Saturday , November 23 2019
Breaking News
Dr. Muhsin Labib: Peran Media (Mestinya) Mempersatukan Bukan Adu Domba Sunni-Syiah (Bagian Pertama)

Dr. Muhsin Labib: Peran Media (Mestinya) Mempersatukan Bukan Adu Domba Sunni-Syiah (Bagian Pertama)

Belakangan ini banyak media mulai mengangkat isu Sunni dan Syiah seiring hajatan pilpres di Indonesia dan aksi penyerbuan ISIS belum lama ini ke Irak.

Media mainstream (terutama di Barat dan sebagian negara Timur Tengah pro Wahabi) sepertinya sengaja ingin menarik isu Sunni-Syiah agar kedua kelompok ini terkesan selalu berbenturan, dan dibuat seolah merupakan musuh bebuyutan yang sama-sama ingin saling menghabisi. Benarkah seperti itu? Untuk menjelaskannya, berikut ini hasil wawancara ABI Press dengan Dr. Muhsin Labib, seorang pengamat sosial sekaligus Direktur Moderate Institute, sebuah lembaga yang konsen mengusung nilai-nilai humanisme dan toleransi.

Terkait aksi penyerbuan gerombolan bersenjata ISIS ke Irak yang banyak dinarasikan media massa sebagai konflik sektarian antara Sunni dan Syiah, bagaimana pendapat Anda?

Memang sejak konflik Suriah, kemudian disusul dengan serangan kelompok yang menamakan dirinya ISIS atau ISIL atau DAIS, ramai media menggunakan istilah Sunnah-Syiah lagi dalam memberitakan apa yang terjadi di Timur Tengah. Dan karena memang media itu biasanya hanya ingin mencari sensasi dan menarik perhatian, kadang-kadang terkesan gegabah dalam memunculkan persoalan Syiah dan Sunni dalam setiap pemberitaan mereka. Meski mungkin mereka tak punya tendensi apa-apa, tapi bisa saja menimbulkan kesalahpahaman, bahkan mungkin bisa menjadi sumber provokasi.

Nah, media massa, entah karena tendensius, atau karena tidak cermat, menyebut misalnya pemerintahan Bashar Assad di Suriah sebagai pemerintah Syiah, sebagaimana pemerintahan Nouri al-Maliki di Irak disebut pemerintahan Syiah. Hanya untuk menciptakan kesan berhadap-hadapan. Seakan-akan kalau Sunni itu harus berhadapan dengan Syiah, dan kalau Syiah harus berhadapan dengan Sunni. Logika ini adalah logika pecah-belah. Sama halnya apakah orang Muslim harus berhadapan dengan Kristen, dan orang Kristen juga harus berhadapan dengan Islam? Ini kan berbahaya!

Anehnya media-media mainstream yang mestinya berpaham sekuler, malah terjebak dalam sentimen sektarian. Pengusaha media, pemilik koran, yang punya stasiun televisi; merekalah para pembentuk opini masyarakat paling dominan. Misalnya bagaimana mereka  menyebut ISIS sebagai militan Sunni melawan pemerintahan Nouri al-Maliki dan Bashar Assad yang Syiah.

Sayang sekali media-media yang sebetulnya kita harapkan bisa menjadi pencerah dan bisa meredam berbagai konflik bernuansa SARA, malah ikut-ikutan terjebak memunculkan falasi ini. Dan masyarakat yang memang tak tahu persis persoalannya menjadi terbawa-bawa. Seakan-akan apa yang terjadi di Suriah dan Irak adalah konflik agama atau mazhab. Padahal jauh dari itu.

Memang apa bahayanya jika salah menggunakan istilah dan predikasi Sunni-Syiah tersebut?

Kalau orang sudah memposisikan ini pemerintahan Syiah, mayoritas Syiah, itu terkesan hanya orang Syiah saja yang memegang pemerintahan. Kesannya begitu. Padahal pemerintahan Nouri al-Maliki itu pemeirntahan yang dipilih berdasarkan demokrasi. Malah demokrasinya itu jenis demokrasi yang dihadirkan pemerintah Amerika. Jadi media-media yang menganggap Amerika sebagai simbol demokrasi, mestinya tidak mempersoalkan itu.

Nouri al-Maliki itu memang Syiah. Tapi apa hanya karena satu pejabatnya itu Syiah maka  pemerintahannya dianggap Syiah? Ini kan lucu. Coba lihat di Irak. Di Irak itu Ketua Parlemennya Sunni, Al-Mujaifi. Presidennya bahkan dari minoritas, Sunni Kurdi. Sewaktu pemerintahan Saddam Hussain, dari kalangan orang Syiah, sebagai ketua RT pun tidak ada. Tapi Syiah tak pernah menyebut Saddam itu pemerintahan Sunni. Kenapa tiba-tiba media membawa ke penggiringan opini menyesatkan seperti ini? Jangan hanya karena ada satu orang pejabat jadi Syiah, maka pemerintahannya dianggap pemerintahan Syiah. Ini kan jelas-jelas pembodohan!

