Tuesday , June 18 2019
Breaking News
Zikir dan Nalar, Dua Sayap Kesempurnaan Manusia

Zikir dan Nalar, Dua Sayap Kesempurnaan Manusia

Salah satu bentuk terindah interaksi dengan Tuhan adalah zikir. Zikir memiliki arti mengingat. Mengingat Tuhan akan membuat jiwa seseorang bersih dan suci serta segala kekotoran yang bersarang di hati seseorang akan tersapu bersih. Oleh karena itu, zikir termasuk sifat para Nabi dan nama Kitab Suci Alquran. Dalam surat at-Talaq, ayat 10-11 Allah Swt menyebutkan, “Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu. (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.”

Selain itu, salah satu nama dari Alquran adalah al-Dzikr seperti yang disebutkan oleh ayat 9 Surat al-Hijr yang artinya,” Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Dzikr (Alquran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Sebab dari penamaan Nabi dan Alquran dengan al-Dzikr, dikarenakan keduanya mengingatkan manusia kepada Tuhan, menyingkirkan awan kelalaian dan alpa dari hati manusia serta memberi cahaya Ilahi kepada hati-hati tersebut.

Salah satu dari manfaat mengingat Tuhan adalah ketenangan hati. Sejatinya mengingat Tuhan (Zikir) adalah obat untuk mengatasi stress dan penyakit jiwa. Stress kontradiksi dengan kestabilan jiwa yang diharapkan manusia serta akan menimbulkan berbagai penyakit kejiwaan. Ketenangan jiwa adalah tuntutan fitrah manusia serta berbagai aktivitas manusia sejatinya dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan ini.

Masih banyak perbedaan dalam menentukan hal-hal yang membuat tenang kehidupan seseorang. Banyak yang memandang ketenangan jiwa dapat diraih dengan kekayaan dan harta yang melimpah serta kesejahteraan hidup dari sisi materi. Sebagian lain memandang pangkat dan kedudukan sebagai faktor ketenangan jiwa. Namun dalam pandangan Alquran ketenangan jiwa hanya dapat diraih dengan mengingat Tuhan (berzikir) dan hal ini dijelaskan secara transparan dalam Surat al-Raad ayat 28, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Mencapai hikmah Ilahi merupakan manfaat dan dampak lain dari berzikir dan mengingat Tuhan. Zikir meningkatkan kekuatan penalaran manusia, karena Allah Swt mengulurkan bantuan-Nya terhadap kekuatan berfikir manusia yang menggunakan akalnya. Selain itu, Alquran yang juga disebut sebagai al-Dzikr dan pengingat Tuhan, dalam berbagai ayatnya banyak memberi wejangan dan perintah untuk berfikir. Sejatinya Allah Swt menjadikan berfikir sebagai penyempurna mengingat Diri-Nya. Allah Swt dengan beragam cara menyeru manusia untuk memperhatikan urgensitas berfikir dan memperhatikan alam sekitarnya.

Dalam Surat Aali Imran ayat 191 Allah Swt berfirman, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Berdasarkan ayat ini, sifat pertama orang yang berakal adalah senantiasa mengingat Tuhan dalam kondisi apapun. Dalam persepsi ayat ini, orang berakal satu detik pun tidak pernah alpa mengingat Tuhan. Ia menyakini Allah Swt senantiasa mengawasinya dan hadir di sisinya. Ia juga meyakini dirinya selalu berada dalam pengawasan Tuhan. Bagi orang-orang seperti ini, berbagai kondisi dan tempat tidak menjadi penghalang untuk mengingat Tuhan. Orang seperti ini persis seperti yang dijelaskan oleh ayat 37 Surat an-Nur, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

Di bagian kedua ayat 191 Surat Ali Imran, orang-orang yang berakal selain merenungkan ciptaan Allah Swt juga berkata, “…Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Sejatinya penggalan kedua ayat ini menjelaskan karakteristik lain orang berakal yakni berfikir. Islam sangat menekankan kepada manusia untuk berfikir dan menggunakan akalnya. Oleh karena itu tak heran, karakteristik kedua orang berakal setelah mengingat Tuhan adalah berfikir.

Perhatian besar pada potensi besar ini bukan hanya dimonopoli oleh Alquran, para pemimpin agama suci ini dalam berbagai wejangan mereka juga kerap mewasiatkan umatnya untuk menjaga dan menggunakan dengan baik kekuatan berfikir yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. Misalnya Imam Hasan Askari as bersabda, “Tolok ukur penghambaan dan ibadah bukan kwantitas puasa serta salat, namun ibadah diukur dari banyaknya merenungkan ciptaan Allah dan memikirkan berbagai tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta.”

Ayat 17-18 Surat al-Zumar Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”

Dalam dua ayat ini, Allah Swt dengan jelas menguraikan sifat lain dari orang-orang berakal. Sifat tersebut adalah memilih kata-kata yang baik ketika berbicara. Bagi pribadi yang berakal, sosok yang berbicara bukan penting, namun kandungan dari pembicaraan tersebut yang mereka pandang. Mereka akan menerima nasehat dan pembicaraan yang baik, meski yang pembicara bukan pribadi yang ideal menurut mereka.

Hal ini dikarenakan orang berakal yakin atas sabda Rasulullah Saw, “Hikmah dan ilmu adalah milik mukmin yang hilang dan jika ia menemukannya maka harus diambil.” Bagi orang berakal pembicaraan yang baik meski keluar dari mulut orang yang tidak seakidah dengannya atau tidak sejalan pemikiran dengan dirinya, pasti ia terima. Karena menurutnya, pembicaraan dan nasehat yang baik ibaratnya mutiara yang bersinar dalam diri orang-orang yang berperilaku buruk. Imam Ali as bersabda, “Ilmu dan kebenaran adalah milik mukmin yang hilang, maka jika ia menemukannya,pelajarilah meski dari orang munafik.”

Akhirnya zikir dan berfikir ibaranya dua sayap untuk terbang. Jika salah satunya hilang maka kita tidak dapat terbang. Keduanya saling melengkapi. Seseorang yang hanya berzikir namun lalai dari berfikir, tidak mungkin menjadi manusia yang sempurna. Sebaliknya, manusia yang hanya mementingkan berfikir tanpa mengindahkan zikir, maka ia tidak dapat disebut sebagai orang berakal.

Jika kita memperhatikan sejarah peradaban dan budaya manusia, kita saksikan bahwa kebanyakan bencana yang menimpa manusia disebabkan mereka lalai salah satu dari dua unsur vital ini. Artinya, mereka di sebagian kasus hanya mementingkan zikir dan di kasus lain hanya menggunakan nalar untuk berfikir tanpa diimbangi dengan zikir. Akibatnya mereka tidak pernah sampai pada tujuan yang ingin diraih, malah terjebak ke dalam kesesatan.

Mereka yang berpandangan zikir terpisah dari nalar serta hanya disibukkan dengan berzikir telah menebarkan irfan sesat dan menyimpang dengan irfan sejati yang maksudkan oleh Islam di tengah-tengah masyarakat. Mereka kemudian menyeret masyarakat ke arah kesufi-sufian. Sebagian lain menganggap nalar sudah cukup bagi manusia dan lalai dari zikir serta mengingat Tuhan. Orang-orang seperti ini pada akhirnya terseret ke lembah materialisme. Sejumlah dari kelompok ini yang menfokuskan kekuatan nalarnya di bidang ilmu eksakta dan segala sesuatu diukur dengan ilmu empiris maka ia akan menyeleweng sangat jauh dan bahkan akan mengingkari keberadaan Tuhan. (alhassanain)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top