Monday , January 20 2020
Breaking News
Silatnas Ahlulbait V Menyetujui Membentuk Ormas Ahlulbait

Silatnas Ahlulbait V Menyetujui Membentuk Ormas Ahlulbait

Salah satu keputusan Silatnas V adalah membentuk Ahlulbait menjadi Organisasi Masyarakat (ormas). Selain itu Silatnas V Ahlulbait Indonesia menyerukan agar umat Islam bersatu

Keputusan peserta Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia ke V di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta 2-4 April 2010, yang menyepakati dibentuknya organisasi massa (ormas).

Menurut Ustad Hassan Daliel, Silatnas V menyetujui terbentuknya Ormas Ahlulbait Indonesia.

Beberapa keputusan Silatnas V yang disepakati diantaranya, seruan kepada masyarakat Indonesia dan kaum muslimin secara khusus untuk senantiasa memperkuat tatanan dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan republik Indonesia.

“Saya sebagai steering committe menyerukan kebersamaan dan persatuan untuk membangun kewibawaan Bangsa Indonesia dan kaum Muslimin untuk mengalahkan abu lahab-abu lahab dan para fir’aun saat ini,” kata Hassan Daliel.

Seruan hasil Silatnas, lanjut Daliel, juga meyampaikan pesan dengan penekanan pada persatuan kepada kaum muslimin. Kepada pemerintah Indonesia, pihaknya menyerukan agar tetap konsisten menjalankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar.

“Dengan penekanan kepada sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Terutama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, terutama pembelaan terhadap Palestina dari penjajahan zionis Israel,” kata Ketua Pembina Forum Al-Husayni, Jakarta.

Sebagaimana diketahui, salah satu keputusan Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia ke V di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta adalah merekomandasikan hasil Silatnas untuk segera dilaksanakan Rakernas selambat-lambatnya 3 bulan dan merumuskan AD/ART dan memutuskan nama ormas baru.

Jalannya sidang

Seminar Nasional Ahlul Bait V, dimulai hari Jum’at 2/4/2011. Silatnas ke-5 secara resmi dibuka oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia, Profesor Moh Mahfud MD. Sesuai rencana silatnas itu digelar dua hari hingga Ahad, tanggal 4 April 2010.

Silatnas ke -5 dimulai pada pukul 14.00 WIB. Acara ini dirangkai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Shalawat yang dipimpin oleh Ustadz Hasan Daliel Alaydrus. Kemudian Sambutan dari Ketua Mahkamah Konstitusi Profesor Moh Mahfud MD sekaligus membuka secara resmi dengan memukul gong. Dalam pidato pembukaan yang disampaikan Ketua Mahkamah Konstitusi Profesor Moh Mahfud MD, mengatakan, “Saya tertarik menghadiri Silatnas ini karena tema yang dipilih; Peran Dakwah dalam Membangun Persatuan dan Persaudaraan demi Keutuhan NKRI.”

Salah satu panitia Hisam Sulaiman mengatakan jumlah peserta berkisar 250 sampai 300 peserta dari 200 yayasan Ahlul Bait dari Papua hingga Aceh yang memadati ruangan Silatnas ke-5. Selain Moh Mahfud MD, hadir juga sebagai pembicara Jend. (purn) Dr. AM Hendropriyono Haidar Bagir juga menjadi pembicara utama Silatnas ke-5 yang digelar hari ini.

Berbicara sekitar 10 menit Moh Mahfud MD menyampaikan materinya “Hak, Kedudukan dan Tanggung Jawab Organisasi-organisasi Umat Islam Indonesia dalam bingkai konstitusi Negara Republik Indonesia”. Beliau menyampaikan bahwa negara agama adalah azas sedang negara adalah pengawal. Lebih lanjut beliau menyampaikan Indonesia adalah negara yang Islami dengan menjadikan nilai islam sebagai substansinya.

