Ikuti Kami Di Medsos

Kajian Islam

Milad Imam Ali, Dewan Syura ABI Tegaskan Keteladanan Ilmu, Amanah, dan Keberpihakan Kepada Mustadh’afin

Published

on

Jakarta, 3 Januari 2026 — Sekretaris Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Abdullah Beik, menegaskan bahwa peringatan Milad Imam Ali bin Abi Thalib harus dimaknai sebagai momentum evaluasi komitmen moral, intelektual, dan organisatoris umat, bukan semata seremoni tahunan. Penegasan tersebut disampaikan melalui pidato yang diunggah di kanal media resmi ABI berjudul “Pidato Dewan Syura ABI | Kelahiran Imam Ali: Ilmu, Amanah, dan Keadilan”, bertepatan dengan peringatan 13 Rajab 1447 H atau 3 Januari 2026.

Dalam pidato tersebut, Sekretaris Dewan Syura ABI itu menegaskan bahwa Imam Ali merupakan figur yang secara utuh merepresentasikan kelanjutan risalah Rasulullah SAW, baik dalam dimensi keilmuan, ketakwaan, maupun praksis sosial. Keteladanan Imam Ali, menurutnya, bersifat menyeluruh dan relevan lintas profesi, terutama bagi mereka yang mengemban amanah kepemimpinan dan pengelolaan organisasi.

Salah satu penekanan utama adalah urgensi keilmuan sebagai identitas pengikut Ahlul Bait. Beliau mengingatkan bahwa Imam Ali dikenal sebagai pintu ilmu Rasulullah, sehingga kecintaan kepada Ahlul Bait tidak dapat dilepaskan dari kesungguhan menuntut dan mengembangkan pengetahuan. Tidak seharusnya, tegasnya, satu hari berlalu tanpa peningkatan kualitas intelektual, karena stagnasi ilmu bertentangan dengan spirit ajaran Ahlul Bait.

Selain aspek keilmuan, ketakwaan Imam Ali juga ditegaskan sebagai fondasi etika pribadi dan sosial. Beliau menyampaikan riwayat tentang keteguhan Imam Ali menolak segala bentuk kemaksiatan, meskipun ditawarkan imbalan sebesar apa pun. Keteladanan ini dipandang sebagai standar moral bagi setiap pengurus dan kader organisasi dalam menjalankan amanah.

Dalam konteks kelembagaan, Ustadz Beik menegaskan bahwa tanggung jawab struktural tidak boleh diabaikan. Mengelola organisasi dipandang sebagai bagian dari ibadah sosial yang menuntut keseriusan, kedisiplinan, dan akuntabilitas. Mengabaikan tugas organisasi, lanjutnya, merupakan sikap yang bertentangan dengan teladan Imam Ali yang dikenal tegas dan konsisten dalam menunaikan tanggung jawab publik.

Ustadz Abdullah Beik juga menyoroti disiplin waktu sebagai bagian dari etos amanah. Beliau mengemukakan riwayat tentang Imam Ali yang tetap berzikir saat menjahit terompahnya, sebagai simbol bahwa waktu tidak boleh dibiarkan berlalu sia-sia. Menunda amanah dan menyia-nyiakan waktu dinilai sebagai bentuk kelalaian moral yang dapat menjauhkan seseorang dari nilai-nilai ketakwaan.

Dalam dimensi sosial, ditegaskan bahwa pengikut Ahlul Bait secara prinsipil harus berpihak kepada kaum tertindas (mustadh’afin) dan mereka yang dirampas hak-haknya. Dukungan terhadap rakyat Palestina disebut sebagai bagian dari komitmen moral tersebut. Namun demikian, tanggung jawab sosial tidak berhenti pada isu global, melainkan harus diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam membangun masyarakat, bangsa, dan generasi masa depan di Indonesia.

Menutup pidatonya, Sekretaris Dewan Syura ABI itu menekankan bahwa pelajaran paling mendasar dari Imam Ali adalah keberanian mengedepankan kemaslahatan umum di atas kepentingan pribadi. Prinsip tersebut, sebagaimana dicontohkan Imam Ali, menuntut kesiapan menanggung konsekuensi personal demi kepentingan umat dan harus menjadi landasan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan berorganisasi.

Peringatan Milad Imam Ali bin Abi Thalib as tahun ini diharapkan menjadi momentum penguatan makrifah dan konsistensi amal, agar keteladanan Imam Ali tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan terwujud dalam sikap, kebijakan, dan tindakan nyata para pengikut Ahlul Bait. [HMP]