Wednesday , December 19 2018
Breaking News
Zainab binti Ali, Wanita Pewarta Peristiwa Karbala

Zainab binti Ali, Wanita Pewarta Peristiwa Karbala

Zainab binti Ali bin Abi Thalib adalah seorang putri dari keturunan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa (l. 5 H/626 atau 6 H/627 – w. 62 H/681). Beliau adalah istri Abdullah bin Jakfar dan turut hadir bersama Imam Husain as pada Peristiwa Karbala. Dengan usainya perang, beliau ditawan bersama sekelompok Ahlulbait Imam Husain a.s lainnyA. Beliau beserta rombongan dibawa ke kota Kufah dan dari sana ke Syam. Ketika menjadi tawanan, selain menjaga dan melindungi para tawanan lainnya, ia juga menyampaikan pidato-pidato yang sangat menggelora dan mencerahkan. Zainab al-Kubra dengan keberanian dan kefasihan serta keterampilannya telah menyebabkan langgengnya kebangkitan Asyura. karena dia banyak mengalami musibah maka dia dilakabi dengan Ummul Mashaib.

Zainab pada tahun 17 H menikah dengan Abdullah putra Ja’far ath-Thayyar . Dalam sebagian sumber dicantumkan bahwa empat putra dengan nama Ali, Aun, Abbas, Mohammad dan seorang putri bernama Ummu Kultsum, telah dicatat sebagai putra Zainab dan Abdullah. [1] Aun dan Muhammad mati syahid dalam tragedi Karbala. [2] keturunan dari anak-anak Ali disebut dengan Zainabiyun. [3]

Muawiyah melamar Ummu Kultsum untuk anaknya Yazid, namun Imam Husain a.s menikahkannya dengan anak sepupunya Qasim bin Muhammad bin Ja’far bin Abi Thalib. [4]

Sayidah Zainab di masa kecilnya benar-benar sangat mencintai Imam Husain as. Setiap kali penghulu para syuhada ini tidak berada di tempat, ia merasa tidak enak hati dan ketika melihat keindahan saudaranya, wajahnya kembali ceria. [5] Jika ia menangis, maka ia kembali tenang dan tentram setelah berjumpa Imam Husain a.s atau mendengar suaranya. [6]

Kecintaan yang langka dan ajaib inilah yang menyebabkan kebersamaannya dengan Imam Husain as. Pada suatu hari ketika Fatimah az-Zahra sa menyampaikan sebuah perkara kepada ayahnya, Nabi saw bersabda, “Buah cahaya hatiku, anak perempuan ini akan pergi bersama Husain ke Karbala dan ia akan ikut menderita dalam musibah dan penderitaan saudaranya.” [7]

Pada hari Asyura, ia membawa kedua anaknya yang masih muda yang bernama Muhammad dan Aun ke hadapan Imam Husain as dan berkata, “Allah swt telah menerima pengorbanan kakekku, Ibrahim Khalil as, maka terimalah pengorbananku ini! Seandainya jihad untuk para wanita tidak dilarang, maka setiap saat aku siap untuk memberikan jiwaku.” [8]

Ucapan dan ceramah-ceramah yang berisi dalil-dalil Alquran yang disampaikan Sayidah Zainab secara bijak di majelis Ibnu Ziyad di Kufah dan di istana Yazid, masing-masing menunjukkan akan kemampuan ilmu yang dimilikinya. Ia menyampaikan hadis-hadis dari ayahnya, Imam Ali as dan ibunya, Fatimah sa. [9] Selain itu, ilmu dan kepintarannya tercermin pada pengajaran dan tafsir Alquran yang ia ajarkan kepada para wanita Kufah semasa pemerintahan ayahnya, Ali as.[10]

Sayidah Zainab memiliki kedudukan penjelas riwayat dan hadis; sebagaimana Muhammad bin Amr, Atha bin Saib, Fatimah binti Husain sa dan yang lainnya meriwayatkan hadis dari Zainab sa. [11] Ia juga menukil riwayat-riwayat dari para Maksum dalam tema yang beragam, diantaranya mengenai kedudukan orang-orang Syiah, mencintai keluarga Nabi, peristiwa fadak, tetangga, pengutusan Nabi, dan lain-lain.

