Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Webinar Internasional Bahas Iran: Media Barat Dinilai Kerap Sajikan Narasi Bias

Published

on

Jakarta, 16 Januari 2026 – Universitas Brawijaya melalui Iran Corner Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB, bekerja sama dengan Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) Jakarta, menggelar webinar internasional bertajuk “Iran di Balik Pemberitaan Media: Fakta Lapangan dan Narasi Barat” pada Kamis, 15 Januari 2025. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini menghadirkan akademisi dan analis internasional untuk mengkaji perbedaan antara kondisi faktual di Iran dan framing media Barat.

Webinar tersebut menghadirkan Syed Muhammad Mehdi, Chairman Institute of International Relations and Media Research (Pakistan), serta Dr. Dina Y. Sulaeman, pengamat Timur Tengah dan dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Acara dimoderatori oleh Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., dosen Hubungan Internasional FISIP UB.

Dalam pemaparannya, Dr. Dina Y. Sulaeman menyoroti kecenderungan media arus utama Barat yang dinilai menyederhanakan kompleksitas geopolitik Iran. Menurutnya, pemberitaan sering kali bersifat selektif dan menampilkan sudut pandang tertentu. “Media Barat kerap menyajikan narasi yang bias, sementara berbagai capaian sosial dan teknologi Iran jarang mendapat perhatian internasional,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya literasi media kritis agar publik mampu memahami kepentingan politik di balik narasi global.

Sementara itu, Syed Muhammad Mehdi menilai bahwa intervensi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah pasca Arab Spring semakin intensif, termasuk terhadap Iran. Ia menyebut langkah tersebut bertentangan dengan prinsip kedaulatan dan non-intervensi dalam hukum internasional. Terkait isu domestik Iran, Mehdi menyatakan bahwa pembatasan akses internet dilakukan sebagai bagian dari kebijakan keamanan nasional untuk mencegah eskalasi kerusuhan. Ia juga mendorong negara-negara mayoritas Muslim, seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki, untuk berperan sebagai jembatan dialog antara Iran dan Amerika Serikat.

Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Iran, Dr. Yahya Jahan Giri, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang memicu sebagian aksi protes masyarakat tidak terlepas dari sanksi dan blokade ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Ia menyatakan bahwa penanganan demonstrasi dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan nasional. “Dalam beberapa kasus, terdapat aparat kepolisian yang gugur akibat aksi demonstran bersenjata,” katanya.

Menutup kegiatan, moderator Abdullah menyampaikan bahwa webinar ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga bagian dari upaya strategis untuk memperkuat Iran Corner FISIP UB sebagai pusat kajian Iran dan Timur Tengah. Ia menilai diskusi semacam ini penting untuk memperluas perspektif global serta meningkatkan literasi geopolitik yang berimbang di kalangan sivitas akademika.

Webinar tersebut mendapat respons positif dari dosen, mahasiswa, serta peserta yang berasal dari organisasi non-pemerintah dan komunitas keagamaan. Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal bagi berkembangnya diskursus akademik yang lebih objektif dan komprehensif mengenai Iran di Indonesia. [ HMP/ JOE]

Continue Reading