Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Intel: Khamenei Ancang-ancang Kabur ke Rusia, Cara Media Kompas Membaca Cerita

Published

on

Intel: Khamenei Ancang-ancang Kabur ke Rusia, Cara Media Kompas Membaca Cerita
Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan keluarga para Syuhada Perang 12 Hari yang bertepatan dengan Milad Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib di Tehran (Foto: KHAMENEI.IR)

Oleh: Muhlisin Turkan

Jakarta, 6 Januari 2026 — Pada 6 Januari 2026, Kompas menurunkan sebuah berita dengan judul yang terdengar lebih menyerupai poster film politik ketimbang laporan jurnalistik, “Intel: Khamenei Ancang-ancang Kabur ke Rusia, Buntut Demo Iran Makin Brutal. Sejak awal, judul ini menjanjikan sensasi. Ada intelijen, ada pelarian, ada sosok pemimpin besar yang digambarkan siap meninggalkan panggung sejarah. Sebuah kisah dramatis yang, dalam industri media, terbukti selalu menarik perhatian.

Lead berita tersebut konsisten dengan nada yang sama. Pembaca diberi tahu bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, disebut memiliki rencana darurat untuk melarikan diri ke luar negeri apabila gelombang protes domestik membesar dan aparat keamanan gagal menekan demonstrasi atau mulai membelot. Rusia diposisikan sebagai satu-satunya tujuan yang dinilai “realistis”. Keseluruhan narasi disajikan secara rapi, tegas, dan tampak meyakinkan.

Persoalan pertama muncul ketika Kompas menukil The Times tanpa menyebut judul asli artikel yang dirujuk. Dalam praktik jurnalisme, hal ini bukan persoalan teknis belaka. Judul merupakan pintu verifikasi pertama bagi pembaca. Menghilangkannya berarti meminta publik mempercayai informasi tanpa disertai kesempatan untuk melakukan pemeriksaan mandiri.

Kompas kemudian menambahkan detail yang justru terasa terlalu presisi untuk ukuran klaim intelijen. Disebutkan bahwa Khamenei akan meninggalkan Teheran bersama sekitar 20 orang terdekat, termasuk ajudan dan anggota keluarga. Angka tersebut hadir tanpa penjelasan metodologis, seolah terdapat daftar penumpang yang telah disusun dan siap diedarkan ke redaksi media internasional.

Narasi selanjutnya diperluas melalui kutipan The Independent. Muncullah skenario Plan A dan Plan B, lengkap dengan syarat pemicu dan daftar tokoh inti, termasuk Mojtaba, putra Khamenei yang kerap disebut sebagai calon pewaris. Pada titik ini, cerita tidak lagi tampil sebagai laporan berbasis verifikasi, melainkan menyerupai ringkasan naskah dengan alur tersusun rapi, aktor teridentifikasi jelas, dan konflik telah ditentukan sejak awal.

Di sinilah persoalan utamanya. Publik diajak mempercayai bahwa terdapat seorang sumber intelijen yang mengetahui seluruh rencana darurat Pemimpin Tertinggi Iran itu, mulai dari jalur pelarian, jumlah rombongan, urutan skenario, hingga potensi suksesi kekuasaan. Lebih jauh lagi, sumber dengan akses sedemikian luas tersebut digambarkan membocorkan seluruh informasi sensitif itu kepada media Inggris. Hal yang paling problematis adalah, kisah semacam ini direproduksi Kompas dengan tingkat skeptisisme yang nyaris tidak terlihat.

Baca juga : Donald Trump dan Politik “Ana Rabbukumul A‘la” di Abad ke-21

Pola seperti Kompas ini bukan kebetulan, bahkan berulang. Beberapa hari sebelumnya, Donald Trump memamerkan kisah heroik tentang Delta Force dalam operasi penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Narasi kemenangan yang instan kembali dihidangkan. Musuh digambarkan lumpuh. Teknologi diposisikan sebagai penentu tunggal. Kompleksitas kekuasaan direduksi menjadi cerita hitam-putih. Dalam kedua kasus, publik tidak diajak berpikir jernih, melainkan diyakinkan.

