Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Kepala Dewan Transisi Selatan yang Didukung UEA Dilaporkan Melarikan Diri

Published

on

Kepala Dewan Transisi Selatan yang Didukung UEA Dilaporkan Melarikan Diri
Aidarus al-Zoubaidi. Foto; Tasnim

Ahlulbait Indonesia, 7 Januari 2026 — Persaingan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman selatan kembali memanas menyusul laporan pelarian Aidaruss al-Zubaidi, Ketua Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang berafiliasi dengan Abu Dhabi, ke lokasi yang hingga kini tidak diketahui. Perkembangan ini terjadi di tengah eskalasi bentrokan bersenjata dan serangan udara di Provinsi Al-Dhale’a yang menelan puluhan korban jiwa.

Mengutip Kantor Berita Tasnim, Rabu (7/1/2026), koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa al-Zubaidi sebelumnya diminta hadir di Arab Saudi dalam waktu 48 jam untuk bertemu Rashad al-Alimi, Ketua Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Riyadh, guna membahas peningkatan ketegangan keamanan. Pada 6 Januari, al-Zubaidi sempat mengumumkan rencana keberangkatannya menuju Arab Saudi dan dilaporkan telah menuju bandara. Namun, koalisi kemudian menyampaikan bahwa pesawat yang mengangkut sejumlah anggota STC lepas landas tanpa kehadiran al-Zubaidi, sementara keberadaannya hingga kini tidak dapat dipastikan.

Koalisi menuduh al-Zubaidi telah memobilisasi pasukan ke wilayah Al-Dhale’a serta mendistribusikan senjata di Aden dengan tujuan memicu kerusuhan. Pasukan koalisi bersama unit yang berafiliasi dengan Arab Saudi meminta otoritas keamanan setempat untuk mencegah pecahnya konflik di Aden. Koalisi juga mengimbau warga sipil agar menjauhi kamp-kamp militer di Aden dan Al-Dhale’a demi keselamatan.

Sementara itu, sejumlah sumber media melaporkan bahwa Dewan Kepresidenan Yaman tengah menyiapkan langkah pencopotan al-Zubaidi dari jabatannya serta rencana menyerahkannya ke Kejaksaan Agung. Tuduhan yang disiapkan mencakup pengkhianatan tingkat tinggi, pembentukan kelompok bersenjata ilegal, kejahatan terhadap warga sipil, pembunuhan aparat keamanan, serta sabotase fasilitas militer. Dewan Kepresidenan juga mengumumkan pemberhentian Menteri Transportasi dan Menteri Perencanaan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Situasi keamanan semakin memburuk setelah serangan udara Arab Saudi menghantam Kamp Al-Zand milik STC di wilayah Zubayd, Provinsi Al-Dhale’a. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan persenjataan dan kendaraan militer STC yang dipindahkan dari Aden ke Al-Dhale’a, memicu ledakan besar yang mengguncang kawasan sekitar. Reporter Al-Mayadeen melaporkan puluhan korban tewas dan luka-luka. Sumber yang berafiliasi dengan STC menyebut sedikitnya 25 orang menjadi korban, termasuk perempuan dan anak-anak. Sumber Yaman lainnya menyatakan lebih dari 15 serangan udara terjadi di Zubayd, yang juga merupakan kampung halaman al-Zubaidi.

Baca juga : Channel 12 Israel: Hizbullah Miliki 70.000 Pejuang dan Kemampuan Menyerang Gush Dan

Pemindahan kekuatan STC ke Al-Dhale’a dinilai memiliki signifikansi strategis. Provinsi ini menghubungkan wilayah selatan dan utara Yaman, menjadikannya krusial bagi jalur pasokan dan pergerakan militer. Editor urusan Yaman Al Jazeera, Ahmed Al-Shulafi, menilai langkah al-Zubaidi dipengaruhi pertimbangan politik dan personal, mengingat Al-Dhale’a merupakan basis sosial utama para pemimpin STC.

Menteri Informasi Dewan Kepresidenan Yaman, Muammar al-Iryani, memperingatkan bahwa pemindahan senjata dan perlengkapan militer STC dari Aden ke Al-Dhale’a mencerminkan niat berbahaya yang mengancam stabilitas dan keamanan. Ia juga menyinggung laporan penjarahan peralatan dari istana presiden di Aden sebagai indikasi memburuknya tata kelola keamanan dan institusi publik.

Sumber yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menyebut Dewan Kepresidenan telah menggelar rapat darurat untuk meninjau eskalasi keamanan di Yaman selatan. Pertemuan tersebut membahas langkah hukum terhadap sejumlah pejabat yang berafiliasi dengan STC serta upaya penindakan terhadap distribusi senjata ilegal. Hingga kini, bentrokan dilaporkan masih berlangsung dan rincian lanjutan belum diumumkan secara resmi.

Di tengah dinamika tersebut, sumber terpercaya di Yaman selatan menyatakan UEA meluncurkan kampanye hubungan masyarakat di Amerika Serikat untuk memperoleh dukungan terhadap posisinya di Yaman, termasuk dengan kembali menekankan narasi ancaman Houthi (Ansarullah). Namun, langkah Abu Dhabi tersebut dilaporkan tidak sepenuhnya sejalan dengan perhitungan Riyadh. Arab Saudi disebut khawatir terhadap ambisi al-Zubaidi di Provinsi Hadramaut dan Al-Mahra, dua wilayah strategis yang kaya sumber daya dan penting bagi akses koridor darat menuju pelabuhan di Laut Arab.

Pelarian al-Zubaidi menambah ketidakpastian bagi Arab Saudi. Sejumlah pengamat menilai skenario yang paling mungkin dalam situasi saat ini adalah berlanjut dan meluasnya konflik ke wilayah lain di Yaman selatan, sembari menunggu kejelasan mengenai peran UEA dalam perkembangan terbaru ini. [HMP/ABI]

Sumber: Tasnim News Agency

Baca juga : Yaman Nyatakan Kehadiran Zionis di Somaliland sebagai Target Sah