Friday , December 13 2019
Breaking News
Kepeloporan Syiah dalam Ilmu Fiqih, Merumuskan dan Menyusunnya Menjadi Kitab

Kepeloporan Syiah dalam Ilmu Fiqih, Merumuskan dan Menyusunnya Menjadi Kitab

Ketahuilah bahwasanya orang pertama yang mengarang kitab di bidang ilmu Fiqih dan merumuskannya ialah Ali ibn Abu Rafie, budak Rasulullah saw. An-Najasyi di dalam mengulas generasi pertama pengarang dari Syi’ah Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s; ”Ali ibn Abu Rafie, budak Rasulullah Saw adalah seorang Tabi’in dan pengikut setia Syi’ah. Ia memiliki hubungan persahabatan yang dekat dengan Imam Ali ibn Abi Thalib a.s.”

Ali ibn Abu Rafi’e adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib. Ia menyimpan banyak dokumen, dan menulis sebuah kitab tentang pelbagai bab Fiqih, seperti bab Wudhu, bab Salat dan bab-bab lainnya. Ia belajar pada Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Penyusunan kitab itu dilakukannya pada masa hidup sang guru yang mulia, dimulai dari bab Wudhu. Termaktub di dalamnya bahwa jika salah satu dari kalian hendak berwudhu, maka memulailah dari bagian kanan ke kiri dari badannya”.

An-Najasyi menambahkan: ”Para Ulama menghormati kitab ini. Dia (Ali bin Abu Rafie) adalah orang pertama dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Fiqih.”

Dan Jalaluddin As-Suyuthi menyatakan: “Orang pertama yang mengarang di bidang Fiqih ialah Imam Abu Hanifah.” Maksudnya ialah orang pertama dari kalangan Ahlusunnah, sebab penyusunan kitab fiqih telah dilakukan oleh Ali ibn Abu Rafie di masa hidup Imam Ali ibn Abi Thalib a.s, beberapa puluh tahun sebelum kelahiran Abu Hanifah.

Bahkan terdapat sekelompok ahli fiqih dari Syi’ah yang mengarang kitab di bidang Fiqih sebelum Abu Hanifah, seperti seorang tabi’in bernama Al-Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar dan Sa’id ibn Al-Musayyab; seorang ahli fiqih keturunan bangsa Quraisy dari Madinah, dan salah satu dari enam pakar fiqih. Sa’id wafat pada tahun 94 H. Sementara, Al-Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar wafat pada 106 H. Ini berdasarkan pendapat yang benar, Ia adalah datuk tuan kami; Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. dari pihak ibu beliau, yaitu Farwah binti Al-Qosim. Al-Qosim ini menikah dengan anak perempuan Imam Ali Zainal Abidin a.s.

Baca juga Infografis: Kepeloporan Syiah dalam Ilmu AIquran

Di samping itu, Abdullah Al-Humairi di dalam kitabnya: Qurbul Isnad, yakni tatkala ia mengulas ihwal Al-Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar dan Sa’id ibn Al-Musayyabz mengatakan: ”Kedua-duanya adalah Syi’ah.” Sementara Al-Kulaini dalam Al-Kafi, bab kelahiran Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., menukil dari Yahya ibn Jarir, bahwa Yahya mengatakan? “Berkata Abu Abdillah (Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.) bahwa Sa’id ibn Al-Musayyab, Al-Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar dan Abu Khalid Al-Kalibi termasuk dari perawi-perawi terpercaya Ali ibn Husein a.s. (Imam Ali Zainal Abidin) Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa Sa’id dan al-Qasim adalah dua hawari (sahabat dekat) Ali ibn Husain a.s.

Tentang Tokoh-tokoh Tersohor dari Fuqoha Generasi Pertama Syi’ah

Nama-nama mereka telah dicatat oleh Syeikh Abu Amr AlKasyi dalam kitabnya yang terkenal; Rijalul Kasyi, yang hidup semasa dengan Abu Ja’far Al-Kulaini; ahli hadis di abad ketiga. Al-Kasyi mengatakan: “Sekaitan dengan nama-nama fuqoha dari sahabat Imam Al-Baqir dan Imam Ash-Shadiq, para ulama telah sepakat atas derajat ilmu kaum pelopor dari sahabat-sahabat dua imam suci ini. Kepada merekalah para ulama itu merujuk dalam masalah fiqih. Mereka mengatakan bahwa yang terutama di antara mereka adalah enam sahabat Imam, yaitu Zurarah ibn A’yan, Ma’ruf ibn Kharbudz, Buraid, Abu Bashir Al-Asadi, AlFudhail ibn Yasar dan Muhammad ibn Muslim Ath-Thoifi. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang benar ialah Abu Abshir Al-Muradi, yakni Laits ibn Al-Bakhtari, bukan Abu Bashir Al-Asadi. Mereka juga mengatakan bahwa yang paling alim di antara enam sahabat“ ini ialah Zurarah.