Aqilah Bani Hasyim ini bahkan menguasai ilmu-ilmu yang dipelajari dari ayahnya tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa depan. [12]

Zainab telah mewarisi kefasihan dan kesastraan dari ayah dan ibunya. Ketika ia berbicara seakan-akan ayahnya yang sedang berbicara. [13] Perkataan dan ucapan yang ia sampaikan di Kufah dan di majelis Yazid, juga perbincangan yang terjadi antara ia dan Ubaidillah bin Ziyad, serupa dengan khutbah-khutbah yang disampaikan oleh Imam Ali as dan khutbah Fadakiyah ibunya, Fatimah Zahra sa. [14]

Ketika Sayidah Zainab  berada di Kufah dan menyampaikan khutbah fasihnya, orang-orang saat itu gigit jari dan saling pandang sambil tercengang! Pada saat itu, seorang laki-laki tua berkata sambil menangis, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan mereka yang telah menghabiskan waktu mereka dengan sebaik-baiknya penghabisan, anak-anak mereka adalah anak-anak terbaik, perempuan-perempuan mereka sebaik-baiknya perempuan dan keturunan mereka adalah keturunan paling baik dan paling agung dari semua keturunan. [15]

Zainab dalam Peristiwa Karbala

Kebangkitan Asyura dengan kesyahidan Imam Husain as tidak sampai pada tujuan akhir, akan tetapi petunjuk dan kepemimpinannya beralih ke tangan anak perempuan Ali as. Sayidah Zainab sa telah mendapatkan tugas dari saudaranya dan Imam as dalam wasiatnya telah menyampaikan beberapa perkara kepadanya. Pada sore hari Asyura ketika Zainab sa menyaksikan Imam Husain as jatuh di atas tanah dan musuh-musuh berada di sekitar tubuhnya dengan bertujuan membunuhnya, ia keluar dari kemahnya. Ia memanggil Ibnu Sa’ad dengan panggilan yang demikian:

“یابن سَعد! اَیقتَلُ اَبُو عبداللّه وَ انتَ تَنظُرُ اِلَیهِ؟”

“Hai putra Sa’ad! Abu Abdillah akan dibunuh sementara engkau hanya melihatnya?” [16]
Ibnu Sa’ad tidak menjawab sedikitpun. Kemudian Zainab Kubra berteriak:

“وا اخاه! وا سیداه! وا اهل بیتاه! لیت السماء انطبقت علی الارض و لیت الجبال تدكدكت علی السهل”

“Oh saudaraku! Oh pemimpinku! Oh keluargaku! Oh, andai saja langit berbalik jatuh ke bumi! Oh, andai saja gunung hancur dan pecahannya terpencar di tepian pantai.” [17] Sayidah Zainab sa dengan rangkaian kata-kata ini, telah memulai periode kedua kebangkitan Asyura. Zainab mendatangi saudaranya dan menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, terimalah pengorbanan ini!” [18]
Ia melewati malam keterasingan para syahid di padang sahara dengan iringan tangis, lantunan yang memilUkan hati-hati yang lara, air mata dan rintihan duka para kekasih sambil merawat para yatim. Ia lewatkan malam itu dengan shalat dan bermunajat kepada Tuhan hingga subuh.

Ketika berada di samping tubuh Imam Husain, Sayidah Zainab menghadap ke arah Madinah dan menyampaikan ratapan-ratapan yang memilukan hati:

“وا محمّداه! بَناتُكَ سَبایا وَ ذُرّیتُك مُقَتّله، تسفی علیهم رِیحُ الصّبا، و هذا حُسینٌ مجزوزُ الَّرأسِ مِنَ القَفا، مَسلُوبُ العمامِةِ و الرِّداء”
“Ya Nabi, mereka ini adalah anak-anak perempuanmu yang berjalan dalam keadaan tertawan. Mereka adalah anak-anak keturunanmu dengan tubuh berlumuran darah, tergeletak di atas tanah dan tubuh mereka diterpa angin. Ya Rasulullah! Inilah Husain yang kepalanya telah terpenggal dari lehernya, jubah serta sorbannya dijarah.” [19]
“Ayahku bukan tebusan orang yang menjarah pasukan-pasukannya, kemudian merusak kemahnya! Bukan tebusan seorang musafir yang sudah tidak memiliki harapan untuk kembali.” [20]

Perkataan dan rintihan-rintihan Sayidah Zainab sa telah mempengaruhi kawan dan lawan. Mereka semua dibuatnya terpaksa menangis. [21]

Setelah hari Asyura, para tawanan dibawa ke Kufah. Mereka diarak dengan kondisi yang memilukan hati. Sejak awal pintu masuk kota Kufah, Sayidah Zainab berpidato yang cukup mempengaruhi para khalayak yang hadir di sana. Busyrin Khuzaim Asadi mengenai Khutbah sayidah Zainab berkata, “Pada hari ini, aku melihat Zainab putri Ali as. Aku bersumpah demi Allah, tidak pernah kulihat seseorang yang begitu mumpuni dalam berpidato; seakan-akan ia berucap dengan ucapan Ali bin Abi Thalib as. Ia membungkam masyarakat dengan berkata, “Diamlah kalian semuanya!” Dengan keterbungkaman ini, tidak hanya membuat kumpulan orang yang berjubel itu diam, bahkan dentangan lonceng unta-unta pun ikut tidak bersuara. [22]

