Internasional
Ayatullah Ali Khamenei: Republik Islam Tidak Akan Mentolerir Tentara Bayaran Asing
Ahlulbait Indonesia, 10 Januari 2026 — Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan mundur menghadapi aksi sabotase dan tidak akan mentolerir keberadaan tentara bayaran asing dalam bentuk apa pun.
Kantor Berita Tasnim melaporkan, Jumat (9/1/2026), pernyataan tersebut disampaikan Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan warga Qom pada peringatan pemberontakan bersejarah rakyat kota tersebut pada 19 Januari 1977. Ayatullah Khamenei menekankan bahwa bangsa Iran saat ini berada dalam posisi jauh lebih kuat—baik secara spiritual, ideologis, maupun material—dibandingkan masa sebelum Revolusi Islam, dan mampu mengalahkan kekuatan asing yang dinilainya arogan dan salah perhitungan.
“Republik Islam berdiri di atas darah ratusan ribu syuhada yang terhormat. Sistem ini tidak akan mundur menghadapi para penyabot dan penghasut, serta tidak akan mentolerir tentara bayaran asing. Bangsa Iran menolak mereka, siapa pun mereka,” tegasnya.
Merujuk pada sejumlah insiden perusakan yang terjadi di Teheran dan beberapa wilayah lain, Pemimpin Revolusi menyebut adanya kelompok yang dengan sengaja merusak fasilitas milik negara sendiri demi menyenangkan pihak asing. Ayatullah Ali Khamenei menmgatakan tindakan tersebut sebagai bagian dari agenda destruktif yang tidak mencerminkan kehendak rakyat Iran.
Lebih lanjut Ayatullah Khamenei juga menyinggung peran Presiden Amerika Serikat, yang menurutnya secara terbuka mengakui keterlibatan dalam serangan yang menyebabkan jatuhnya korban warga Iran. Beliau menyebut kontradiktif ketika pihak yang sama mengklaim sebagai pendukung rakyat Iran, sementara pada saat lain memerintahkan agresi militer. “Orang-orang yang ceroboh dan tidak berpikir panjang mempercayai klaim semacam itu, lalu bertindak sesuai kehendaknya,” ujarnya.
Dalam konteks sejarah, Pemimpin Revolusi menilai kejatuhan rezim Pahlavi sebagai akibat langsung dari kesalahan perhitungan mendasar, baik oleh rezim tersebut maupun oleh Amerika Serikat sebagai pendukung utamanya. Imam Ali Khamenei mengingatkan bahwa sepuluh hari sebelum pemberontakan Qom, Presiden AS saat itu menyebut Iran sebagai “pulau stabilitas”, sebuah penilaian yang menurutnya mencerminkan ketidakpahaman mendalam terhadap realitas bangsa Iran.
“Kegagalan Amerika di masa lalu bersumber dari kesalahan perhitungan yang sama dengan yang masih mereka ulangi hari ini. Kesalahan itu tidak akan menghasilkan apa pun selain kegagalan baru,” katanya.
Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa kemenangan Revolusi Islam tidak ditentukan oleh kekuatan senjata konvensional, melainkan oleh “perangkat lunak” perjuangan: iman kepada Islam, kesadaran politik, rasa tanggung jawab nasional, serta penolakan terhadap dominasi asing. Menurutnya, faktor-faktor tersebut kini justru semakin menguat.
Beliau juga menepis klaim, Iran berada dalam kondisi terisolasi di dunia internasional. Menurutnya, narasi tersebut merupakan bentuk penipuan diri yang diproduksi oleh pihak asing dan diulang oleh sebagian kalangan di dalam negeri. “Iran hari ini dipandang sebagai negara yang merdeka, berani, dan memiliki masa depan,” ujarnya.
Dalam bagian akhir pidatonya, Ayatullah Khamenei menyoroti peran sentral generasi muda dalam kemajuan Iran, mulai dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi hingga kehadiran sosial dan politik. Beliau menolak gambaran negatif tentang pemuda Iran yang dinilainya sebagai propaganda musuh.
“Pemuda Iran adalah pejuang yang sadar politik, teguh dalam agama, dan hadir di semua medan pengabdian,” katanya, seraya menyinggung pencapaian generasi muda Iran dalam teknologi satelit, industri nuklir, sel punca, nanoteknologi, dan kedokteran.
Kepada kaum muda, Pemimpin Revolusi berpesan agar menjaga agama, kesadaran politik, persatuan, dan keseriusan dalam membangun masa depan bangsa. Ayatullah Kahmenei menegaskan, bangsa yang bersatu akan mampu mengalahkan musuh mana pun, dan keyakinan terhadap kemenangan akan terus tumbuh di hati rakyat Iran.[HMP]
Sumber: Tasnimnews
