Monday , July 6 2020
Breaking News
Dr. Muhsin Labib: Peran Media (Mestinya) Mempersatukan Bukan Adu Domba Sunni-Syiah (Bagian Akhir)

Dr. Muhsin Labib: Peran Media (Mestinya) Mempersatukan Bukan Adu Domba Sunni-Syiah (Bagian Akhir)

Dr. Muhsin Labib: Negara Tak Bermazhab. Tak Ada Pemerintahan Sunni atau Syiah

Lalu, apa ukurannya dalam memilih capres?

Ukurannya jangan pake agama atau mazhab. Ukurannya konstitusional atau tidak, sesuai dengan kriteria-kriteria seseorang yang dipilih sebagai pemimpin negara yang dibangun dengan asas kebhinekaan atau tidak.

Ini harus segera disadarkan jangan sampai masyarakat digiring. Menurut saya, dua capres ini sudah hasil dari penyaringan. Yang ada, ya ini. Anda mau terima ya silakan, pilih yang lain ya silakan. Bagi saya kalau memang sudah memenuhi syarat, berarti itu yang terbaik. Persoalan utamanya ada pada program. Mantap mana programnya? Bukan argumentum ad hominem, bukan orangnya, perilakunya, gayanya. Ada yang menampilkan kegagahan, ada yang menampilkan sosok egaliter, kesederhanaan. Itu kan tiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing.

Bukan berarti agama itu tidak penting. Karena kenyataannya kedua-duanya juga Muslim. Walau pun itu juga bukan syarat dalam UU. Maka pilihlah tanpa menjelek-jelekkan. Saya tidak setuju orang menjelek-jelekkan capres karena alasan-alasan pribadi. Perdebatkan program, visi-misi, platformnya. Baru kita punya demokrasi yang cerdas. Masyarakat yang benar-benar melek politik. Bukan malah menjerumuskan masyarakat dalam konflik yang menghabiskan banyak energi.

Lalu sebenarnya bagaimana kita mesti menyikapi isu Sunni-Syiah?

Nah, Sunni itu jika dilihat sebagai nama sebuah aliran adalah nama kelompok yang meyakini sistem kepemimpinan berdasar Khilafah. Sementara Syiah meyakini kepemimpinan berbentuk Imamah. Bahwa Sunni itu artinya mengikuti Sunnah Nabi, orang Syiah juga mengikuti Sunnah Nabi. Orang Sunni juga mengaku mengikuti Keluarga Nabi. Jadi Syiah dan Sunni itu bisa dibedakan dalam dua hal. Substansi atau simbol. Kalau simbolnya, atribut, namanya, itu tidak selalu merepresentasi. Makanya bukan jaminan kalau orang Syiah sesuai ajaran Syiah, orang Sunni sesuai ajaran Sunni. Banyak orang (Islam) tak tahu Syiah tak tahu Sunni, yang penting berbuat baik, shalat, ibadah.

Jadi pertanyaannya, kenapa isu-isu sektarian terus-terusan diangkat di saat kita ini sedang memerlukan konsentrasi penuh untuk membangun negara dari keterpurukan? Pasir kita habis, tanah kita habis, hutan kita habis, kita malah mendatangkan orang-orang dari luar negeri, orang-orang yang di daerahnya, di Timur Tengah, tak ada hubungan dengan kita. Kita datangkan untuk tabligh mempersoalkan Syiah dan Sunni. Anggaplah orang Syiah berbuat salah di sana. Apakah orang Syiah berbuat salah di sini? Ini hal yang irasional, dan tidak logis. Sudah waktunya terutama media massa untuk menghentikannya. Kalau tidak ini harakiri untuk menghancurkan diri sendiri.

Faktanya fenomena isu sektarian ini terjadi di tengah masyarakat. Pertanda apakah ini?

Ada faktor kebodohan, ada juga upaya manipulasi. Artinya, memang sengaja melestarikan kekacauaun ini sebagai bagian dari grand design. Tujuannya agar kita tak pernah bisa  berkonsentrasi untuk “bangun” ke depan. Sibuk terus dengan persoalan kita. Bisa terjadi anak muda atau anak sekolah dikeroyok anak sekolah lain sampai mati hanya karena beda atribut sekolah. Aksi-aksi kekerasan semacam ini sudah mulai semakin memprihatinkan.

Saya bicara toleransi itu bukan hanya dalam lingkup agama dan mazhab, tapi toleransi dalam menerima orang lain yang berbeda dalam hal apa pun. Saya dan Anda bisa berbeda dalam apa pun. Tapi saya harus toleran menerima Anda berbeda, karakter Anda berbeda. Ketika saya berkomunikasi menjalin kerjasama dengan Anda, berarti kita harus toleran. Jadi toleransi tak harus soal agama atau aliran.

Nah, masalahnya masih ada sekelompok orang yang karena kejumudan, karena cara berpikir yang tak bisa menerima orang lain berbeda, beranggapan bahwa siapa saja yang berbeda darinya dianggap musuh. Mereka hanya bisa mengidentifikasi dirinya ketika ada musuh. Ini bentuk kelemahan. Anda tak perlu menegaskan kehebatan Anda dengan menjelekkan orang. Tunjukkan produk Anda bagus tanpa harus menjelekkan produk orang lain. Ini kenyataannya tidak. Seakan-akan kalau ada Sunni lawannya Syiah. Lah, kenapa tidak diperluas saja sekalian kalau ada orang Kristen lawannya Muslim? Mau begitu kita? Kalau terus-terusan begini, kita bisa hancur.

