang disurvei oleh Posko ABI Peduli lalu dilakukan pelayanan.

Ceritakan sedikit pengalaman pribadi anda saat melakukan kegiatan rescue di palu.

Tiba Minggu malam kami langsung RS Undata. Disana sudah banyak jenazah yang dijejer. Kegiatan dihentikan malam itu karena faktor penerangan yang tidak mendukung. Esok harinya, evakuasi hanya di Balaroa, Petobo, sedangkan Jono Oge masih terisolasi. Jalanan putus. Saya memutuskan untuk membantu penyaluran logistik saja sambil menunggu informasi dari DPP ABI untuk berkoordinasi tentang langkah selanjutnya. (Haidar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top