Sayidah Zainab sa mengakhiri pidatonya. Ia telah menciptakan gelombang semangat yang sangat dalam di kota Kufah dan kondisi kejiwaan masyarakat pun goyah. Perawi berkata, “Setelah Zainab putri Ali as menyampaikan pidatonya, seluruh masyarakat terheran-heran sambil menggigit tangan-tangan mereka.” Di akhir pidatonya, mulai terasa gejolak kota dan kebangkitan perlawanan terhadap pemerintah. Untuk mencegah revolusi masyarakat terhadap pemerintah yang zalim, panglima pasukan mengirim para tawanan keluarga Nabi saw ke Darul Imarah, pusat pemerintahan Ubaidillah bin Ziyad. [23]

Sayidah Zainab sa bersama para tawanan memasuki Darul Imarah kota Kufah. Di sana ia berdialog dengan gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad. [24] Ucapan dan perkataan Sayidah Zainab sa memberikan pengaruh yang dalam kepada para penduduk. Ia telah membongkar kejahatan Bani Umayah. Kemudian Ubaidillah mengeluarkan perintah untuk memenjarakan mereka. Pidato Sayidah Zainab, perkataan Imam Sajjad as, Ummu Kultsum dan Fatimah binti Husain di kota Kufah serta Darul Imarah dan protes-protes yang dilancarkan oleh Abdullah bin Afif dan Zaid bin Arqam telah membuat penduduk Kufah berani dan menyiapkan lahan untuk bangkit melawan pemerintah yang zalim. Setelah mendengar ucapan dan pidato yang menggugah dari Sayidah Zainab as, Penduduk Irak benar-benar menyesal dan mulai berpikir bagaimana cara mengangkat kenistaan atas pembunuhan keluarga Nabi. Dengan bentukan-bentukan baru akhirnya mereka mengadakan perkumpulan dan bergabung bersama Mukhtar al-Tsaqafi.

Setelah peristiwa Karbala, Yazid bin Muawiyah memerintahkan Ubaidillah supaya mengirim rombongan Sayidah Zainab sa dan orang-orang yang bersamanya beserta kepala-kepala para syuhada ke Syam. Keluarga Imam Husain pun berjalan menuju kota Syam. [25]

Kondisi pemerintahan Yazid ketika masuknya para tawanan begitu kuat dan kokoh. Sebuah kota yang penduduknya bertahun-tahun mempunyai kebencian terhadap keluarga Ali as. Bertahun-tahun mereka termakan propaganda-propaganda yang dilakukan oleh keluarga Abu Sufyan. Dengan demikian, tidaklah heran ketika Ahlulbait Nabi memasuki kota Syam, para penduduk memakai pakaian baru dan kota dihiasi dengan gemerlap, para penyanyi sibuk mendendangkan lagu-lagunya dan penduduk tenggelam dalam kesenangan dan kegembiraan seakan-akan kota Syam tenggelam dalam kesenangan. [26]

Akan tetapi dalam waktu singkat, para tawanan memanfaatkan kondisi dan mengubahnya. Sayidah Zainab sa dan Imam Ali Zainal Abidin as menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan pidato. Keduanya membongkar segala kejahatan Bani Umayah. Di satu sisi, mereka mengubah permusuhan dan kebencian penduduk Syam terhadap Ahlulbait as menjadi kecintaan dan kerinduan. Di sisi lain, berhasil menciptakan kemarahan secara umum terhadap Yazid. Yazid sendiri melihat bahwa pembunuhan yang ia lakukan terhadap Imam Husain as bukan menjadikan kondisi menjadi lebih baik, justru hal tersebut malah menciptakan pukulan hebat yang menggoncangkan pemerintahannya.

Di Istana Yazid

Ucapan Sayidah Zainab Sa kepada Yazid:
“Gunakanlah segala tipu muslihat yang kau miliki, dan jangan segan-segan untuk mengerahkan segala upaya yang dapat kau lakukan. Dan lepaskan segala permusuhan dari bajumu, karena bahwa sesungguhnya noda kenistaan yang kau lakukan sepanjang masa tidak akan dapat dibersihkan. Puji syukur kepada Allah yang telah mengakhiri para penghulu pemuda surga dengan kebahagiaan dan pengampunan. Dan surga telah diwajibkan untuk mereka. Aku memohon kepada Allah untuk mengakhiri mereka dengan keluhuran dan menganugerahkan keutamaan-Nya yang banyak kepada mereka, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Kuasa”
Syahedi, Zendegani Hadhrat Fatimah Zahra, hlm. 260