Padahal, realitas kekuasaan modern jarang bekerja tanpa aktor internal. Tanpa pengkhianatan di pusat kekuasaan, tanpa kolaborator yang membuka pintu, operasi penculikan kepala negara berdaulat tetap berada dalam wilayah imajinasi sinematik. Menyingkirkan peran aktor internal dari cerita bukan penyederhanaan, melainkan pengaburan fakta.

Faktanya sendiri tidak spektakuler, artikel “Ayatollah Khamenei plans to flee to Moscow if Iran unrest intensifies” di The Times terbit pada 4 Januari 2026, pukul 20.57 GMT. Artikel tersebut ditulis oleh Gabrielle Weiniger. Isi laporannya dapat diringkas sebagai berikut, klaim bahwa Khamenei menyiapkan rencana pelarian ke Moskwa apabila kerusuhan memburuk dan aparat keamanan membelot, rencana tersebut mencakup sekitar 20 orang dari keluarga dan staf dekat, termasuk Mojtaba, jalur keluar dan pengamanan aset disebut telah dipersiapkan, rute pelarian disamakan dengan pelarian Bashar al-Assad ke Rusia, serta gambaran bahwa Khamenei mengagumi Vladimir Putin dan memandang Rusia sebagai tujuan aman terakhir.

Persoalan mendasarnya bukan terletak pada ringkasan isi, melainkan pada cara cerita ini diperlakukan. Realitas digambarkan seolah sangat sederhana, seorang intelijen mengetahui seluruh rahasia paling sensitif, lalu membocorkannya ke media Barat tanpa hambatan berarti. Narasi tersebut tidak diuji, tidak dibedah secara logis, melainkan dipoles dan disajikan ulang.

Bahwa Weiniger berbasis di Tel Aviv dan merupakan lulusan Tel Aviv University adalah fakta konteks, bukan tuduhan personal. Fakta ini menjadi relevan karena narasi yang dia hasilkan bergerak seirama dengan pola klasik propaganda geopolitik Barat, bahwa Pemimpin yang diposisikan sebagai musuh digambarkan panik, rapuh, dan bersiap melarikan diri, sementara Barat tampil sebagai pemilik akses intelijen yang serba tahu, serba hadir, dan nyaris mahatahu.

Keselarasan semacam ini bukan kebetulan yang netral. Ini adalah pola yang telah berulang kali digunakan untuk membangun legitimasi moral dan psikologis sebelum tekanan politik, sanksi, atau intervensi dibenarkan. Dalam konteks seperti itu, kecurigaan bukanlah sikap sinis, melainkan disiplin intelektual minimum. Yang problematis justru penerimaan tanpa jarak kritis, seperti yang ditunjukkan Kompas, seolah narasi tersebut lahir dari ruang hampa, bebas kepentingan, dan steril dari sejarah panjang manipulasi informasi geopolitik.

Singkatnya, konteks bukan alat untuk menuduh, melainkan pisau analisis. Mengabaikannya bukan kehati-hatian jurnalistik, melainkan kecerobohan yang dibungkus netralitas.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan semata Iran atau Khamenei, melainkan standar nalar media. Ketika Kompas memilih berperan sebagai distributor cerita sensasional alih-alih editor yang skeptis, media tersebut sedang menurunkan perannya sendiri. Skeptisisme bukan sikap sinis, melainkan fondasi jurnalisme. Tanpanya, media berhenti berfungsi sebagai penjernih dan tabyin informasi dan berubah menjadi pengeras suara dongeng-dongeng geopolitik yang diberi label “intelijen” agar terdengar sah dan wah. []

Baca juga : KUHP Baru: Ujian Negara Hukum dan Masa Depan Perlindungan Warga