Internasional
Yaman Nyatakan Kehadiran Zionis di Somaliland sebagai Target Sah
Jakarta, 7 Januari 2026 — Pemerintah Yaman menyatakan kehadiran rezim Zionis di wilayah separatis Somaliland, Somalia, akan diperlakukan sebagai target sah oleh angkatan bersenjata Yaman. Pernyataan ini muncul menyusul kunjungan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar ke wilayah tersebut.
Laporan IRNA pada Rabu (7/1/2026), mengutip kantor berita resmi Yaman, Saba, menyebut Wakil Menteri Luar Negeri Yaman Abdul Wahid Abu Ras menilai kunjungan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional serta kedaulatan dan integritas wilayah Somalia. Kunjungan itu dipandang sebagai bagian dari upaya menjadikan Somaliland basis operasi Israel di kawasan.
Menurut Abu Ras, keberadaan Israel di Somaliland berpotensi mengganggu stabilitas regional dan menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan Laut Merah, Teluk Aden, serta jalur pelayaran internasional. Kehadiran rezim Zionis di wilayah Somalia disebut sebagai garis merah bagi Yaman.
Abu Ras juga menyerukan negara-negara di sekitar Laut Merah serta dunia Arab dan Islam untuk membangun koordinasi bersama guna menghadapi ekspansi Israel di kawasan tersebut.
Baca juga : Kepala Dewan Transisi Selatan yang Didukung UEA Dilaporkan Melarikan Diri
Pernyataan senada disampaikan Nasreddin Amer, pejabat senior dan anggota biro politik gerakan Ansarullah Yaman. Menanggapi kunjungan Gideon Sa’ar, Amer menilai kecaman diplomatik tidak lagi memadai dan mendesak langkah konkret dari negara-negara kawasan.
Amer menegaskan Yaman tidak akan tinggal diam terhadap kehadiran Israel di wilayah Somalia serta menyatakan kesiapan angkatan bersenjata Yaman menjaga keamanan Bab al-Mandab dari ancaman eksternal.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar tiba di Hargeisa, ibu kota wilayah otonom Somaliland, pada Selasa bersama delegasi resmi. Kunjungan tersebut menyusul pengakuan sepihak Tel Aviv terhadap Somaliland serta laporan mengenai rencana pendirian fasilitas intelijen dan logistik Israel di wilayah itu.
Langkah Israel tersebut dilakukan sekitar sepuluh hari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan pengakuan Somaliland sebagai negara berdaulat dan merdeka, keputusan yang memicu kecaman luas dari pemerintah pusat Somalia dan sejumlah negara lain. [HMP]
Sumber: IRNA
Baca juga : Channel 12 Israel: Hizbullah Miliki 70.000 Pejuang dan Kemampuan Menyerang Gush Dan
