Internasional
Profesor Universitas Amerika: Jenderal Soleimani Faktor Penting Stabilitas Regional dalam Perang Melawan ISIS
Ahlulbait Indonesia, 2 Januari 2026 — Seorang analis urusan internasional dan profesor di University of New Hampshire menilai kebijakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran sebagai tindakan yang mengkhawatirkan. Ia menyebut Letnan Jenderal Qassim Soleimani sebagai salah satu faktor penting stabilitas regional, khususnya dalam perang melawan ISIS.
Dalam wawancara eksklusif dengan IRNA pada Kamis (1/1), menjelang peringatan syahid Qassim Soleimani, Kurk Dorsey, profesor sejarah dan analis senior politik internasional, menilai keputusan membunuh Jenderal Soleimani sebagai langkah berisiko. Namun, menurutnya, enam tahun setelah peristiwa itu, sulit menyimpulkan bahwa satu tindakan tersebut secara langsung mengguncang stabilitas kawasan.
“Timur Tengah menghadapi banyak sumber ketidakstabilan, perang di Gaza, Suriah, dan Yaman. Serangan kontroversial itu hanya salah satu unsur di antara banyak faktor lain,” kata Dorsey.
Ia juga menyoroti serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, yang menurutnya sulit dipahami dari sudut pandang kebijakan. Dorsey mencatat bahwa pemerintahan Trump awalnya terlihat menjaga jarak dari tindakan Israel, tetapi kemudian mengubah sikap dan memilih bergabung.
“Pemerintahan Trump dikenal tidak konsisten. Langkah ini bisa jadi sudah direncanakan sejak awal, atau mencerminkan perubahan pandangan setelah serangan awal Israel,” ujarnya.
Dorsey mengaku terkejut melihat respons Iran, baik setelah pembunuhan Soleimani maupun setelah serangan di wilayah Iran pada musim panas lalu. Ia juga menyoroti terbatasnya kecaman regional dan global terhadap Amerika Serikat, yang menurutnya mengindikasikan adanya tingkat dukungan tertentu terhadap tindakan tersebut.
Terkait peran Syahid Soleimani di kawasan, Dorsey menilai penilaian akhir masih terlalu dini. “Ia memiliki banyak musuh, tetapi juga banyak sekutu dalam pertempuran,” katanya.
Menanggapi pandangan di Amerika Serikat yang menganggap Jenderal Soleimani sebagai faktor ketidakstabilan di Irak, Dorsey menegaskan bahwa dalam konteks perang melawan ISIS, Soleimani justru lebih sering dipandang sebagai kekuatan penopang stabilitas regional.
Letnan Jenderal Hajj Qassim Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, gugur bersama Abu Mahdi al-Muhandis dan delapan orang lainnya pada 4 Januari 2020 di dekat Bandara Baghdad, Irak, dalam serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat yang diperintahkan oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Sebagai respons atas peristiwa tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat Ain al-Assad di Provinsi Anbar, Irak, pada 8 Januari 2020. [HMP]
Sumber: IRNA