Al-Kasyi lebih lanjut mengatakan “Mengenai nama-nama fuqoha dari sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq, para ulama telah bersepakat untuk menyatakan shahih atas hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh mereka, membenarkan apa yang mereka katakan, dan mengakui fiqih selain mereka berenam yang telah kami sebutkan di atas tadi. (Selain) mereka itu adalah enam orang; yaitu Jamil ibn Darraj, Abdullah ibn Miskan, Abdullah ibn Bakir, Hammad ibn Isa, Hammad ibn Utsman dan Aban ibn Utsman. Mereka (para ulama) juga mengatakan bahwa seorang faqih besar bernama Abu Ishaq; yaitu Tsa’labah ibn Maimun, menilai bahwa yang paling alim di antara mereka berenam ialah Jamil ibn Darraj. Enam orang itu adalah sahabat-sahabat muda Imam Ja’far Ash-Shadiq.”

Masih oleh Al-Kasyi dinyatakan: ”Mengenai nama-nama fuqaha dari sahabat Abu Ibrahim dan Abul Hasan (Imam Ali Ar-Ridha a.s.), bahwa ulama kami telah sepakat dalam menilai shahih hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mereka, membenarkan ucapan mereka serta mengakui ilmu dan fiqih mereka. Mereka itu ialah enam orang yang datang selain enam orang sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang telah kami sebutkan di atas tadi; yaitu Yunus ibn Abdurrahman, Shafwan ibn Yahya Bayya’ As-Sabiri, Muhammad ibn Abi Umair, Abdullah ibn Al-Mughirah, Al-Hasan ibn Mahbub dan Ahmad ibn Muhammad ibn Abi Bashar.

”Menurut sebagian ulama itu, yang benar bukanlah Al-Hasan ibn Mahbub, tetapi Al-Hasan ibn Ali ibn Fidhal dan Fudhalah ibn Ayyub. Sebagian mereka lagi menempatkan Utsman ibn Isa di posisi Fudhalah. Disepakati bahwa yang paling alim di antara mereka ialah Yunus ibn Abdurrahman dan Shafwan ibn Yahya”. Demikianlah kesaksian Al-Kasyi yang menjelaskan tokoh-tokoh tersohor dari fuqoha Syi’ah.

Tentang Banyaknya Jumlah Nama Faqih dari Generasi Pertama yang Mengarang Kitab Berdasarkan Mazhab Imam Ja’far ibn Muhammad Ash-Shadiq a.s

Ketika membahas ihwal Imam Ja’far Ash-Shadiq, Syeikh Abul Qosim Ja’far ibn Sa’id yang terkenal dengan gelar Muhaqqiq mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Al-Mu’tabar: ”Dia (Imam Ash-Shadiq) telah mengajar untuk kelompok besar dari ulama dan ahli fiqih terkemuka. Dari jawaban-jawaban beliau atas pelbagai persoalan yang diajukan, mereka menulis 400 kitab.”

Pada hemat saya, kitab-kitab di atas ini merupakan hasil penyusunan para ulama dan ahli fiqih tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa Syeikh Syamsuddin Muhammad ibn Makki Asy-Syahid menyatakan di awal kitab Adz-Dzikra: ”Jawaban-jawaban Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. atas masalah-masalah fiqih telah ditulis oleh 4000 orang dari warga Irak, Hijaz, Khurasan dan Syam. Nama-nama kitab mereka tercatat dalam kitab-kitab katalogia kitab Syi’ah, seperti kitab Fehrest Syeikh Abul Abbas An-Najasyi, Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Fehrest Syeikh Abul Faraj Ibnu Nadim, kitab Al’Uqaili karya Ibnu Al-Ghadhoiri.”

Pada kesempatan membahas ihwal Imam Ash-Shadiq a.s., Syeikh Mufid di dalam Al-Irsyad mengatakan: ”Begitu banyak orang yang menukil dari beliau sehingga menjadi pusat tujuan perjalanan dan menebar sanjungan kepadanya di pelbagai pelosok negeri. Para ulama tidak menimba hadis dan ilmu beliau dari salah satu anggota keluarga beliau. Para ahli hadis mencatat nama para perawi terpercaya yang meriwayatkan dari beliau, meski terdapat perbedaan pendapat di antara mereka. Jumlah mereka mencapai 4000 orang.”

Saya katakan bahwa Syeikh Abul Abbas Ahmad ibn Uqdah Az-Zaidi telah mengoleksi nama-nama tersebut sebanyak 4000 orang, lalu menghimpunnya secara terpisah di dalam sebuah kitab, sebagaimana yang dilaporkan oleh Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di awal bab ‘Sahabat-sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.’ dari kitabnya, Ar-Rijal. Untuk lebih lengkapnya, silakan merujuk!

Ayatullah Sayyid Hassan Ash-Sadr, Peradaban Syiah dan Ilmu Keislaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top