Pembicara kedua yang menyampaikan materinya adalah Bapak AM Hendropriyono dengan tema “Peta Gerakan Islam Indonesia dan Ancaman Terorisme/Fundamentalisme Bagi Keutuhan NKRI”. Menurut beliau terorisme itu ibarat sebuah pohon yang mempunyai akar, batang, cabang, ranting dan daun. Akar terorisme adalah ideologi politik bukan agama. “Ideologi atau akar berkembang di atas tanah yang subur yaitu fundamentalis yang menggunakan Islam sebagai simbol-simbol ideologi”. Tukasnya.

Cendekiawan Haidar Bagir membawakan materi “Dinamika Dakwah Islam Islam Indonesia : Antara Pemahaman, konflik dan Persatuan Islam” sebagai pematri ketiga. Beliau menyampaikan bahwa Dakwah itu landasannya adalah akhlak. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa “Tercerai berainya kita karena kita kurang baik”. Contoh terbaik dalam berdakwah adalah Rasulullah Saw. Kata beliau.

Yang menarik adalah ketika sesi tanya jawab salah satu penanya adalah KH. Nur Iskandar pengasuh Ponpes Shiddiqiyah Jakarta. Mengawali pertanyaan beliau menyampaikan bahwa ‘Saya mendengar bahwa acara sebaik ini katanya mau didemo, makanya saya datang ke sini”

 

Hari kedua Sabtu, 3/4/2010  Silatnas dimulai pagi hari, sidang pra-rapat pleno diisi pemaparan tentang imamah atau kepemimpinan yang dibahas oleh Musa Kazem dan Ir. Sayuthi Asyathri.

Acara dilanjutkan dengan presentasi dari berbagai yayasan yang tersebar di seluruh nusantara dimulai pada pukul 13.00 WIB. Dalam acara tersebut, Ustad Husein Shahab mewakili Dana Mustadzafin menyampaikan presentasi kepada para peserta. Peserta Silatnas V puas dengan penjelasan Ust Husein Shahab, bahkan mengapresiasi  Yayasan Dana Mustadhafn yang berfungsi menangani dana khumus bagai para pengikut Ahlulbait.

“Alhamdulillah, khumus sudah dikelola oleh sebuah lembaga. Yang lebih menariknya, dana itu dikelola secara transparan dan dipertanggungjawab di depan publik, ” jelas salah seorang peserta Silatnas.

Selanjutnya, Yayasan Jausan yang berpusat di Malang, mempresentasikan kegiatan-kegiatan sosialnya. Lembaga itu memperlihatkan aktivitas para anggota yayasan dalam membantu korban bencana di nusantara dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Dengan demikian Ahlulbait kini sudah mempunyai lembaga sosial yang aktif di bidang kemanusiaan dan sosial.

Voice of Palestina yang akrab dengan singkatan VOP juga mempresentasikan kegiatan-kegiatan Peduli Palestina. Mujtahid Hashim sebagai pimpinan VOP menyinggung demo Al-Quds yang diperingati setiap tahun di hari Jumat terakhir pada bulan Ramadhan. Palestina yang hingga kini ditindas Rezim Zionis Israel, harus menjadi pusat perhatian umat Islam, khususnya para pengikut Ahlulbait.

Kemudian acara dilanjutkan dengan sidang komisi. Komisi dibagi menjadi dua. Komisi A yang membahas mengenai rencana pembentukan Ormas dan komisi B yang diberi tugas membahas program kemasyarakatan Ahlulbait.

Semula di komisi A sempat mengalami deadlock ketika beberapa peserta sidang menyampaikan pandangannya apakah perlu dibentuk ormas atau tidak, bahkan hingga nama ormas yang diusulkan pun sedikit alot.

Sidang Komisi A berlanjut hingga membentuk rapat pleno yang membagi Jamaah Ahlulbait yang tersebar diseluruh pelosok Nusantara menjadi 9 wilayah. Wilayah Jatim, Jateng, Jabar, DKI & Banten, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku & Papua, serta Bali, Lombok & NTT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top