Internasional
Iran Tangkap Ratusan Perusuh, Kerusuhan Dituding Disusupi Asing
Ahlulbait Indonesia, 11 Januari 2026 — Pemerintah Iran menangkap lebih dari 100 perusuh di sejumlah provinsi menyusul kerusuhan yang pecah setelah aksi protes ekonomi berubah menjadi kekerasan. Otoritas menuding campur tangan asing sebagai faktor utama eskalasi situasi keamanan di berbagai wilayah.
Di Provinsi Lorestan, aparat keamanan yang berkoordinasi dengan unsur militer dan intelijen menahan lebih dari 100 orang yang dituduh terlibat dalam aksi ketidakamanan di sejumlah kota. Kantor berita Tasnim, pada (10/1) melaporkan penangkapan dilakukan dalam operasi terkoordinasi setelah aparat menilai kerusuhan telah melampaui batas aksi protes damai.
Selain penahanan massal, aparat Iran juga mengklaim berhasil membongkar dua “tim teroris”. Satu kelompok beranggotakan empat orang ditangkap di Borujerd, sementara tujuh orang lainnya diamankan di Khorramabad. Menurut otoritas setempat, kedua kelompok tersebut diduga membawa senjata api dan senjata tajam serta merencanakan aksi kekerasan terorganisasi.
Polisi memuji peran warga yang disebut membantu menjaga stabilitas dengan memberikan informasi kepada aparat. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk melaporkan aktivitas mencurigakan melalui saluran resmi Kementerian Intelijen dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Penangkapan tokoh kunci
Penindakan juga dilakukan di Provinsi Khorasan Utara. Seorang sumber keamanan mengatakan sejumlah tokoh utama kerusuhan di ibu kota provinsi, Bojnourd, telah ditangkap setelah penyelidikan intensif. Mereka disebut memiliki keterkaitan langsung dengan organisasi asing yang diduga terlibat dalam pengorganisasian dan pengarahan aksi kerusuhan.
Menurut sumber tersebut, para tersangka menjalin komunikasi dengan perantara yang terhubung dengan badan intelijen asing. Dalam pemeriksaan, mereka disebut mengakui keterlibatan dalam aksi vandalisme serta rencana merekayasa korban jiwa untuk kemudian menyalahkan pemerintah Iran.
“Penangkapan akan terus dilakukan sampai stabilitas sepenuhnya pulih,” ujar sumber keamanan tersebut seperti dikutip Tasnim.
Protes ekonomi berubah jadi kerusuhan
Dalam konferensi pers terpisah, juru bicara Dewan Konstitusi Iran, Hadi Tahan Nazif, menyatakan bahwa aktor asing telah mengubah protes ekonomi menjadi kerusuhan bersenjata. Ia menyampaikan belasungkawa atas korban tewas, termasuk dari kalangan aparat keamanan.
Nazif juga mengonfirmasi tewasnya seorang pengawas pemilu Dewan Konstitusi di Provinsi Qazvin. Ia menyebut adanya “tangan-tangan tersembunyi” di balik kekerasan tersebut dan menuding pihak-pihak yang sama bertanggung jawab atas kematian lebih dari 1.000 warga Iran dalam perang selama 12 hari pada Juni lalu.
Pemerintah Iran menilai kerusuhan kali ini bukan semata luapan ketidakpuasan ekonomi, melainkan bagian dari pola tekanan eksternal yang memanfaatkan situasi sosial dalam negeri. Narasi tersebut kembali menguat di tengah ketegangan regional dan hubungan Iran dengan Amerika Serikat serta Israel.
Infrastruktur darurat rusak
Kerusuhan juga berdampak besar pada infrastruktur publik, terutama layanan darurat. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Teheran, Ghodratollah Mohammadi, mengatakan 43 unit mobil pemadam kebakaran rusak dan delapan di antaranya hancur dalam dua hari kerusuhan.
Menurut Mohammadi, massa menghalangi kendaraan pemadam, memaksa petugas turun dari kendaraan, serta merusak peralatan. Satu kantor pemadam kebakaran di Teheran diserang dan dijarah. Kerusakan serupa dilaporkan terjadi di Isfahan dan Ahvaz.
“Sekitar separuh operasi pemadaman darurat di Teheran tidak dapat dilakukan. Jumlah panggilan darurat melonjak dari 3.000 menjadi 6.000 per hari,” kata Mohammadi. Ia menambahkan, penggantian kendaraan yang hancur akan memakan biaya besar dan waktu lama karena sebagian besar unit merupakan barang impor.
Gedung pengadilan dibakar
Di Provinsi Gilan, Kepala Pengadilan Tinggi setempat, Majid Elahian, mengatakan sebuah gedung pengadilan di Rasht dibakar massa, menyebabkan layanan peradilan terhenti sementara. Ia juga menyebut sejumlah masjid, mushaf Al-Qur’an, toko, bank, dan sebuah klinik turut dibakar.
Kebakaran di fasilitas kesehatan tersebut menyebabkan tiga perawat meninggal. Elahian menegaskan bahwa proses penangkapan masih berlangsung dan para pelaku akan dijatuhi hukuman berat. Ia secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik eskalasi kekerasan.
Tasnim juga melaporkan tewasnya Farajollah Shooshtari, putra mendiang komandan IRGC Noor Ali Shooshtari, dalam serangan yang disebut sebagai aksi teror di Mashhad. Farajollah dikenal sebagai aktivis sosial dan kebudayaan.
Hingga kini, situasi di sejumlah wilayah Iran dilaporkan masih dijaga ketat aparat keamanan. Pemerintah menyatakan akan terus melakukan penindakan untuk mencegah meluasnya kerusuhan dan memulihkan stabilitas nasional.[HMP]
