Opini
Dari Aktivis LSM ke Otoritas Negara: Konsensus Media Global dalam Membingkai Kerusuhan Iran
Oleh: Muhlisin Turkan
Jakarta, 17 Januari 2026 — Dalam peliputan mengenai Iran, media arus utama Barat memperlihatkan pola yang konsisten. Konsistensi ini tidak terletak pada keberagaman sumber, melainkan pada pengulangan rujukan yang sama. Sejumlah kecil organisasi yang dikategorikan sebagai “kelompok hak asasi manusia Iran” secara rutin dijadikan sumber utama. Nama-nama tersebut muncul dalam laporan tentang korban tewas, penangkapan, dan dugaan represi negara, lalu diterima sebagai otoritas tanpa penjelasan metodologis yang memadai.
Klaim-klaim tersebut bergerak cepat dari satu media ke media lain. Pemeriksaan independen di lapangan jarang disertakan. Informasi mengenai struktur organisasi, lokasi operasional, maupun sumber pendanaan umumnya tidak dijelaskan, meskipun faktor-faktor ini menentukan sejauh mana data dapat diverifikasi. Dalam praktiknya, detail tersebut kerap diperlakukan sebagai pelengkap, padahal justru menjadi fondasi kredibilitas.
Dari Klaim ke Konsensus Media
Pola kutipan berulang membentuk sirkulasi informasi tertutup. Organisasi memproduksi klaim, media besar mengutip klaim tersebut, lalu kutipan media digunakan kembali untuk memperkuat kredibilitas sumber awal. Semakin sering sebuah angka disebut, semakin kuat angka tersebut diterima sebagai fakta publik. Dalam proses ini, verifikasi tidak menghilang, tetapi tergeser oleh pengulangan.
Salah satu organisasi yang paling sering dirujuk adalah Human Rights Activists in Iran (HRANA). Dalam banyak laporan internasional, HRANA berfungsi sebagai sumber utama, bahkan satu-satunya, untuk data korban tewas dan penangkapan massal. Peran ini secara implisit menuntut akses lapangan yang luas serta metode pengumpulan data yang transparan.
HRANA mendefinisikan diri sebagai organisasi non-politik dan non-pemerintah yang berdiri sejak 2005. Namun organisasi ini tidak beroperasi dari dalam wilayah Iran. Aktivitas administratif dan organisasional HRANA berbasis di Amerika Serikat, khususnya di Virginia. Fakta ini jarang disampaikan dalam laporan media yang mengutip organisasi tersebut, seolah lokasi operasional tidak berpengaruh terhadap kualitas dan jangkauan verifikasi.
Lokasi menentukan akses terhadap sumber primer, kemampuan pengecekan silang, serta batas informasi yang dapat diperoleh. Dalam praktik pemberitaan, faktor ini jarang dijelaskan kepada pembaca. Pernyataan HRANA mengenai ketiadaan dukungan dari pemerintah atau kelompok politik juga sering dikutip tanpa penelusuran lanjutan, meskipun dokumen pendanaan publik menunjukkan hubungan dengan lembaga donor yang terkait dengan proyek promosi demokrasi dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Dalam satu dekade terakhir, pendapatan HRANA meningkat signifikan, dari puluhan ribu dolar menjadi jutaan dolar per tahun. Peningkatan ini berlangsung seiring dengan melonjaknya frekuensi kutipan HRANA di media internasional. Keterkaitan waktu antara pertumbuhan dana dan eksposur media jarang dianalisis, seolah kedua proses tersebut berjalan secara terpisah.
Pola serupa terlihat pada Center for Human Rights in Iran (CHRI). Organisasi ini menyatakan telah menjadi rujukan ribuan laporan media internasional dalam satu tahun. Laporan keuangan menunjukkan pengelolaan dana jutaan dolar dalam bentuk donasi bebas pajak, dengan struktur kompensasi yang setara lembaga advokasi profesional di Amerika Serikat. Rincian sumber pendanaan tidak selalu diungkapkan secara terbuka, dan media yang mengutip laporan CHRI jarang mempertanyakan bagaimana ketergantungan finansial dapat memengaruhi fokus advokasi atau kerangka analisis.