Yazid mengadakan sebuah acara yang sebelumnya tidak pernah dibuat. Para bangsawan, pembesar dari berbagai negara dan para panglima pasukan ikut hadir dalam majelis tersebut. [28] Di hadapan para tawanan, Yazid melantunkan bait-bait syair kekufuran dan berkata mengenai kemenangannya. Ia juga menakwilkan ayat-ayat Alquran yang bermanfaat dan menguntungkan dirinya. [27]

Yazid dengan tongkat kayu di tangannya melakukan kebiadaban terhadap kepala suci cucu Nabi saw yang terpenggal di hadapannya. [28]Kedengkiannya terhadap Nabi dan Islam yang terpendam di dalam hatinya diluapkan dan tampakkannya. Ia kemudian melantunkan bait-bait syair sebagai berikut:

“Seandainya para pembesar kabilahku yang terbunuh di perang Badar masih hidup dan melihat bagaimana kelompok kaum Khajraj merintih karena pedang-pedang kami, sehingga mereka berteriak dengan senangnya, “Wahai Yazid! Jangan kau lunakkan tanganmu!” Kami telah membunuh para pembesar Bani Hasyim. Dan itu kami hitung sebagai pembalasan kekalahan di perang Badar. Kemenangan ini tebusan kami atas kekalahan tersebut. Bani Hasyim telah bermain dengan kekuasaan. Padahal, tidak pernah ada berita yang datang dari langit ataupun wahyu yang turun kepada mereka. [29] Aku bukanlah keturunan Khunduf [catatan 1] jika tidak membalaskan dendam nenek moyangku terhadap anak cucu Ahmad.

Serentak tiba-tiba Zainab Sa bangkit dari sudut majelis dan dengan lantang membantah ucapan-ucapan Yazid. Pidato yang disampaikan Zainab di istana hijau Yazid telah membuka kebenaran Imam Husain as dan membongkar kebatilan perbuatan-perbuatan Yazid. Pidato Zainab di majelis Yazid yang masuk akal telah mempengaruhi para pendengar yang hadir di sana. Hal itu menyebabkan Yazid menunjukkan sikap agak lunak dan lembut terhadap para tawanan. Ia menjaga jangan sampai timbul reaksi yang menyulitkan. [30]

Yazid akhirnya meminta saran kepada para pejabat di sekelilingnya tentang apa yang harus ia lakukan terhadap para tawanan. Walaupun sebagian orang mengatakan supaya nasib mereka disamakan dengan para syuhada lainnya, namun Nu’man bin Basyir menasehatinya supaya bersikap lemah lembut. [31]

Atas pengaruh pencerahan Sayidah Zainab sa, Yazid terpaksa melimpahkan kejahatan-kejahatan dan pembunuhan terhadap Imam Husain as ke atas pundak Ibnu Ziyad dan kemudian melaknatnya. [32]

Yazid kemudian mengizinkan mereka untuk melakukan bela sungkawa dan duka cita beberapa hari di kota Syam. Perempuan-perempuan keluarga Sufyan, yang di antaranya Hindun istri Yazid, di sebuah tempat tak berpenghuni pergi menyambut Ahlulbait as. Ia menciumi tangan dan kaki anak-anak perempuan Rasulullah saw sambil menangis dan merintih. Mereka mengadakan duka cita selama tiga hari. [33]

Akhirnya, para tawanan keluarga Nabi saw kembali ke kota Madinah dengan penuh kemuliaan dan penghormatan. [34]

Wafat

Beliau wafat pada hari Minggu tanggal 15 Rajab tahun 62 H.[35] Sebagian lagi meyamini bahwa beliau wafat pada 14 Rajab. [36]

Ada tiga pandangan tentang tempat pemakaman Sayidah Zainab:

  1. Syam: Secara masyhur diketahui bahwa makam Sayidah Zainab sa berada di Syam. Sekarang tempat ini berada di bagian selatan Damaskus. dikarenakan adanya Haram Sayidah Zainab, daerah ini disebut dengan “kota kecil Sayidah Zainab”. [37]
  2. Mesir: Sebagian sejarawan meyakini bahwa makam Sayidah Zainab berada di Mesir. [38] makam ini terletak di Kairo, di daerah kawasan Sayidah Zainab, dan dibangun kembali pada tahun 1173 H. Tempat ini dikenal dengan makam al-Sayidah Zainab dan Masjid al-Sayidah Zainab. [39]
  3. Pemakaman Baqi: Sebagian dari ahli sejarah menganggap pemakaman Baqi di Madinah adalah tempat pemakaman Sayidah Zainab sa. Sayid Mohsen Amin menerima perkataan ini dan menyatakan beberapa alasan untuk menolak dua perkataan lainnya. [40)

Sumber dan catatan kaki silahkan klik wikishia.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top