Saturday , September 22 2018
Breaking News
Biografi Singkat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s

Biografi Singkat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s

Nama: Ja’far
Gelar: Ash-Shadiq
Ayah: Muhammad bin Ali Al-Baqir a.s.
Ibu: Fatimah (Ummu Farwah).
Lahir: Madinah, 17 Rabiul Awal  83 H.
Wafat: Madinah, 25 Syawal 148 H.
Makam: Pemakaman Baqi, Madinah.
Jumlah Anak: 10 orang. 7 laki-laki. 3 perempuan.

Biografi Singkat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. dilahirkan di Madinah pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 83 H. Beliau syahid di Madinah diracun oleh Manshur Ad-Dawaniqi pada tanggal 25 Syawal 148 H di usia beliau yang ke-65. Beliau kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi’, Madinah.

Bukti Imamah
Banyak sekali orang-orang yang menukilkan riwayat dari Imam Baqir as mengenai imamah putranya (Ja’far), di antaranya adalah Hisyam bin Salim, Abu al-Sabah Kinani, Jabir bin Yazid Ju’fi, Abd al-A’la maula Ālu Sam.[1] Syaikh Mufid menulis, “Selain wasiat Imam Baqir as tentang imamah putranya Ja’far, ia juga memiliki keutamaan dalam aspek keunggulan dalam ilmu, zuhud, prilaku dibandingkan saudara-saudara dan paman-pamannya serta manusia lain sezamannya. Hal ini telah menunjukkan akan imamahnya.”[2]  

Fikih
Dzahabi menukil perkataan dari Abu Hanifah, “Saya tidak melihat orang lebih fakih dari Ja’far bin Muhammad, yakni Imam Shadiq.”[3] Malik bin Anas, salah seorang penghulu dari empat mazhab Ahlusunnah wal jamaah mengatakan, “Tidak ada yang lebih tinggi dari sisi keutamaan, ilmu, dan ketakwaan darinya.”[4] Zubair Bakkar menulis, “Abu Hanifah berkali-kali bertemu dengan imam dan dalam salah satu pertemuannya imam berkata kepadanya: “Takutlah kepada Allah, janganlah melakukan kias dalam agama, karena orang pertama yang melakukan kias adalah syetan. Allah Swt berfirman kepada syetan: “Bersujudlah kepada Adam. Ia berkata: Aku lebih baik darinya; Aku diciptakan dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”[5] Kemudian imam bertanya kepada Abu Hanifah: Membunuh jiwa seseorang lebih baik ataukah berzina? “Membunuh jiwa seseorang.” “Kenapa membunuh jiwa seseorang harus dibuktikan dengan dua saksi, sedangkan zina dengan empat saksi? Apa yang kamu lakukan dengan kias? Puasa disisi Allah Swt lebih besar ataukah salat?”, tanya imam. “Salat” “Lantas kenapa wanita ketika datang bulan harus mengqadha puasanya, dan tidak mengqadha salatnya? Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah Swt dan janganlah melakukan kias.”[6]

Para Sahabat
Para ahli sejarah menulis, murid-murid imam mencapai empat ribu orang dan yang maksud adalah orang-orang yang menimba ilmu pada masa penyampaian ceramah dan tausiah imam, bukan keseluruhan dari mereka yang setiap hari hadir di hadapan imam. Penulis Kasyful Ghummah menulis, jumlah para Tabi’in yang meriwayatkan darinya antara lain adalah, Yahya bin Sa’id Anshari, Ayyub Sakhtiyani, Aban bin Taglib, Abu Amr bin al-‘Ala dan Yazid bin Abdullah dan dari para imam yang meriwayatkan dari beliau seperti, Malik bin Anas, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan Tsauri, Ibn Jarih, Abdullah bin Amr, Ruh bin Qasim, Sufyan bin ‘Uyainah, Sulaiman bin Bilal, Ismail bin Ja’far, Hatim bin Ismail, Abdul Aziz bin Mukhtar, Wahab bin Khalid, dan Ibrahim bin Thuhman.[7] Jabir bin Hayan Kufi juga dikategorikan sebagai salah seorang murid beliau.[8]

Ucapan Para Pemuka Ahlusunnah Imam Ja’far
Ibnu Hajar asqalani mensifatinya demikian: Al-Hasyimi al-Alawi, Abu Abdillah Al-Madani al-Shadiq.[9] Di situ juga ditulis bahwa, Ibnu Hibban mengatakan, “Dalam fikih, ilmu, dan keutamaan berasal dari keturunan Ahlulbait as.”[10] Ibnu Hajar Haitami, salah seorang ulama Ahlusunnah mengatakan, “Kebanyakan masyarakat menukil ilmu darinya, yang mana ketenarannya sampai ke seluruh penjuru kota. Para imam besar seperti Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraih, Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, Sufyan Tsauri, Abu Hanifah, Syu’bah bin Hajjaj, Ayyub Syakhtiyani meriwayatkan darinya.”[11]