Pada periode awal, pimpinan CHRI menyatakan tidak menerima dana dari pemerintah Amerika Serikat. Data keuangan pada tahun-tahun berikutnya menunjukkan aliran dana yang jauh lebih besar, tanpa kejelasan asal-usul yang dapat diverifikasi secara independen oleh publik. Dalam konteks ini, klaim independensi lebih sering berfungsi sebagai asumsi editorial daripada hasil penilaian kritis.
Pendanaan dan Produksi Otoritas
Organisasi lain, seperti Tavaana, menggambarkan diri sebagai inisiatif pendidikan kewarganegaraan dan penguatan masyarakat sipil Iran. Deskripsi ini memberi kesan kegiatan berbasis lokal. Namun dokumentasi resmi menunjukkan bahwa organisasi tersebut diluncurkan melalui hibah langsung dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Laporan pajak mencatat peningkatan hibah yang stabil selama lebih dari satu dekade, dengan total pendanaan mencapai puluhan juta dolar.
Kegiatan utama organisasi mencakup produksi konten digital, pelatihan daring, serta materi edukasi mengenai aktivisme sipil dan teknologi informasi. Dalam kebijakan luar negeri, aktivitas semacam ini dikategorikan sebagai instrumen pengaruh lunak. Dalam pemberitaan media, afiliasi pendanaan tersebut jarang disampaikan, meskipun relevan untuk menilai posisi politik dan tujuan jangka panjang organisasi.
Di hulu ekosistem ini terdapat lembaga pendanaan seperti National Endowment for Democracy (NED). Lembaga ini didanai oleh Kongres Amerika Serikat dan berperan mendukung organisasi, media, serta jaringan aktivis di negara-negara yang dipandang strategis. Organisasi-organisasi penerima pendanaan kemudian tampil sebagai rujukan utama media Barat dalam peliputan Iran.
Dukungan yang diberikan mencakup hibah jangka panjang, pelatihan, dan penguatan kapasitas komunikasi publik. Namun afiliasi pendanaan ini jarang disebutkan dalam laporan media, meskipun berpengaruh langsung terhadap kerangka analisis sumber yang dikutip. Investigasi yang diterbitkan oleh The Grayzone pada Januari 2026 menunjukkan ketergantungan luas media Barat pada statistik yang disusun oleh organisasi diaspora Iran penerima pendanaan tersebut.
Dalam laporan mengenai demonstrasi dan kerusuhan di Iran, media Barat kerap menggunakan atribusi umum seperti “menurut kelompok hak asasi manusia” atau “menurut aktivis Iran”. Penjelasan mengenai metode pengumpulan data, lokasi operasional, atau proses verifikasi hampir tidak pernah disertakan. Tidak ada keterangan apakah klaim diuji melalui sumber independen lain atau melalui kehadiran koresponden lapangan.
Akibatnya, klaim dari sumber yang sama beredar luas dan berulang. Situasi ini menciptakan kesan konfirmasi kolektif, meskipun informasi berasal dari ekosistem yang terbatas. Ketika atribusi berubah menjadi kebiasaan editorial, batas antara pelaporan dan pengulangan narasi semakin kabur.
Yang terbentuk bukan kumpulan organisasi independen yang bekerja terpisah, melainkan sebuah ekosistem terintegrasi. Ekosistem ini ditopang oleh pendanaan negara, yayasan kebijakan, dan infrastruktur media global. Dalam sistem tersebut, pengulangan sumber menggantikan verifikasi lapangan, sementara kredibilitas dibangun melalui sirkulasi informasi.
Setelah pengalaman Irak, Libya, dan Suriah, persoalannya bukan kekurangan informasi. Persoalan yang tersisa adalah apakah verifikasi masih dianggap penting ketika sumber yang sama terus dikutip oleh semua pihak. Dalam ruang redaksi internasional, kepercayaan semakin sering dibangun melalui konsensus sumber, bukan melalui penyelidikan langsung. Pada titik inilah narasi menjadi stabil, bukan karena tidak dapat dibantah, tetapi karena jarang diperiksa. [HMP]
Rujukan:
1. https://thegrayzone.com/2026/01/12/western-media-riots-iran-govt-regime-change/
2. https://projects.propublica.org/nonprofits/organizations/521344831
3. https://en.wikipedia.org/wiki/Form_990
4. https://projects.propublica.org/nonprofits/organizations/273638741/201913179349307676/full
5. https://apps.irs.gov/app/eos/
