Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ancaman “Penyelamatan” Trump Picu Kecaman Seragam Iran, dari Pejabat hingga Media Sosial

Published

on

Rakyat Iran dukung pemerintah. Sumber foto Tehran Times

Ahlulbait Indonesia, 3 Januari 2026 — Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di media sosial terkait protes di Iran memicu reaksi keras dan luas di dalam negeri negara tersebut. “Kami siap dan siaga sepenuhnya,” tulis Trump di media sosial pada Jumat (2/1/2026), seperti dilansir Reuters. Unggahan itu dipandang oleh pejabat dan pengamat Iran sebagai sinyal ancaman campur tangan, sekaligus memperkuat tudingan lama mengenai kemunafikan Washington dalam isu hak asasi manusia.

Dalam unggahan yang sama, Trump menyebut Amerika Serikat akan “datang menyelamatkan” demonstran Iran jika terjadi tindakan mematikan terhadap mereka, seraya menambahkan pernyataan kesiapan militer. Pernyataan ini segera ditafsirkan di Teheran sebagai sinyal eksplisit intervensi dalam urusan internal Iran.

Reaksi di Iran berlangsung cepat dan relatif seragam. Alih-alih mengejutkan, bahasa Trump oleh banyak pihak dianggap sebagai pengulangan pola lama tekanan, paksaan, dan upaya destabilisasi Amerika Serikat terhadap Iran yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Kementerian Luar Negeri Iran: Pelanggaran Prinsip PBB

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyebut pernyataan Trump sebagai dalih transparan untuk campur tangan. Ia menilai retorika “penyelamatan” bertentangan dengan prinsip kedaulatan dan non-intervensi yang tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam pernyataan publik dan unggahan media sosial, Baghaei mengingatkan rangkaian intervensi Amerika Serikat dalam sejarah modern Iran, termasuk kudeta 1953 terhadap Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, penembakan pesawat sipil Iran pada 1988, dukungan Washington kepada Saddam Hussein dalam Perang Iran–Irak, serta sanksi ekonomi yang masih berlangsung. Menurutnya, seluruh episode tersebut menunjukkan pola konsisten tekanan bermusuhan yang kerap dibungkus dengan retorika kemanusiaan.

Larijani: Protes Sah Berbeda dari Sabotase

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menegaskan masyarakat Iran mampu membedakan antara protes ekonomi yang sah dan tindakan perusakan. Dalam unggahan di X, ia menolak narasi “pembunuhan kejam” yang disampaikan Trump dan memperingatkan campur tangan Amerika Serikat hanya akan menyeret kawasan ke dalam ketidakstabilan lebih luas serta membahayakan pasukan AS sendiri.

Larijani juga mengarahkan pesannya kepada publik Amerika, menyerukan kewaspadaan terhadap kebijakan luar negeri yang berpotensi mengulang kegagalan di Irak dan Afghanistan.

Parlemen Iran: Campur Tangan Akan Berkonsekuensi

Ketua Parlemen Iran Mohammad-Baqer Qalibaf menyatakan rakyat Iran secara historis tidak pernah menyamakan demonstran domestik dengan aktor bersenjata asing. Ia menilai upaya mengubah protes ekonomi menjadi konfrontasi kekerasan telah gagal berkat kesadaran politik masyarakat.

Qalibaf menegaskan setiap bentuk petualangan militer atau keamanan oleh Amerika Serikat akan menimbulkan konsekuensi serius. Menurutnya, keamanan nasional Iran merupakan garis merah yang tidak dapat ditawar.

Shamkhani: Retorika Intervensi Tidak Akan Ditoleransi

Penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam Ali Shamkhani menyebut pernyataan Trump sebagai berbahaya dan tidak diinginkan. Dalam unggahan di X, ia menegaskan setiap tangan intervensionis yang mendekati keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dihadapi dengan respons tegas.

Shamkhani menilai konsep “penyelamatan” asing sudah dikenal luas rakyat Iran melalui pengalaman di Irak, Afghanistan, dan Gaza, serta tidak memiliki kredibilitas moral.

Ancaman Eksternal Dinilai Memperkuat Persatuan

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi menyebut pernyataan Trump ilegal dan provokatif menurut norma internasional. Ia menilai tekanan eksternal justru memperkuat solidaritas nasional, sembari menegaskan Iran menempuh pendekatan kombinatif melalui pengamanan, kanal protes hukum, dan penyesuaian kebijakan ekonomi.

Konteks Historis dan Reaksi Publik

Penasihat Pemimpin Revolusi Islam Mohammad Mokhber menempatkan pernyataan Trump dalam konteks sejarah panjang permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran sejak 1953. Ia menilai tidak ada hal baru dalam retorika tersebut, selain pengulangan kebijakan tekanan yang telah lama dikenal.

Di luar lingkaran resmi, akademisi dan pengguna media sosial Iran merespons dengan nada satir hingga kecaman tajam. Tagar seperti #SaveAmericansNotIran sempat menjadi sorotan, membalik narasi “penyelamatan” Trump dengan menyoroti persoalan domestik Amerika Serikat sendiri, mulai dari ketimpangan sosial hingga penanganan protes di dalam negeri.

Efek Berbalik dari Retorika Ancaman

Secara keseluruhan, pernyataan Trump justru memicu konvergensi langka antara kecaman resmi dan olok-olok publik di Iran. Alih-alih memperkuat posisi Amerika Serikat, unggahan tersebut mempertegas pandangan lama di Teheran bahwa retorika kemanusiaan Washington kerap berfungsi sebagai instrumen tekanan politik.

Bagi banyak pihak di Iran, pesan itu tidak diperlakukan sebagai peringatan, melainkan sebagai konfirmasi atas kesinambungan kebijakan Amerika Serikat dan jurang antara retorika moral serta rekam jejak historisnya. [HMP]

Sumber: Tehran Times