Internasional
Gereja-Gereja al-Quds Peringatkan “Zionisme Kristen” Ancam Masa Depan Kekristenan
Ahlulbait Indonesia | 19 Januari 2026 — Para pemimpin Kristen senior di al-Quds yang diduduki memperingatkan bahwa ideologi “Zionisme Kristen” dan agenda pihak luar tengah memecah belah persatuan umat Kristen di Tanah Suci serta melemahkan otoritas gereja. Peringatan tersebut disampaikan dalam laporan Press TV pada Minggu, 18 Januari 2026.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Sabtu, para pemimpin gereja menyoroti keterlibatan aktor-aktor politik yang berafiliasi dengan rezim Israel. Mereka memperingatkan bahwa campur tangan eksternal tersebut mengancam masa depan Kekristenan, tidak hanya di Tanah Suci, tetapi juga di kawasan Asia Barat secara lebih luas.
Para pemimpin gereja menegaskan kekhawatiran mereka terhadap individu-individu di wilayah pendudukan Israel yang mempromosikan ideologi berbahaya seperti “Zionisme Kristen.” Menurut mereka, upaya tersebut “menyesatkan publik, menabur kebingungan, dan merusak persatuan umat.”
Mereka juga menyatakan keprihatinan mendalam bahwa para pendukung agenda tersebut justru “diterima di tingkat resmi, baik lokal maupun internasional.” Keterlibatan semacam itu dinilai sebagai campur tangan dalam kehidupan internal gereja serta pengabaian terhadap otoritas pastoral yang melekat pada kepemimpinan gereja-gereja di al-Quds.
Peringatan ini muncul di tengah menguatnya pengaruh Kekristenan Evangelis dan kelompok pendukung sayap kanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang terus membentuk dukungan politik dan finansial bagi Israel. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pemimpin gereja di al-Quds yang diduduki.
Para analis menilai keyakinan tersebut kerap diterjemahkan ke dalam sumbangan dana dan dukungan politik bagi proyek-proyek pemukiman Israel. Dampaknya, pendudukan semakin menguat, sementara umat Kristen Palestina kian terpinggirkan dan gereja-gereja bersejarah di Tanah Suci semakin tertekan.
Kekhawatiran ini sejalan dengan meningkatnya keresahan di kalangan umat Kristen Palestina atas kebijakan Israel yang dinilai mempercepat kemunduran salah satu komunitas Kristen tertua di dunia.
Sebuah laporan terbaru dari komite yang terdiri atas badan-badan gereja senior Palestina menyerukan perlindungan mendesak bagi komunitas Kristen dan tempat-tempat ibadah di seluruh Tepi Barat. Laporan tersebut menyoroti meningkatnya serangan pemukim yang menargetkan gereja, warga, dan properti Kristen.
Pada Rabu, laporan itu juga mengecam pembatasan Israel yang mencegah guru-guru dari Tepi Barat yang diduduki untuk mengakses sekolah-sekolah di Yerusalem Timur yang diduduki. Pembatasan tersebut diperingatkan sebagai serangan langsung terhadap pendidikan Kristen.
Komite tersebut menegaskan, penargetan sekolah-sekolah Kristen merupakan bagian dari kebijakan Israel yang lebih luas untuk melemahkan pendidikan Palestina dan mengikis keberadaan umat Kristen Palestina di al-Quds yang diduduki. Langkah-langkah itu dinilai sengaja dirancang untuk melelahkan guru dan siswa, melemahkan kehidupan komunitas, serta memperkuat kendali Israel atas kota tersebut dengan mengorbankan penduduk Kristen asli.[HMP/Press TV]