Baca juga: Biografi Singkat para Imam Ahlul Bait

Program-program Imam Ja’far Shadiq a.s. (dalam menyebarkan Islam)[12]

Imam Shadiq a.s. telah memusatkan seluruh tenaga dan pikirannya dalam bidang keilmuan, dan hasilnya, beliau berhasil membentuk sebuah “hauzah” pemikiran yang berhasil mendidik fuqaha’ dan para pemikir kaliber dunia. Gebrakan ilmiah Imam Shadiq a.s. telah berhasil menguasai penjuru negeri Islam sehingga keluasan ilmunya dikenal di seluruh penjuru negara dan menjadi buah bibir masyarakat.

Abu Bahar Al-Jaahizh berkata: “Imam Shadiq telah berhasil menyingkap sumber-sumber ilmu di muka bumi ini dan membuka pintu ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia yang sebelumnya belum pernah terjadi. Dengan ini, ilmu pengetahuannya menguasai seluruh dunia.”

Tujuan utama kegiatan ilmiah dan budaya Imam Shadiq a.s. adalah menyelamatkan umat manusia dari jurang kebodohan, menguatkan keyakinan mereka terhadap Islam, mempersiapkan mereka untuk melawan arus kafir dan syubhah yang menyesatkan dan menangani segala problema yang muncul dari ulah penguasa waktu itu.

Usaha Imam Shadiq a.s. tersebut –dari satu sisi– adalah untuk melawan arus rusak akibat situasi politik yang terjadi pada masa dinasti Bani Umaiyah dan Bani Abasiyah. Penyelewengan akidah yang terjadi pada masa itu banyak difaktori melalui terjemahan-terjemahan buku yang diselewengkan, munculnya aliran-aliran seperti Ghulat, kaum zindiq, pemalsu hadis dan lain-lainnya. Imam Shadiq a.s. melawan mereka, dan dalam bidang keilmuan, ia mengadakan dialog terbuka dengan mereka sehingga alur pemikiran mereka diketahui oleh khalayak ramai.

Imam Shadiq a.s. menjadikan masjid Rasulullah Saw di Madinah sebagai pusat kegiatan. Masyarakat datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru untuk menanyakan berbagai masalah dan mereka tidak pulang dengan tangan kosong.

Di antara figur-figur yang pernah menimba ilmu dari Imam Shadiq a.s. adalah Malik bin Anas, Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu ‘Unaiyah, Yahya bin Sa’id, Ayub As-Sijistani, Syu’bah bin Hajjaj, Abdul Malik bin Juraij dan lain-lain.

Catatan kaki:

  1. Rujuklah: Al-Mufid, 1380 H.S, hlm. 526-527.
  2. Al-Mufid, 1380 S, hlm. 527-528.
  3. Tazkirah Al-Khuffādz, jld. 1, hlm. 166; dinukil dari Syahidi, 1384, hlm. 61.
  4. Syahidi, 1384, hlm. 60-61.
  5. QS. Al-A’raf: 21
  6. Al-Akhbār al-Muwaffaqiyāt, hlm. 76-77; Hilyah al-Auliyā, jld. 3, hlm. 197; dinukil dari Syahidi, 1384, hlm. 62.
  7. Kasyful Ghummah, jld. 2, hlm. 186; Hilyah al-Auliyā, jld. 3, hlm. 198-199; dinukil dari Syahidi, 1384, hlm. 65.
  8. Syahῑdi, 1384, hlm. 65.
  9. Tahdzib al-Tahdzib, Ibn Hajar asqalani, Haidar Ābād, Matba’ah Nidzamiyah, 1325 H.Q, jild. 2, hlm. 103; dinukil dari Syahidi, 1384, hlm. 4.
  10. Tahdzib al-Tahdzib, hlm. 104; dinukil dari Syahidi, Sayid Ja’far, 1384, hlm. 4.
  11. Ahmad bin Hajar al-Haitami, 1385 H.Q, hlm. 201.
  12. Manusia Suci: Biografi Singkat, Mutiara Hikmah dan Adab Menziarahinya; M. Taufiq Ali Yahya, 2012, hlm. 225-228.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top