Apa yang harus dilakukan masyarakat dan media kalau begini?

Ya, pertama hentikan pemaknaan-pemaknaan SARA, terutama soal agama, atau mazhab. Jangan kaitkan orang dengan agama atau mazhab. Tapi lihatlah perilakunya. Apakah ketika ada orang korupsi harus dilihat agamanya? Tentu perilakunya yang kita nilai, bukan mazhabnya.

Anda mau mengkritik perilaku orang, apakah seorang presiden, atau pejabat pemerintahan, ya kritik saja perilakunya. Anda boleh kritik Bashar Assad, silakan kalau Anda berkepentingan, padahal itu bukan negara kita. Kritik kebijakannya, apa yang merugikan. Jangan Syiah dan Sunninya. Sama seperti Saddam Hussain dan Husni Mubarak. Juga Muammar Ghadafi. Masak sih kita katakan pemerintahan mereka itu Sunni? Itu kan gak bener.

Sekarang telanjur kacau. Jadi ada pemberitaan ISIS/ISIL itu Sunni, sementara pemerintahan Iraknya Syiah. Kok bisa begitu? Dengan mudahnya awak media menulis tanpa beban. Dengan adanya ini orang yang diidentifikasi sebagai Syiah atau Sunni karena pemberitaaan ini bisa terintimidasi. Itu jelas bukan persoalan Syiah dan Sunni. Nouri al-Maliki tak merepresentasi Syiah, tapi merepresentasi demokrasi masyarakatnya.

Jika melihat kekacauan istilah ini, sebenarnya istilah ‘pemerintahan Syiah’ atau ‘pemerintahan Sunni’ itu sendiri apakah memang ada atau tidak?

Ya. Kita kan sering dulu dengar istilah ‘negara Sunni’. Dan itu artinya jelas-jelas konsep negara yang dibangun di atas sebuah mazhab. Di Indonesia juga ada yang pernah mengakui sebagai Negara Sunni. Itu jelas-jelas menentang dan mengabaikan konstitusi, UUD, dan Pancasila. Indonesia ini jelas-jelas bukan negara yang dibangun di atas mazhab. Di atas Islam saja tidak. Makanya Pancasila itu jelas-jelas prinsip dasarnya ketuhanan. Dan bertuhan itu tak meniscayakan agama apa pun. Selama ia bertuhan, ia adalah warga negara. Karena itu yang berhak menjadi warga negara adalah orang bertuhan, berketuhanan Yang Maha Esa. Itu saya kira sila pertama, kalau benar-benar ditaati dan diterapkan bisa meredam semua fanatisme, sektarianisme atas nama agama tertentu.

Iran juga bukan negara Syiah. Karena yang hidup di sana bisa Sunni, bisa Kristen, bisa Majusi. Jadi sebenarnya yang disebut Negara Syiah atau Negara Sunni itu tidak ada. Negara itu tidak bermazhab, orangnya yang bermadzhab. Masak ada negara yang bermazhab? Kan lucu kalau negara bermazhab. Penyebutan itu jelas salah dan tidak ada dasarnya. Cuma ya, peranan media ini yang kita sesalkan karena terus-terusan begini. Karena itu saya pikir perlu kiranya para jurnalis bikin lokakarya atau apalah namanya untuk membuat media jadi mencerdaskan. Bukan malah memperkeruh suasana.

Ada orang yang menjustifikasi konflik sektarian dengan nubuat-nubuat. Pendapat Anda?

Begini, orang bergerak berdasarkan apa yang sedang terjadi, bukan menurut apa yang akan terjadi. Bahaya kalau kita berbuat berdasarkan apa yang akan terjadi. Karenanya, harus berdasarkan fakta-fakta yang konkrit. Bahwa secara keagamaan dia punya prediksi tertentu tak ada masalah. Tapi jangan jadikan itu sebagai dasar bersikap. Bahwa konflik bagaimanapun juga tidak baik. Bagaimanapun dalam konflik juga mungkin ada yang terbunuh, siapa pun dia itu hal yang negatif. Jadi jangan menganggap ini sebagai keharusan (sesuai nubuat). Tak ada keharusan macam itu. Kehancuran tetap bisa dihindari.

Ada kerusakan, ada vandalisme. Dan itu harus dilawan. Jangan mencari justifikasi terhadap kekerasan itu. Apa pun itu alasannya. Bagi saya bahwa (ada nubuat) suatu saat akan terjadi peristiwa-peristiwa itu ya boleh, tapi jangan jadikan itu sebagai dasar kita untuk bersikap.

Terimakasih atas wawancaranya, Dr. Muhsin Labib. Sebagai penutup mungkin ada satu kata yang menurut Anda mewakili fenomena kesalah kaprahan media dalam mengangkat istilah Sunni-Syiah ini dalam beritanya hingga mengakibatkan fitnah dan hal-hal buruk lainnya?

Kalau dalam satu kata, menurut saya kata yang mewakili adalah: “Tragis!” (Lutfi-Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top