Jika ini dibiarkan, akhirnya masyarakat akan cenderung menganggap kalau Syiah berarti anti Sunni. Bahayanya, ya tadi itu, memberikan kesan seakan-akan kalau Syiah akan menghabisi Sunni, dan kalau Sunni akan menghabisi Syiah. Kalau begitu, Kristen akan menghabisi Islam. Apa begitu? Dan Islam akan menghabisi Kristen? Ini apa?

Kalau memang seperti itu, kenapa isu Sunni-Syiah dipakai dalam konflik-konflik seperti ini?

Ya, sebenarnya itu terkait kepentingan politik baik regional maupun internasional. Makanya tiba-tiba dimunculin stigma negatif untuk memojokkan (lawan). Zaman dulu orang di PKI-kan berarti dia halal dibunuh, diintimidasi tanpa proses. Sekarang ada kesan penggiringan opini, orang dijadikan Syiah, sehingga semua hal boleh dilakukan terhadap dia.

Apa yang dilakukan oleh ISIS itu tidak merepresentasi Sunni. Sunni itu terlalu mulia. Nama Sunni, Ahlusunnah wal Jamaah, itu terlalu sakral untuk ditempatkan pada kelomopk-kelompok sadis, kelompok-kelompok yang menggunakan segala cara yang jelas-jelas orang Sunni sendiri menentangnya. Orang Sunni itu direpresentasi oleh ulama-ulama yang sangat akomodatif. Mana ada tokoh Sunni menyalahkan dan membunuh orang lain hanya karena berbeda paham?

Gerakan ekstremis itu tak boleh merepresentasi kelompok Sunni, mazhab tertentu atau agama apa pun. Selama dia ekstremis, dia bukan Syiah, dia bukan Sunni, dia bukan Muslim, dia bukan apa pun. Karena ini bertentangan dengan moral, bertentangan dengan moralitas, bertentangan dengan kemanusiaan.

Memang ekstremisme selalu ada dalam setiap masyarakat. Tapi itu adalah penyimpangan. Itu adalah perilaku yang tak wajar. Tak perlu dikaitkan dengan Syiah atau Sunni. Mereka adalah minoritas dan kecil sekali jumlahnya. Orang-orang yang intoleran itu kecil dan tidak boleh disebut Sunni maupun Syiah. Karena ukuran sebuah keyakinan itu adalah gagasan-gagasan utamanya, referensi-referensinya, para ulamanya yang representatif. Itu yang boleh dikaitkan dengan nama aliran.

Nah, Syiah dan Sunni ini bagian dari proses bersejarah dalam Islam. Dari dulu ada. Bahwa ada pendapat yang ekstrem di kalangan Syiah, itu pun juga ada di kalangan Sunni. Tapi itu bukan ukuran.

Di masa pilpres ini, muncul isu-isu Sunni-Syiah yang dikait-kaitkan dengan salah satu capres tertentu. Bagaimana pendapat Anda?

Kita ini kadang hanya beda tim sepakbola saja, bisa sampai ancur-ancuran. Beda capres juga kita saling caci-maki. Ini sebenarnya apa persoalannya? Tujuannya kan untuk membangun negara. Siapa pun yang terpilih berarti itulah yang diinginkan masyarakat. Kenapa harus mengaitkannya dengan agama? Apa pasal kok sampai mengisukan capres ini anti agama itu, capres itu kurang perhatiannya pada agama ini?

Ironisnya persoalan Syiah dan Sunni juga berusaha dibentur-benturkan dalam isu capres kali ini. Nah, kita harus curiga, ini pasti ada sesuatu. Masak sih dalam isu capres saja persoalan agama, Syiah-Sunni dimunculkan? Baik Jokowi atau Prabowo kan bukan representasi Syiah. Dan mereka tidak merepresentasi Sunni juga.

Sunni itu ada kriterianya untuk disebut Sunni. Yang bener-bener Sunni itu kalau kita mau teliti, ya sedikit. Yang bener-bener Syiah juga kalau bener-bener diteliti, itu juga sedikit. Jadi yang ramai itu ya orang-orang yang meramaikan suasana. Nah, kenapa kita ini tidak menghemat energi dengan baik? Tulislah hal-hal yang positif, hal-hal yang menimbulkan optimisme, semangat, pencerdasan. Itu yang perlu kita bangun. Bukan ditarik kesana kemari sehingga masyarakat lebih sibuk berantem untuk urusan siapa (yang lebih layak menjadi) presiden dan wapres.

Ini kan tujuannya sama-sama berkompetisi untuk membangun sebuah negara bernama Indonesia. Aneh kalau orang yang inginnya membangun kebaikan, cara yang ditempuhnya malah buruk. Masyarakat harus sadar. Tidak terus-terusan begini. Dan media seharusnya menyadarkan. Jangan sampai media menarik kita ke dalam manipulasi-manipulasi, atau dalam kampanye hitam dengan bungkus berita yang tidak sesuai fakta… (Lutfi-Muhammad/Yudhi)

*BERSAMBUNG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top