Ikuti Kami Di Medsos

Kajian Islam

Kesabaran Sayyidah Zainab, Fondasi Tradisi Kesyahidan dan Kebangkitan Publik

Published

on

Kesabaran Sayyidah Zainab, Fondasi Tradisi Kesyahidan dan Kebangkitan Publik

Ahlulbait Indonesia, 5 Januari 2026 — Dalam pembacaan teologis dan historis atas peristiwa Asyura, terdapat satu kenyataan mendasar yang sering terlewat. Karbala tidak berakhir pada hari kesepuluh Muharam. Justru setelah pedang-pedang berhenti diayunkan dan tubuh para syuhada terbaring di padang pasir, Asyura memasuki fase paling menentukan. Fase ini tidak dipimpin oleh seorang panglima perang, melainkan oleh seorang perempuan, Sayyidah Zainab, dengan senjata berupa kesadaran, keteguhan iman, dan kesabaran yang sepenuhnya sadar.

Kesabaran sebagai Sikap Teologis yang Aktif

Dalam pemahaman populer, sabar kerap direduksi menjadi sikap pasrah dan menahan diri. Namun dalam teologi Islam, terutama dalam tradisi Ahlul Bait, sabar adalah keteguhan sadar dalam mempertahankan kebenaran di tengah tekanan. Sabar bukan kondisi psikologis pasif, melainkan posisi teologis yang aktif dan penuh tanggung jawab.

Kesabaran Sayyidah Zainab a.s. berada pada tingkat ini. Ungkapan beliau yang terkenal, “ما رأيتُ إلا جميلاً” “Aku tidak melihat apa pun selain keindahan”, bukanlah upaya memperindah tragedi, melainkan pernyataan Tauhid yang sangat dalam. Seluruh peristiwa Karbala dipahami Sayyidah Zainab sebagai bagian dari kehendak dan hikmah Ilahi. Dalam kerangka ini, kesyahidan tidak dipandang sebagai kekalahan sejarah, melainkan sebagai kemenangan maknawi. Penderitaan tidak disangkal, tetapi tidak dibiarkan kehilangan makna ketuhanannya.

Dari Karbala Menuju Kesadaran Publik

Secara historis, pemerintahan Umayyah memenangkan pertempuran secara militer, namun gagal total dalam menguasai makna peristiwa. Kekalahan ini bukan kebetulan, melainkan akibat langsung dari peran Sayyidah Zainab a.s. dalam membentuk kesadaran publik. Khutbah-khutbah beliau di Kufah dan Syam bukan hanya luapan emosi, melainkan intervensi sadar terhadap narasi resmi kekuasaan.

Di Kufah, Sayyidah Zainab a.s. menunjukkan ketajaman analisis sosial yang luar biasa. Sayyidah Zaenab tidak lagi mengarahkan seruan kepada para lelaki yang telah gagal secara moral, melainkan kepada para perempuan. Ini adalah keputusan strategis. Perempuan merupakan pusat transmisi nilai dalam masyarakat. Dengan menggugah mereka, Sayyidah Zainab a.s. mengguncang fondasi legitimasi sosial kekuasaan.

Pengakuan Ubaidullah bin Ziyad bahwa seolah ruh Ali hidup dalam diri putrinya mencerminkan satu kenyataan penting. Otoritas moral telah berpindah tangan. Kekuasaan politik masih berdiri, tetapi telah kehilangan pijakan etisnya.

Baca juga : Milad Imam Ali, Dewan Syura ABI Tegaskan Keteladanan Ilmu, Amanah, dan Keberpihakan Kepada Mustadh’afin

Konfrontasi paling menentukan terjadi di istana Yazid. Majelis yang dirancang untuk merayakan kemenangan politik berubah menjadi ruang pengadilan sejarah. Ketika Yazid dengan nada merendahkan bertanya tentang apa yang Allah lakukan terhadap saudara Zainab, jawaban “Aku tidak melihat apa pun selain keindahan” menjadi penolakan total atas klaim kemenangan tersebut.

Secara teologis, pernyataan itu menegaskan maqam ridha sebagai puncak iman. Secara historis, maqam ini mencabut makna kemenangan dari tangan Yazid dan mengembalikannya kepada para Syuhada Karbala, terutama Imam Husain as. Sejak saat itu, Yazid mungkin tetap berkuasa, tetapi dia telah kalah di hadapan sejarah dan nurani umat.

Kesyahidan sebagai Tradisi Kesadaran

Pernyataan Imam Sajjad a.s. bahwa Syahid adalah tradisi keluarga Ahlul Bait menunjukkan bahwa kesyahidan bukan peristiwa kebetulan, melainkan pilihan sadar yang berakar pada visi teologis. Sayyidah Zainab a.s. adalah penjaga dan penafsir tradisi ini. Tanpa perannya, Karbala berisiko direduksi menjadi tragedi lokal yang terputus dari sejarah panjang Perlawanan moral dalam Islam.

Dari sinilah relevansi kontemporer Asyura dapat dipahami. Sikap keluarga para syuhada di berbagai zaman, yang mengucapkan selamat alih-alih tenggelam dalam ratapan, merupakan kelanjutan langsung dari teologi Sayyidah Zainab. Mereka tidak memuliakan kematian, melainkan memuliakan makna pengorbanan.

Sayyidah Zainab dan Keabadian Asyura

Jika Imam Husain a.s. adalah darah Asyura, maka Sayyidah Zainab a.s. adalah denyut yang membuat darah itu tetap mengalir dalam sejarah. Pengorbanan tanpa kesadaran akan membeku, dan kesyahidan tanpa narasi akan dilupakan. Dengan kesabaran yang sadar dan terkelola, Sayyidah Zainab memastikan bahwa Asyura tidak menjadi kisah masa lalu, melainkan kesadaran hidup yang terus menantang kezaliman di setiap zaman.

Pada akhirnya, pedang memang mampu merobohkan tubuh, tetapi hanya kesadaran yang mampu merobohkan legitimasi kezaliman. Dalam bab sejarah inilah Sayyidah Zainab a.s. berdiri bukan sebagai figur pelengkap, melainkan sebagai arsitek keabadian Asyura itu sendiri. [HMP/ABI]

Sumber analisa: Mehrnews Agency

Baca juga : Adakah Puasa Wajib untuk Bulan Rajab?