Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Media Israel: Jebakan “Starlink” dan Cara Iran Mengubah Jaringan Itu Menjadi Alat Intelijen

Published

on

Jebakan "Starlink"... Bagaimana Iran berhasil mengubah jaringan tersebut menjadi "sistem mata-mata"
Jebakan "Starlink"... Bagaimana Iran berhasil mengubah jaringan tersebut menjadi "sistem mata-mata" (Foto: Al Mayadeen)

Ahlulbait Indonesia | 19 Januari 2026 — Media Israel melaporkan bahwa Iran memanfaatkan jaringan satelit Starlink sebagai bagian dari operasi keamanan untuk melacak para perusuh dan menanamkan ketidakpercayaan, melalui metode yang disebut melampaui mekanisme sensor konvensional.

Mengutip laporan dari Iran, media Israel, sebagaimana dilansir Al Mayadeen pada Senin (19/1/2026) menyatakan bahwa dinas keamanan Iran telah mengubah jaringan satelit milik Elon Musk tersebut menjadi apa yang mereka gambarkan sebagai “sistem mata-mata pemerintah” untuk menghadapi perusuh dan pelaku sabotase selama gelombang kerusuhan.

Menurut laporan itu, jaringan yang semula dipandang sebagai “jalur penyelamat” bagi para perusuh karena memungkinkan mereka terhubung dengan dunia luar, justru berubah menjadi alat penjerat. Data menunjukkan bahwa otoritas Iran bukan gagal memblokir Starlink sejak awal, melainkan sengaja membiarkannya tetap beroperasi sebagai bentuk “jebakan madu”.

Laporan tersebut menambahkan bahwa setelah para penyabot memanfaatkan jaringan itu untuk menyiarkan informasi ke luar negeri, Garda Revolusi melakukan operasi pelacakan lokasi yang terarah terhadap para pengguna layanan. Operasi ini berujung pada penangkapan, sebelum akses jaringan akhirnya ditutup.

Media Israel mencatat bahwa, menurut narasi tersebut, Iran berhasil meruntuhkan citra “teknologi Barat yang tak terkalahkan” sekaligus mengirim pesan intimidatif kepada para pelaku sabotase bahwa “tidak ada tempat untuk bersembunyi.” Bahkan, satelit Amerika disebut-sebut “bekerja untuk kepentingan rezim.”

Lebih lanjut, laporan itu menilai mekanisme tersebut mencerminkan kemampuan canggih Iran di bidang peperangan siber dan elektronik, yang kemungkinan didukung oleh keahlian Rusia atau Tiongkok, khususnya dalam mengidentifikasi siaran uplink dari stasiun satelit.

Menurut media Israel, dampak utama strategi ini tidak hanya terletak pada penangkapan di lapangan, tetapi pada penanaman ketidakpercayaan total. Setiap upaya untuk menghindari pemadaman komunikasi dipandang sebagai potensi tipu daya, dengan kesimpulan bahwa Iran “bukan hanya mematikan lampu, tetapi juga membuat orang takut menyalakan korek api.” [HMP/Al Mayadeen]