Internasional
Ayatullah Ali Khamenei Tanggapi Protes di Iran: Kami akan Bicara dengan Pemprotes, Pengacau Harus Ditertibkan
Ayatullah Ali Khamenei secara tegas membedakan antara pedagang bazaar (pasar) yang menyampaikan protes sah dan kelompok pengacau yang, menurutnya, diprovokasi oleh pihak musuh.
Ahlulbait Indonesia, 3 Januari 2026 — Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menanggapi situasi protes di Iran dengan menegaskan bahwa otoritas negara akan membuka dialog dengan pedagang bazaar (pasar) yang memprotes ketidakstabilan nilai mata uang. Namun, beliau menekankan bahwa tindakan pengacauan yang memanfaatkan situasi tersebut tidak akan ditoleransi.
Ayatullah Ali Khamenei menyatakan, protes atas persoalan ekonomi merupakan hal yang wajar, tetapi tidak dapat disamakan dengan upaya dari mereka yang menciptakan ketidakamanan melalui slogan-slogan anti-Islam dan anti-Republik Islam.
“Protes yang tepat adalah wajar, tetapi protes berbeda dengan pengacauan. Kami akan berbicara dengan para pemrotes, sementara berbicara dengan pengacau tidak ada gunanya. Pengacau harus ditertibkan,” ujarnya dalam pertemuan dengan keluarga para syuhada Perang 12 Hari, Sabtu (3/1/2026), sebagaimana dilaporkan situs resmi Khamenei.ir.
Tuntutan Pedagang Dinilai Benar
Ayatullah Khamenei menyebut kalangan pasar sebagai lapisan masyarakat paling setia kepada sistem dan revolusi Islam. Beliau menilai tuntutan pedagang soal penurunan nilai mata uang yang menyebabkan ketidakstabilan lingkungan usaha adalah benar.
“Seorang pedagang berkata ia tidak bisa berdagang karena ketidakstabilan harga mata uang domestik dan asing, itu benar. Para pejabat negara mengakui hal ini. Presiden dan pejabat tinggi lainnya sedang berupaya mengatasi masalah ini,” ujarnya.
Pemimpin Revolusi itu menambahkan, kenaikan harga valuta asing yang tidak terkendali tidaklah wajar dan merupakan campur tangan musuh yang harus dicegah dengan berbagai kebijakan.
Provokator di Balik Pedagang
Namun Ayatullah Ali Khamenei menegaskan, yang tidak dapat diterima adalah sekelompok orang yang diprovokasi atau menjadi antek bayaran musuh yang berdiri di belakang pedagang pasar dan meneriakkan slogan-slogan anti-Islam, anti-Iran, dan anti-Republik Islam.
“Bahwa sekelompok orang dengan berbagai dalih berniat merusak dan membuat negara tidak aman, berdiri di belakang pedagang pasar yang mukmin, baik, dan revolusioner, lalu memanfaatkan protes mereka untuk mengacau, ini sama sekali tidak dapat diterima,” tegasnya.
Ayatullah Khamenei memperingatkan taktik musuh yang selalu mencari kesempatan untuk melemahkan negara. “Musuh tidak akan diam dan akan memanfaatkan setiap kesempatan. Di sini mereka melihat ada kesempatan dan ingin memanfaatkannya.”
Seruan Kewaspadaan Perang Lunak
Lebih lanjut Ayatullah Khamenei menyerukan kewaspadaan terhadap perang lunak musuh yang berbasis “tipu daya, kebohongan, fitnah, dan rumor”, sebuah metode yang sama digunakan musuh-musuh dalam pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib untuk menghalangi terwujudnya tujuan-tujuan Imam setelah kekalahan militer mereka.
“Yang penting adalah tidak acuh tak acuh terhadap perang lunak musuh dan penyebaran rumor. Ketika musuh ingin memaksakan sesuatu secara sepihak kepada negara, para pejabat, pemerintah, dan rakyat, kita harus berdiri tegak menghadapi musuh dengan kekuatan penuh,” kata Ayatullah Khamenei.
Beliau menekankan: “Kita tidak akan menyerah kepada musuh. Dengan bertawakal kepada Allah Yang Maha Kuasa dan keyakinan akan dukungan rakyat, kita akan membuat musuh berlutut.”
Keadilan dan Ketakwaan
Pertemuan yang bertepatan dengan hari lahir Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan peringatan keenam kesyahidan Jenderal QasimSolaemani itu juga membahas pentingnya keadilan dan ketakwaan, dua sifat Imam Ali yang paling dibutuhkan negara saat ini.
Ayatullah Khamenei menyebut keadilan sebagai kebutuhan terpenting negara. “Hari ini, berbeda dengan Syiah sepanjang sejarah, kita tidak memiliki alasan apa pun untuk tidak melaksanakan keadilan, karena pemerintahannya adalah Republik Islam dan sistem ala Imam Ali.”
Beliau menjelaskan, hambatan terwujudnya keadilan dan ketakwaan terkadang berupa rasa takut, keraguan, pertimbangan persahabatan, atau pertimbangan terhadap musuh. “Kita harus bergerak menuju pengembangan keadilan dan ketakwaan tanpa pertimbangan yang tidak perlu.”
Prestasi di Tengah Sanksi
Pemimpin Revolusi itu menyoroti berbagai prestasi bangsa Iran di tengah sanksi, termasuk peluncuran tiga satelit ke angkasa beberapa hari lalu dan kemajuan di bidang kedirgantaraan, bioteknologi, kedokteran, nano, serta industri pertahanan dan rudal.
“Musuh, dan sayangnya beberapa pihak di dalam negeri, menyembunyikan kemajuan besar yang dicapai dalam kondisi sanksi ini dan tidak menyampaikannya ke telinga rakyat,” ujarnya.
Dengan rata-rata usia 26 tahun para ilmuwan yang terlibat dalam peluncuran tiga satelit terakhir, Ayatullah Khamenei menyebutnya sebagai contoh kekayaan besar sumber daya manusia bangsa Iran.
“Faktor yang membuat musuh meminta gencatan senjata adalah kekuatan dan kemampuan bangsa Iran. Tentu saja kami tidak percaya pada perkataan musuh yang licik, penipu, dan pembohong,” tegasnya.
Mengenang Syahid Solaemani
Ayatullah Khamenei juga mengenang Jenderal Qasim Solaemani yang dibunuh enam tahun lalu, dengan menyebut tiga karakteristik utamanya: iman, ikhlas, dan amal perbuatan.
“Haj Qasim memiliki keimanan mendalam kepada Tuhan dan dukungan Ilahi. Beliau adalah seorang yang ikhlas karena Allah dan tidak melakukan sesuatu untuk popularitas atau pujian orang lain. Berbeda dengan sebagian orang yang paham dan berbicara baik namun tidak bertindak, beliau hadir di semua medan yang diperlukan,” katanya.
Pemimpin Revolusi juga menyinggung kehadiran keluarga para syuhada perang 12 hari dalam pertemuan tersebut. Dan mengatakan, bahwa pertemuan ini digelar untuk menghormati dan memuliakan seluruh syuhada pembelaan suci 12 hari beserta keluarga mereka, baik para komandan yang mendambakan jihad dan syahadah, para ilmuwan berkapasitas tinggi, maupun syuhada lainnya. Beliau menegaskan, bahwa nama-nama para Syuhada itu akan abadi dalam sejarah dan harus menjadi sumber keberkahan serta keteladanan. [HMP]
Sumber: KHAMENEI.IR
